Mobil tangki Damkar Pontianak Timur mengangkut pasokan air bersih untuk RSU YARSI Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)
Menipisnya ketersediaan air bersih akibat kemarau panjang dan fenomena El Niño di Kalimantan Baratmulai berdampak serius terhadap pelayanan fasilitas kesehatan di Kota Pontianak, Sabtu (19/9/26).
Rumah Sakit Umum (RSU) YARSI Pontianak menerima bantuan pengagihan air bersih melalui kerja sama jaringan kemanusiaan demi memastikan pelayanan medis, khususnya perawatan hemodialisis atau cuci darah, tetap beroperasi secara optimal.
Kebutuhan harian air bersih di RSU YARSI Pontianak mencapai sekitar 8.000 liter per hari.
Sebelum bantuan bergerak, pihak rumah sakit terpaksa mengeluarkan biaya hingga Rp2,5 juta per hari dengan akumulasi pengeluaran mencapai Rp52 juta untuk membeli air bersih.
Ketua YARSI, Suhadi, bergerak cepat menggalang komunikasi dengan pelbagai pihak setelah stok air di rumah sakit mulai terancam habis.
Ketua YARSI Suhadi yang menginisiasi kolaborasi penanganan krisis air bersih RSU YARSI Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)
“Kami dari Rumah Sakit YARSI memerlukan air bersih karena stok sudah menipis,” ujar Suhadi saat menyampaikan permohonan darurat untuk kebutuhan para pasien.
Menurutnya, ketersediaan air bersih di rumah sakit merupakan hal yang tidak dapat ditangguhkan, terutama untuk fasilitas pengolahan reverse osmosis (RO) bagi pasien cuci darah.
Setiap pasien hemodialisis membutuhkan sedikitnya 300 liter air RO dalam satu kali proses perawatan.
Perwakilan Damkar Pontianak Timur, Arief Suryono, menegaskan kesiapan armadanya dalam mendistribusikan air bersih secara langsung demi mendukung operasional rumah sakit.
“Armada tangki disiapkan dan langsung bergerak membawa air bersih untuk memastikan kebutuhan RSU YARSI Pontianak terpenuhi tanpa menunda pelayanan pasien,” tegas Arief Suryono.
Sementara itu, Ketua ICMI Orwil Kalbar, Gusti Hardiansyah, menilai aksi tanggap darurat ini sebagai bentuk tata kelola adaptif (adaptive governance) dan kepedulian sosial yang nyata di tengah ancaman bencana kekeringan.
“Bencana tidak pernah membaca struktur organisasi kita. El Niño, kemarau, karhutla, dan gangguan air baku bertemu pada satu titik yang sama: manusia yang membutuhkan air,” tegas Gusti Hardiansyah.
Gusti Hardiansyah menambahkan, pengalaman krisis air di RSU YARSI harus menjadi momentum untuk memetakan kebutuhan air bersih bagi kelompok rentan, seperti pasien rumah sakit, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas di seluruh wilayah Kalimantan Barat.