Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Fahutan Untan dan PT HKI Perpanjang Kerja Sama Konsesi PT HKI Restorasi Ekosistem Pasca Kebakaran

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 23 September 2026 · 21:192 menit baca
Fahutan Untan dan PT HKI Perpanjang Kerja Sama Konsesi PT HKI Restorasi Ekosistem Pasca Kebakaran
Fahutan Untan dan PT HKI perpanjang kerja sama 5 tahun untuk restorasi ekosistem konsesi pasca-karhutla; fokus pada buffer zone dan tanam pohon endemik non-sawit. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura mengambil langkah strategis dalam merespons ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta anomali iklim El Nino di Kalimantan Barat. Melalui pertemuan resmi Untan dan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Hutan Ketapang Industri (HKI) sepakat memperpanjang kerja sama lima tahun ke depan di Aula Bungur, Kampus Baru Fakultas Kehutanan Untan, pada Rabu (23/9/2026).

Kesepakatan ini tidak sekadar berfokus pada administratif akademik, melainkan merancang intervensi ekologis menyeluruh di area konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) karet milik PT HKI. Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Farah Diba, menegaskan bahwa akademisi harus turun tangan memberikan solusi konkret pasca-rentetan kejadian kebakaran lahan yang melanda kawasan tersebut.

“Jadi dengan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan, di kawasan ini tentu kita sebagai akademisi sangat penting untuk berpartisipasi dan memberikan solusi,” tegas Farah Diba.

Sebagai langkah taktis pemulihan sistem keamanan investasi dan lingkungan, Untan menawarkan skema pemetaan berlapis. Skema pertama adalah penetapan ‘Zona Satu’ pada daerah rawan api sebagai prioritas penempatan sarana prasarana pemadaman cepat. Kedua, penerapan zona penyangga (buffer zone) untuk membarikade area produktif.

Dorong Daya Saing Pelaku Usaha Daerah, Formajakon Kalbar Inisiasi Raperda Jasa Konstruksi
Baca Juga

Dorong Daya Saing Pelaku Usaha Daerah, Formajakon Kalbar Inisiasi Raperda Jasa Konstruksi

“Di sekitar dari pohon-pohon karet tersebut kita harus punya satu zona-zona penyangga sehingga api tidak cepat menjalar ke kawasan produktif dari PT HKI. Dan ini juga penting supaya aspek keamanan dan produktivitas tetap berlanjut,” jelasnya menyoroti kerentanan aset ekologis dan ekonomi.

Lebih jauh, intervensi Untan menyentuh akar permasalahan sosial kehutanan. Melalui program Kampus Berdampak, akademisi dan mahasiswa akan diterjunkan untuk mengubah paradigma ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Farah merumuskan negasi tegas terkait aktivitas warga: masyarakat dilarang keras melakukan ekstraksi destruktif.

“Masyarakat kita arahkan untuk tidak ekstraksi, tidak memanen, tidak menebang, tidak membakar, tapi memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang ada di kawasan konsesi untuk kehidupannya sehari-hari. Salah satunya contohnya tadi adalah madu kelulut,” papar Farah.

Izin Dibekukan Imbas Karhutla, PT HKI Gandeng Fakultas Kehutanan Untan Pulihkan Lahan Konsesi
Baca Juga

Izin Dibekukan Imbas Karhutla, PT HKI Gandeng Fakultas Kehutanan Untan Pulihkan Lahan Konsesi

Pendekatan kesejahteraan dan edukasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dinilai menjadi kunci pengamanan hutan jangka panjang. Farah meyakini, masyarakat yang sejahtera secara ekonomi akan otomatis menjelma menjadi benteng pelindung hutan, sedangkan kemiskinan di sekitar konsesi justru memicu perusakan. Secara makro, kolaborasi ini juga memprioritaskan pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan tata air ekosistem yang krusial dalam menghadapi krisis iklim. 

“Kalau DAS-nya terganggu, tentu ekosistem terganggu. Apalagi sekarang El Nino. Makin banyak manusia yang tidak ramah dengan alam, El Nino ini bisa terjadi lagi,” peringatnya.

Sebagai penutup rumusan restorasi, area bekas terbakar di dalam konsesi PT HKI tidak akan dibiarkan terbengkalai, namun akan direstorasi menggunakan bibit endemik Kalimantan Barat seperti Meranti (Dipterocarpaceae) dan Tengkawang, serta tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) yang menghasilkan buah bernilai ekonomis bagi warga seperti durian, jengkol, dan petai.

Farah Diba menutup pemaparannya dengan satu garis demarkasi yang tegas terkait jenis tanaman restorasi. 

“Tapi bukan sawit, itu yang jelas,” pungkasnya.

(Hendrawan)