Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Papua Selatan tidak hanya menimbulkan kepulan asap dan kerusakan vegetasi, tetapi juga membawa ancaman serius terhadap kelangsungan keanekaragaman hayati serta habitat satwa endemik.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas area yang terbakar di Papua Selatan telah mencapai 695 hektare.
Dari pemantauan tersebut, tercatat sebanyak 379 titik panas (hotspot) dan 171 titik api, dengan sekitar 253 hektare di antaranya masih berstatus belum padam.
Kondisi ini memicu kekhawatiran ekologis mendalam mengingat Papua memiliki berbagai tipe ekosistem unik, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, savana, hingga lahan basah yang menjadi tempat hidup berbagai satwa khas.
