Rab, 05/08/26 · 15.54.23
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

GSH-MP Gandeng Tiga Pilar Cegah Ekstremisme dan Radikalisme Pelajar Singkawang

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Rabu, 5 Agustus 2026 · 21:093 menit baca
GSH-MP Gandeng Tiga Pilar Cegah Ekstremisme dan Radikalisme Pelajar Singkawang
GSH-MP menggandeng sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mencegah penyebaran ekstremisme serta radikalisme di kalangan pelajar Kota Singkawang. (Dok. GSH-MP)

Gerakan Singkawang Hebat–Menuju Perubahan (GSH-MP) menggelar sosialisasi pencegahan ekstremisme dan radikalisme di kalangan pelajar di Ruang Bumi Betuah Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu, (5/8/2026).

Kegiatan ini melibatkan guru, komite sekolah, perwakilan OSIS, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan guna memperkuat pencegahan dini di lingkungan pendidikan.

Indikasi awal perilaku ekstrem dipaparkan telah berpotensi muncul dari aksi kekerasan fisik maupun perundungan antarpelajar.

“Secara nyata tindakan ekstremisme maupun radikalisme memang belum terbukti. Namun kecenderungan ke arah perilaku ekstrem seperti tawuran sudah mulai terlihat. Indikasi-indikasinya sudah ada,” kata Ketua Panitia Pelaksana Heri Sutrisna, Rabu, (5/8/2026).

Karhutla Gambut di Parit Seruat Kubu Raya Mendekati Pemukiman dan Sekolah
Baca Juga

Karhutla Gambut di Parit Seruat Kubu Raya Mendekati Pemukiman dan Sekolah

Pencegahan sejak usia sekolah dinilai bergantung pada penguatan nilai kebangsaan serta moderasi beragama dalam kurikulum karakter.

“Pencegahan ekstremisme harus dimulai sejak usia sekolah. Pendidikan karakter yang diperkuat dengan nilai-nilai Pancasila, moderasi beragama, dan semangat kebhinekaan menjadi benteng utama agar anak-anak kita tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Safari Hamzah.

Sinergi antarlembaga sosial ditekankan sebagai syarat mutlak agar pembentukan karakter peserta didik berjalan optimal.

“Kami berharap terbangun kolaborasi yang kuat antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah sehingga mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki komitmen menjaga keutuhan NKRI,” kata Safari.

Pemprov Kalbar Luncurkan Open API Bank Kalbar dan QRIS Dinamis Pajak Daerah
Baca Juga

Pemprov Kalbar Luncurkan Open API Bank Kalbar dan QRIS Dinamis Pajak Daerah

Penyebaran narasi intoleransi dipantau semakin marak menyasar generasi muda melalui platform digital dan media sosial.

“Keberagaman adalah kekuatan bangsa, bukan alasan untuk saling membenci. Anak-anak muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian maupun ajakan yang mengarah pada radikalisme,” jelas Penggiat Kebhinekaan Roznazizi.

Penguatan tradisi dialog dan kebersamaan dinilai ampuh mempersempit ruang gerak propaganda radikal di tingkat masyarakat.

“Jika keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat berjalan bersama, ruang berkembangnya paham ekstrem akan semakin sempit. Inilah investasi kita untuk Indonesia Emas 2045,” tambah Roznazizi.

Titik awal kerawanan perilaku menyimpang anak juga diimbau agar diwaspadai dari tindakan perundungan di lingkungan pergaulan.

“Perilaku ekstrem itu bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti perundungan,” kata Kasat Binmas Polres Singkawang Budi Anggoro.

Terjebak Asap Karhutla di Ketapang, Warga Tumbang Titi Ditemukan Selamat
Baca Juga

Terjebak Asap Karhutla di Ketapang, Warga Tumbang Titi Ditemukan Selamat

Skema edukasi langsung kepada para orang tua diusulkan guna memperketat pengawasan anak di luar jam sekolah.

“Kami ingin dari pihak kepolisian dapat memberikan sosialisasi secara langsung kepada para orang tua siswa. Sebab, banyak permasalahan yang justru terjadi di luar lingkungan sekolah,” tutur Budi.

Pengawasan orang tua terhadap aktivitas malam anak dinilai masih memerlukan perhatian serius dari lingkungan keluarga.

“Anak belum pulang hingga pukul 23.00 WIB, orang tua tidak bertanya, tidak khawatir. Ini bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga tentang masa depan anak,” tegas Budi.

Usulan pengadaan forum komunikasi khusus orang tua murid disampaikan kepada pihak dinas terkait agar program pencegahan lebih efektif.

“Jika sasarannya langsung ke orang tua, saya rasa sosialisasi ini akan lebih tepat sasaran dibandingkan hanya kepada siswa,” pintanya.

Komunikasi terbuka di lingkungan rumah tangga diyakini menjadi faktor utama penentu ketahanan mental anak dari ancaman pengaruh negatif.

Bareskrim Bongkar Tindak Pidana Pencucian Uang Emas Ilegal Kalbar Senilai Rp25,8 Triliun
Baca Juga

Bareskrim Bongkar Tindak Pidana Pencucian Uang Emas Ilegal Kalbar Senilai Rp25,8 Triliun

“Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi yang hangat, terbuka, dan penuh kasih sayang cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap pengaruh negatif dari luar,” kata Psikolog Windah Ruliana.

Upaya mitigasi ditegaskan harus mengedepankan pembinaan moral sejak dini ketimbang tindakan penanganan saat kasus sudah terjadi.

“Pencegahan tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Yang paling penting adalah membangun ketahanan mental, rasa percaya diri, serta kemampuan anak dalam mengambil keputusan yang benar berdasarkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan,” tutup Windah.

(Rudi)