Di tengah kepanikan dan reruntuhan pascagempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8), anak-anak di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Nusa Tenggara Timur, menjadi kelompok paling rentan yang terpapar trauma.
Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, turun langsung meninjau lokasi pengungsian pada Rabu (19/8).
Selain mengevaluasi kerusakan infrastruktur dan memastikan percepatan dana perbaikan rumah sebesar Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, serta hunian tetap bagi rusak berat Kepala BNPB memberikan perhatian khusus pada kondisi psikologis anak-anak penyintas.
Di tengah keterbatasan tenda darurat, ia menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung serta menyerahkan bingkisan berupa makanan ringan dan mainan sebagai bentuk dukungan moril agar mereka tetap merasa diperhatikan dan dapat melewati masa sulit pascagempa dengan lebih tenang.
