Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada bersama PT Hutan Ketapang Industri memperkuat sinergi strategis dalam restorasi lingkungan dan pengelolaan hutan berkelanjutan. Kolaborasi yang berfokus pada pemulihan kawasan ini diresmikan melalui Forum Penguatan Kolaborasi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (23/10/2026).
Kemitraan yang telah dirajut sejak 2019 tersebut kini diarahkan untuk menjawab tantangan pemulihan ekologis berbasis sains di Kalimantan Barat. Berdasarkan rekomendasi Fakultas Kehutanan UGM, proses revegetasi pada areal terdampak tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan harus diawali dengan pemeriksaan kondisi tapak (site assessment) secara komprehensif.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dwiko Budi Permadi, menegaskan bahwa pemulihan lingkungan pascakarhutla wajib berlandaskan pada riset ilmiah dan pendekatan ekologis yang presisi agar dampaknya terukur secara jangka panjang.
“Kolaborasi antara Fakultas Kehutanan UGM dan PT Hutan Ketapang Industri (HKI) yang telah terjalin sejak Tahun 2019 merupakan bentuk sinergi penting antara dunia akademik dan dunia usaha dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan,” ujar Dwiko.
Ia menambahkan, keterlibatan institusi pendidikan tinggi krusial untuk memastikan standar restorasi berjalan efektif, mulai dari pemilihan jenis tanaman seperti belangiran, pulai, mahoni, hingga gaharu hingga penguatan tata kelola hutan yang bertanggung jawab.
“Kami memandang bahwa upaya pemulihan lingkungan pasca kebakaran hutan dan lahan perlu didukung oleh kajian ilmiah, pendekatan ekologis yang tepat, serta pemantauan berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memberikan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan agar proses restorasi dan rehabilitasi dapat berjalan secara efektif dan terukur,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT HKI, Hero Djajakusumah, menyatakan komitmen perusahaannya untuk menyeimbangkan pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui penerapan prinsip perbaikan berkelanjutan. Pihaknya menggandeng kalangan akademisi agar langkah mitigasi dan pemulihan di lapangan tepat sasaran.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya HKI untuk mendorong keterlibatan aktif kalangan Akademisi dalam memberikan kajian ilmiah, rekomendasi teknis, serta pendampingan terhadap upaya pemulihan lingkungan pasca karhutla,” ungkap Hero.

Ia memaparkan bahwa persiapan pemulihan lingkungan tersebut mencakup penyediaan bibit unggul lokal serta penyiapan jalur tanam yang disesuaikan dengan karakteristik tanah. Langkah ini dinilai mendesak untuk memulihkan fungsi ekologis dan tutupan vegetasi secara terukur.
“Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan data lapangan diharapkan dapat memastikan bahwa langkah pemulihan dilakukan secara tepat sasaran, terukur, dan sesuai dengan kondisi ekologis masing-masing lokasi,” pungkasnya.
Melalui sinergi ini, HKI dan Fahutan UGM berkomitmen mengembangkan mekanisme pemantauan serta evaluasi berkala guna memastikan keberhasilan restorasi ekosistem, sekaligus memperkuat diseminasi data objektif bagi perbaikan tata kelola kehutanan nasional ke depan.
(Hendrawan)