Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Hampir Dua Bulan Karhutla, DPRD Kalbar Gelar RDPU Tahap Pertama Evaluasi Penanganan Bencana

Hendrawan
Hendrawan
Selasa, 15 September 2026 · 00:122 menit baca
Hampir Dua Bulan Karhutla, DPRD Kalbar Gelar RDPU Tahap Pertama Evaluasi Penanganan Bencana
DPRD Kalbar gelar RDPU karhutla, cecar pihak eksekutif terkait transparansi rincian alokasi anggaran penanganan bencana senilai total Rp60 miliar. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Barat menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) tahap pertama untuk mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan serta krisis kabut asap yang melanda wilayah Kalbar selama satu setengah bulan terakhir. Forum yang berlangsung di Ruang Rapat Meranti DPRD Kalbar pada Senin (14/9/2026) ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat sipil, akademisi, hingga mahasiswa guna menyerap aspirasi publik sebelum bertemu jajaran eksekutif.

Wakil Ketua DPRD Kalbar, Prabasa Anantatur, menegaskan bahwa seluruh pihak harus berfokus pada solusi ketimbang saling menyalahkan atas bencana ekologis yang berulang. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menuntaskan krisis ini.

“Harapan saya tentunya ya selaku pimpinan DPRD yang melihat situasi kita menghadapi karhutla, jangan saling menyalahkan. Baik itu dinas yang terkait dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun sampai ke pusat. Semua sudah berbuat untuk sama-sama kita memadamkan api. Cuma barangkali yang tadi ingin kita kolaborasikan gimana nih langkah ke depan yang paling baik,” ujar Prabasa seusai rapat.

Sorotan utama dalam RDPU ini tertuju pada alokasi anggaran penanganan karhutla sebesar Rp60 miliar terdiri dari Rp20 miliar APBD Perubahan Kalbar dan Rp40 miliar dana pemerintah pusat. DPRD Kalbar mendesak pihak eksekutif untuk membeberkan secara rinci penyerapan dana jumbo tersebut agar tepat sasaran dan tidak sekadar habis untuk aksi pemadaman di lapangan.

MLH Muhammadiyah Kalbar Desak Status Bencana Nasional Tangani Multikrisis Karhutla
Baca Juga

MLH Muhammadiyah Kalbar Desak Status Bencana Nasional Tangani Multikrisis Karhutla

“Kita semangatnya tuh udah samalah dengan pihak eksekutif, harus cepat menyelesaikan perubahan anggaran ini. Cuma penjabarannya besok kami ingin tanya, karena kita mau cepat-cepat mengevaluasi ini. Kalau tidak cepat, nanti susah. Masyarakat di lapangan perlu alat kelengkapan yang betul-betul memadai. Uraian Rp60 miliar tuh untuk apa saja, itu yang harus jadi bahan pertanyaan,” tegas Prabasa.

Selain transparansi anggaran, RDPU juga menyoroti hilangnya resapan air alami di perkotaan akibat pembangunan infrastruktur yang tak berwawasan lingkungan. Prabasa menyinggung hilangnya waduk dan penyempitan parit di Pontianak yang memperparah krisis air bersih saat kemarau tiba.

“Akibat dari asap ini kan kita kekurangan air. Dulu zaman saya kecil ada air tawar yang dibuat waduk, sekarang waduknya udah ndak ada lagi, udah tertimbun. Parit-parit kita dulu besar, sekarang jalan harus lebar, akhirnya parit pun dah ndak ada. Ini akibat dari perkembangan zaman,” ungkapnya.

Rangkaian aspirasi dan kritik masyarakat sipil tersebut termasuk desakan penetapan status bencana nasional akan ditagihkan DPRD Kalbar kepada jajaran eksekutif dan aparat penegak hukum dalam RDPU tahap kedua pada Selasa (15/9/2026).

Kualitas Udara Memburuk, Gubernur Kalbar Didesak Minta Penetapan Bencana Nasional
Baca Juga

Kualitas Udara Memburuk, Gubernur Kalbar Didesak Minta Penetapan Bencana Nasional

“Besok kita khusus mengundang pihak eksekutif dan yudikatif. Lintas Komisi I sampai V akan mengadakan rapat kerja untuk meminta penjelasan atas masukan masyarakat hari ini,” pungkas Prabasa.

(Hendrawan)