Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Lingkungan

Karhutla Meluas di Papua Selatan, Ratusan Hektare Lahan Terbakar Ancam Habitat Satwa Endemik dan Burung Migran

Roska Putra
Roska Putra
Selasa, 3 November 2026 · 15:211 menit baca
Karhutla Meluas di Papua Selatan, Ratusan Hektare Lahan Terbakar Ancam Habitat Satwa Endemik dan Burung Migran
Tim gabungan berjibaku melakukan pemadaman di area lahan dan hutan yang terdampak kebakaran di Papua Selatan. (Dok. X/@jenostalker)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Papua Selatan tidak hanya menimbulkan kepulan asap dan kerusakan vegetasi, tetapi juga membawa ancaman serius terhadap kelangsungan keanekaragaman hayati serta habitat satwa endemik.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas area yang terbakar di Papua Selatan telah mencapai 695 hektare.

Dari pemantauan tersebut, tercatat sebanyak 379 titik panas (hotspot) dan 171 titik api, dengan sekitar 253 hektare di antaranya masih berstatus belum padam.

Kondisi ini memicu kekhawatiran ekologis mendalam mengingat Papua memiliki berbagai tipe ekosistem unik, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, savana, hingga lahan basah yang menjadi tempat hidup berbagai satwa khas.

BNPB Jajaki Kerja Sama Malaysia dalam Penanganan Karhutla
Baca Juga

BNPB Jajaki Kerja Sama Malaysia dalam Penanganan Karhutla

Salah satu kawasan vital yang terdampak ancaman ini adalah Taman Nasional (TN) Wasur di Kabupaten Merauke yang memiliki luas sekitar 431.425 hektare.

Kawasan konservasi yang memadukan ekosistem rawa, savana, dan hutan ini dihuni oleh 403 spesies burung, di mana 74 spesies merupakan burung endemik Papua dan sekitar 114 spesies termasuk satwa dilindungi.

Selain itu, TN Wasur juga berfungsi sebagai lokasi persinggahan penting bagi ribuan burung migran dari Australia dan Selandia Baru yang melintasi lintas negara untuk mencari makan dan beristirahat.

Dampak kebakaran dikhawatirkan merusak struktur habitat, mengurangi ketersediaan pakan, serta menghilangkan tempat berlindung dan berkembang biak bagi satwa.

BNPB Rilis Laporan Bencana Hidrometeorologi Basah dan Kebakaran TPA
Baca Juga

BNPB Rilis Laporan Bencana Hidrometeorologi Basah dan Kebakaran TPA

Satwa dengan wilayah jelajah terbatas atau spesialis habitat dinilai paling rentan menghadapi risiko penyempitan ruang hidup akibat kerusakan lingkungan ini.

Melihat kompleksitas dampak ekologis tersebut, penanganan karhutla di Papua Selatan dinilai perlu segera diikuti dengan pemantauan ekosistem secara berkelanjutan, perlindungan ketat terhadap sisa habitat satwa, serta upaya restorasi vegetasi secara menyeluruh.

(roska)