Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Nasional

Dentuman Menggema dari Anak Krakatau, Status Naik Siaga Level III

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Sabtu, 5 September 2026 · 09:263 menit baca
Dentuman Menggema dari Anak Krakatau, Status Naik Siaga Level III
Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan mengalami erupsi menerus disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari, Sabtu (5/9/2026). (Dok. Tangkapan layar/Tiktok @GRGarage)

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB tersebut disertai dentuman dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunungapi untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif.

Kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian pemerintah. Kekhawatiran ini tidak lepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas gunung tersebut.

Namun, berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi Desember 2018 masih relatif kecil dan dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Atas dasar itu, masyarakat diimbau untuk tidak panik.

Tangani Karhutla, Pemprov Jambi Perkuat Sekat Bakar dan Pendinginan Lahan Gambut
Baca Juga

Tangani Karhutla, Pemprov Jambi Perkuat Sekat Bakar dan Pendinginan Lahan Gambut

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung. Masyarakat diminta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG, serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar.

Berdasarkan laporan aktivitas periode pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 00.00–06.00 WIB, erupsi masih berlangsung dan secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari. Gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III, sementara asap kawah tidak teramati.

Kamera CCTV pemantauan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik. Kondisi cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III (Siaga). PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah
Baca Juga

Masuk Musim Kemarau, BNPB Pantau Sebaran Karhutla dan Krisis Air di Lima Daerah

BNPB bersama PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menekankan bahwa kewaspadaan perlu berjalan beriringan dengan ketenangan. Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tidak perlu panik terhadap isu tsunami, namun tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi.

Dalam menghadapi aktivitas erupsi ini, BNPB menekankan tiga hal utama:

1. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait perlu memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya, dengan memperkuat pengawasan dan patroli di kawasan tersebut.

2. Peningkatan kesiapsiagaan.

Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait diharapkan memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila diperlukan langkah evakuasi.

3. Kewaspadaan masyarakat dan kepatuhan pada arahan petugas.

Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunungapi hanya untuk menyaksikan atau mendokumentasikan erupsi, serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, termasuk soal potensi tsunami, karena berpotensi menimbulkan kepanikan.

Udara Palembang Sangat Tidak Sehat, BNPB Kerahkan 11 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla Sumsel
Baca Juga

Udara Palembang Sangat Tidak Sehat, BNPB Kerahkan 11 Ribu Personel Gabungan Tangani Karhutla Sumsel

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG turut melakukan evaluasi berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunungapi.

Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, BNPB, serta kanal resmi kebencanaan lainnya.

(Achmad)