Pemerintah Kota Pontianak memperketat langkah mitigasi menyusul rilis data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal tahun 2027. Pengawasan intensif difokuskan pada kawasan lahan gambut perkotaan guna mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta risiko gagal panen.
Rencana taktis tersebut dipaparkan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).
Puncak Kemarau Diprediksi Lebih Kering
Berdasarkan analisis resmi BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diproyeksikan berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan karakteristik iklim yang lebih kering dan panjang dibanding kondisi normal. BMKG melansir peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampak signifikan di Indonesia diperkirakan terjadi saat fenomena ini berinteraksi dengan periode kemarau hingga pertengahan Oktober.
Wali Kota Pontianak, Edi, menyatakan bahwa fluktuasi cuaca ekstrem ini harus direspons secara cepat karena berkorelasi langsung pada stabilitas sektor pangan dan keamanan wilayah.
