Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi tiga individu orangutan yang terdesak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke kebun kelapa sawit warga di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Senin, (14/9/2026).
Penyelamatan darurat yang digelar pada Sabtu (12/9/2026) tersebut menyasar sepasang induk dan anak bernama Mama Penja dan Penja di Desa Penjalaan, serta satu individu jantan dewasa bernama Kumbang di Desa Padu Banjar.
Kedua kawasan hutan desa tersebut merupakan wilayah penyangga (buffer area) utama bagi kantong populasi Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) yang tengah membara akibat kebakaran hutan. Kondisi fisik satwa yang kritis saat ditemukan di sarang kebun kelapa sawit warga transmigrasi diuraikan oleh dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sanchez.
“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujar Karmele Llano Sanchez, Senin, (14/9/2026).

Setelah dilumpuhkan memakai sumpit bius (blow dart), kedua satwa langsung diberikan resusitasi cairan infus dan bantuan oksigen sebelum dilarikan ke Pusat Rehabilitasi YIARI. Indikasi trauma fisik akibat paparan bara api gambut serta malnutrisi parah dipaparkan lebih lanjut dalam hasil pemeriksaan medisnya.
“Saat kami melakukan pemeriksaan, induk orangutan terlihat sangat dehidrasi dan pucat. Kami juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya, hingga menyebabkan kulit terkelupas. Kemungkinan luka tersebut terjadi karena orangutan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar. Kondisi giginya juga cukup memprihatinkan dan terlihat banyak mengalami pengikisan. Salah satu kemungkinan adalah karena keterbatasan pakan akibat kebakaran, sehingga orangutan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus. Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orangutan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan. Seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” tambahnya.
Diagnosis laboratorium mengonfirmasi Mama Penja menderita anemia berat yang diduga akibat kelaparan ekstrem selama berminggu-minggu sejak kebakaran melanda habitatnya dua bulan lalu. Prioritas tindakan medis untuk menyelamatkan nyawa induk dan bayinya ditegaskan kembali dalam keterangannya.
“Melihat kondisi orangutan separah ini, kami hampir tidak percaya bagaimana ia masih mampu bertahan hidup. Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada 2 bulan lalu, yang telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat. Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Saat ini, prioritas kami adalah menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi dan perawatan intensif, serta memastikan anaknya juga mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam,” jelasnya.

Pada operasi terpisah di Desa Padu Banjar, tim medis mendeteksi keberadaan microchip pada tubuh orangutan jantan bernama Kumbang yang membuktikan satwa tersebut pernah direhabilitasi dan dilepasliarkan pada 2022 silam. Perubahan perilaku satwa yang terdorong keluar rimba menuju perkampungan warga dianalisis oleh Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting.
“Kemungkinan orangutan ini yang telah dievakuasi dan dilepaskan kembali pada tahun 2022 menunjukan bahwa selama ini kondisi habitat cukup aman untuk orangutan tersebut, namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” jelas Argitoe Ranting.
Pemeriksaan stetoskop mendapati bunyi napas abnormal pada paru-paru kanan Kumbang akibat paparan kabut asap pekat karhutla, di samping temuan benda asing menyerupai peluru proyektil di tangan kanan serta bekas jerat pemburu. Urgensi penanganan medis cepat terhadap dampak karhutla pada satwa liar disoroti kembali dalam keterangannya.
“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung. Pada Mama Penja, tim menemukan luka bakar yang cukup banyak pada bagian kaki, disertai kondisi tubuh yang kurus dan tanda-tanda dehidrasi. Sementara pada Kumbang, tim menemukan kondisi kesehatan yang juga perlu mendapat perhatian, termasuk adanya suara abnormal pada paru-paru dan riwayat batuk yang mengarah pada dugaan gangguan pernapasan,” ungkapnya.
Akumulasi jumlah satwa yang terselamatkan dari bencana karhutla di Kalimantan Barat dibeberkan oleh Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, yang memimpin langsung operasi lapangan.
“Penyelamatan ketiga orangutan ini kami laksanakan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. Saat ini mereka menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang. Kami berharap mereka semua dapat segera pulih dan beradaptasi dengan baik setelah mendapatkan perawatan, sehingga nantinya dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya yang aman. Secara keseluruhan, hingga saat ini sudah ada 18 individu orangutan yang kami selamatkan akibat karhutla,” ujar Murlan Dameria Pane.

Kanal pelaporan darurat masyarakat dibuka seluas-luasnya melalui call center BKSDA Kalimantan Barat di nomor 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 guna mempercepat respons laporan satwa terlantar. Pentingnya pemantauan berkesinambungan di zona rawan perburuan dan kebakaran ditekankan oleh Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, sebagai penutup keterangannya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, mereka dapat terdorong masuk ke lanskap yang berisiko bagi keselamatan dan kesehatannya. Karena itu, pemantauan dan respons cepat di lapangan menjadi sangat penting untuk mencegah kondisi satwa memburuk dan memastikan mereka dapat segera mendapatkan penanganan yang sesuai,” tutup Silverius Oscar Unggul.
(Tony)