Sel, 04/08/26 · 04.30.22
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Mengenal Babi Berjenggot, Satwa Langka Penghuni Hutan Kalimantan

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 4 Agustus 2026 · 10:011 menit baca
Mengenal Babi Berjenggot, Satwa Langka Penghuni Hutan Kalimantan
Mengenal babi berjenggot (Sus barbatus), mamalia unik khas Kalimantan dengan ciri fisik janggut di rahang serta rumbai ekor mirip gajah. (Dok. rekoforest.org)

Babi berjenggot (Sus barbatus) menjadi salah satu mamalia endemik berukuran besar yang memiliki sejarah evolusi panjang di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Pulau Kalimantan.

Spesies ini terbagi dalam dua klasifikasi utama, yaitu Sus barbatus yang tersebar di Kalimantan hingga Kepulauan Sulu dan Palawan di Filipina, serta Sus barbatus oi yang mendiami wilayah Semenanjung Malaysia, Kepulauan Riau, Bangka, dan Sumatra.

Satwa nomaden tersebut dikenal memiliki daya adaptasi tinggi di berbagai bentang alam, mulai dari hutan hujan dataran rendah, kawasan mangrove pesisir, hingga hutan pegunungan pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Meski mampu bertahan di area perkebunan kelapa sawit dan hutan sekunder, populasi spesies ini terus terancam akibat konversi lahan. Ancaman pembukaan lahan tercatat telah merusak hingga 62 persen habitat alami mereka di kawasan hutan Sumatra.

Peringati Hari Mangrove Sedunia 2026, Pemprov Kaltim Tanam 12 Ribu Bibit Mangrove di Pantai Lamaru
Baca Juga

Peringati Hari Mangrove Sedunia 2026, Pemprov Kaltim Tanam 12 Ribu Bibit Mangrove di Pantai Lamaru

Secara morfologi, spesies ini dinobatkan sebagai jenis babi dengan bentuk kepala paling panjang dan tubuh paling ramping dibandingkan kerabat babi liar lainnya.

Karakteristik fisik utama satwa ini ditandai dengan munculnya rambut kaku menyerupai janggut di bagian rahang bawah, keberadaan dua pasang kutil di area wajah, serta rumbai ujung ekor yang menyerupai ekor gajah.

Secara bobot, babi jantan dewasa memiliki berat rata-rata antara 50 hingga 120 kilogram, namun ukurannya dapat melonjak melampaui 200 kilogram saat pasokan makanan di hutan melimpah.

Sementara itu, anak babi yang baru lahir dibekali corak garis-garis pucat di area punggung sebagai bentuk kamuflase alami. Corak perlindungan tersebut perlahan memudar dan hilang total saat anak babi menginjak usia lima minggu.

(Dayank Ana)