Sen, 22/06/26 · 08.22.26
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Utara

Lomba Sumpit Tradisional Jadi Perekat Kebersamaan Masyarakat Adat Dayak Kaltara

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 22 Juni 2026 · 13:052 menit baca
Lomba Sumpit Tradisional Jadi Perekat Kebersamaan Masyarakat Adat Dayak Kaltara
Lomba Sumpit Tradisional Dayak di Bulungan menjadi wadah strategis untuk mempererat silaturahmi dan menjaga eksistensi budaya leluhur masyarakat adat Kaltara. (Dok. Adpim Kaltara)

Kebudayaan menyumpit tradisional suku Dayak dinilai memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat sebagai identitas kultural di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Nilai-nilai internal dari tradisi leluhur tersebut dipandang krusial sebagai instrumen untuk menjaga kebersamaan dan persatuan masyarakat adat.

Hal tersebut mengemuka saat Pemerintah Provinsi Kaltara menghadiri kegiatan Lomba Sumpit Tradisional Dayak yang diselenggarakan di Markas Komando Brimob Batalyon A Pelopor, Bulungan. Perlombaan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 ini diikuti oleh ratusan peserta serta dihadiri oleh para tokoh adat dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kaltara.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, Safi’i, menjelaskan bahwa sumpit kini tidak hanya dipandang sebagai olahraga tradisional semata. Lebih dari itu, budaya menyumpit merepresentasikan kualitas kedisiplinan, ketenangan, ketepatan, dan fokus yang kuat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam tatanan pembangunan daerah.

“Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya sumpit dapat menjadi inspirasi dalam membangun Kalimantan Utara yang maju, harmonis, dan berdaya saing,” ujar Safi’i, Sabtu (20/6/2026).

Investasi Capai Rp11 Triliun, Kaltara Proyeksikan Jalur Kereta Api Logistik Antarnegara
Baca Juga

Investasi Capai Rp11 Triliun, Kaltara Proyeksikan Jalur Kereta Api Logistik Antarnegara

Sinergi Budaya di Wilayah Perbatasan
Safi’i menambahkan, aktivitas perlombaan seperti ini menunjukkan adanya sinergi yang berjalan baik antara pemerintah, institusi keamanan, dan masyarakat dalam menjaga eksistensi budaya lokal. Kolaborasi kultural ini dinilai sangat penting untuk menjaga kondusivitas, mengingat Kaltara berada di posisi strategis nasional sebagai wilayah perbatasan negara.

Melalui pelaksanaan kompetisi kebudayaan yang rutin, pemangku kebijakan berharap ikatan silaturahmi antar-sub suku Dayak di wilayah pedalaman dan beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat terus terjaga secara harmonis.

Para peserta lomba pun diimbau untuk selalu menjunjung tinggi nilai sportivitas sepanjang kompetisi berlangsung dan menjadikan ajang ini sebagai wadah mempererat persaudaraan.

“Yang terpenting bukan sekadar menang atau kalah, tetapi bagaimana kegiatan ini mampu mempererat kebersamaan dan menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari,” pungkas Safi’i.

Selamat Hari Bumi dari Kalbar: Ketika Masyarakat Adat Menjaga, Perhutanan Sosial Menghidupkan
Baca Juga

Selamat Hari Bumi dari Kalbar: Ketika Masyarakat Adat Menjaga, Perhutanan Sosial Menghidupkan

Agenda ini turut dihadiri secara langsung oleh Kapolda Kaltara Djati Wiyoto Abadhy, unsur Forkopimda Kaltara, serta sejumlah pemuka adat Dayak setempat.

(Hendrawan)