Sen, 29/06/26 · 07.31.18
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Senin, 29 Juni 2026 · 10:512 menit baca
Hari Berkabung Daerah, Wali Kota Pontianak Minta Sejarah Peristiwa Mandor Dirawat
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menginstruksikan OPD untuk mendata keturunan korban Peristiwa Mandor guna merawat literasi sejarah lokal dari kelupaan generasi. (Dok. Prokopim Pontianak)

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, meminta jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan organisasi perangkat daerah terkait untuk aktif melakukan penelusuran sejarah serta pendataan keturunan korban Peristiwa Mandor. Upaya dokumentasi dan literasi publik ini dinilai krusial agar sejarah kelam masa pendudukan Jepang tersebut tidak hilang dari ingatan generasi penerus.

Hal tersebut ditegaskan Edi usai memimpin Upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026) pagi. Peringatan yang jatuh setiap tanggal 28 Juni ini ditujukan untuk mengenang genosida yang menewaskan para tokoh, cendekiawan, pemimpin daerah, hingga masyarakat sipil oleh penjajah Jepang antara tahun 1941 hingga 1945.

Sebut Banyak Generasi Muda Belum Paham Sejarah Lokal
Edi menilai peringatan tahunan ini tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial. Ia meyakini masih banyak masyarakat, terutama generasi saat ini, yang belum sepenuhnya memahami detail objektif dari tragedi pembantaian massal tersebut.

BMKG Prediksi El Nino Bertahan Hingga 2027, Pemkot Pontianak Perketat Patroli Lahan Gambut
Baca Juga

BMKG Prediksi El Nino Bertahan Hingga 2027, Pemkot Pontianak Perketat Patroli Lahan Gambut

“Tentunya masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang,” ujar Edi.

Ia memaparkan bahwa pada masa pendudukan Jepang, para tokoh penting dari Kalimantan Barat ditangkap secara sistematis untuk dieksekusi.

“Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh,” jelasnya.

Edi menambahkan, pembuktian sejarah tersebut dapat dilihat langsung di kawasan hutan Mandor yang memuat kompleks makam massal. Komitmen penelusuran sejarah ini dinilai mendesak karena ikatan genealogis korban masih terhubung dengan generasi sekarang.

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura
Baca Juga

Sasar Swasembada, Lahan Gambut Pontianak Utara Dipertahankan Jadi Sentra Hortikultura

“Saya tahun kemarin hadir di sana, melihat beberapa makam massal di Mandor. Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada,” ungkap Edi.

Konstruksi Demografi Pontianak Era 1941
Dalam penjelasannya, Edi memberikan gambaran mengenai kondisi demografi dan spasial Kota Pontianak pada era paruh waktu perang dunia kedua tersebut yang berbanding terbalik dengan kondisi mutakhir. Keterbatasan infrastruktur dan sebaran populasi yang sedikit menjadi faktor pemudah bagi tentara penjajah dalam melacak target operasi.

“Kita bayangkan tahun 1941 Kota Pontianak seperti apa. Penduduknya mungkin belum sampai 100 ribu, jalan juga masih banyak jalan tanah. Jadi mencari orang waktu itu lebih mudah,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mendorong organisasi perangkat daerah terkait untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat literasi publik terkait narasi sejarah lokal tersebut.

Konversi Nilai Patriotisme Melalui Kerja Birokrasi
Lebih lanjut, Edi menekankan bahwa esensi dari peringatan Hari Berkabung Daerah saat ini harus dikonversi ke dalam bentuk kerja nyata birokrasi, bukan lagi dengan mengangkat senjata. ASN dan seluruh elemen perangkat daerah dituntut mengadopsi nilai keberanian para tokoh terdahulu untuk menyelesaikan persoalan riil di tengah masyarakat.

“Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat,” tegas Edi.

Hari Berkabung Daerah, Pemkot Pontianak Imbau Warga Kibarkan Bendera Setengah Tiang 28 Juni
Baca Juga

Hari Berkabung Daerah, Pemkot Pontianak Imbau Warga Kibarkan Bendera Setengah Tiang 28 Juni

Ia merinci, tantangan kontemporer yang harus diintervensi oleh jajaran pemkot meliputi penuntasan angka kemiskinan, pengangguran, pembenahan sektor pendidikan, akses kesehatan, keterlantaran, hingga dinamika sosial lainnya.

“Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat,” pungkasnya.

(Dayank Ana)