Jum, 19/06/26 · 09.53.27
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

BNPB Rilis Data Bencana: 3 Tewas Akibat Gempa Sulteng, Banjir dan Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah

Hendrawan
Hendrawan
Jumat, 19 Juni 2026 · 14:303 menit baca
BNPB Rilis Data Bencana: 3 Tewas Akibat Gempa Sulteng, Banjir dan Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah
Rangkuman bencana BNPB 19 Juni 2026: Korban jiwa gempa Sulteng capai 3 orang, banjir landa Boalemo dan Lubuklinggau, serta kekeringan meluas di Pasuruan. (Dok. BPBD Kota Lubuklinggau)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis rangkuman mutakhir mengenai rentetan kejadian bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode pemantauan 18 hingga 19 Juni 2026. Berdasarkan data resmi tersebut, Indonesia saat ini menghadapi dualisme bencana, di mana korban jiwa akibat bencana geologi terus bertambah di saat bencana hidrometeorologi basah dan kekeringan melanda secara bersamaan.

Perkembangan mutakhir dari dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah mencatat total korban meninggal dunia kini mencapai 3 jiwa. Selain korban tewas, otoritas penanggulangan bencana mengonfirmasi sebanyak 17 jiwa mengalami luka berat dan 101 jiwa mengalami luka ringan.

Bencana geologi yang terjadi pada tengah pekan tersebut berdampak pada empat wilayah administrasi, meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Donggala.

Total kerugian material di sektor pemukiman di empat wilayah terdampak tersebut tercatat mencapai 1.995 unit rumah rusak ringan, 147 unit rumah rusak sedang, dan 73 unit rumah rusak berat. Gempa bumi ini dilaporkan juga merusak sejumlah fasilitas umum, gedung pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, serta infrastruktur bangunan lainnya.

BNPB Catat Rentetan Bencana Hidrometeorologi di Tiga Wilayah Per 18 Juni 2026
Baca Juga

BNPB Catat Rentetan Bencana Hidrometeorologi di Tiga Wilayah Per 18 Juni 2026

Guna mempercepat pemulihan, Kepala BNPB Suharyanto telah turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan efektivitas penanganan darurat. Pihak BNPB juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa tenda pengungsi, tenda keluarga, matras, selimut, kasur lipat, dan paket sembako. Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiap wilayah masih terus melakukan penanganan di lapangan serta pemutakhiran data korbannya.

Banjir Bandang di Gorontalo dan Sumatera Selatan
Di sektor bencana hidrometeorologi basah, hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, pada Kamis (18/6/2026) pukul 12.30 WITA. Banjir tersebut menerjang Desa Diloato di Kecamatan Paguyuman, serta Desa Harapan, Mekar Jaya, dan Bongo Tua di Kecamatan Wonosari.

Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD setempat, banjir luapan ini berdampak pada 172 kepala keluarga (KK) atau setara 486 jiwa. Dampak kerugian material yang teridentifikasi mencakup 155 unit rumah warga, serta masing-masing satu unit kantor pemerintah dan fasilitas pendidikan. Meski banjir dilaporkan telah berangsur surut pada hari yang sama, luapan air menyisakan tumpukan material sampah yang tebal di lokasi pemukiman.

Sementara itu, banjir akibat hujan lebat berdurasi lama juga merendam Kelurahan Muara Enim di Kecamatan Lubuklinggau Barat, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, pada Kamis (18/6/2026) dini hari pukul 03.00 WIB. Pihak BPBD melaporkan genangan air telah surut pada hari yang sama setelah berdampak pada 15 KK atau 42 jiwa warga setempat.

Satu Warga Meninggal dan Puluhan Luka Akibat Gempa Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah
Baca Juga

Satu Warga Meninggal dan Puluhan Luka Akibat Gempa Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah

Ancaman Kekeringan Mulai Meluas di Jawa Timur
Sebaliknya, fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dilaporkan mulai memicu kelangkaan air bersih dan kekeringan di beberapa titik di Pulau Jawa. Kasus kekeringan terbaru dilaporkan terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, pada Kamis (18/6/2026) pukul 07.30 WIB.

Krisis air bersih akibat kemarau di wilayah tersebut berdampak langsung pada populasi sebanyak 211 KK. Merespons kondisi kedaruratan tersebut, petugas BPBD Kabupaten Pasuruan dilaporkan telah mulai mendistribusikan pasokan air bersih secara bertahap menggunakan mobil tangki kepada para warga terdampak.

Melihat perkembangan situasi ini, BNPB mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan berlapis. Warga yang wilayahnya mulai memasuki musim kemarau diminta untuk lebih bijak dalam memanfaatkan cadangan air.

Sedangkan untuk wilayah yang masih berpotensi menghadapi bahaya hidrometeorologi basah, masyarakat diminta melakukan langkah mitigasi mandiri secara berkala. “Melakukan langkah kesiapsiagaan, di antaranya memantau secara periodik informasi cuaca dari sumber resmi pemerintah,” tulis pihak BNPB dalam rilis resminya.

(Hendrawan)