Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Kalimantan Selatan terus memperlihatkan pertumbuhan nilai kapitalisasi. Berdasarkan data operasional Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalimantan Selatan hingga 23 Juni 2026, akumulasi modal bersubsidi yang terserap pasar telah menyentuh angka Rp2,53 triliun, atau setara dengan 49,13 persen dari target tahunan sebesar Rp5,15 triliun. Alokasi stimulus likuiditas ini tercatat disalurkan kepada 35.194 debitur di seluruh kabupaten dan kota di wilayah Kalsel.
Indikator Debitur Naik Kelas dan Tren Mikro
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, memaparkan bahwa meskipun secara volume jumlah debitur mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu, nilai total nominal penyaluran justru tumbuh 0,54 persen. Pergeseran data ini mengindikasikan struktur pelaku usaha mikro di daerah mulai berkembang secara kapasitas usaha.
“Tren ini menunjukkan adanya debitur yang naik kelas. Di sisi lain, lembaga penyalur juga menerapkan prinsip kehati-hatian atau selective lending untuk menjaga kualitas kredit,” urai Catur Ariyanto Widodo pada Rapat Koordinasi di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Selasa (30/6/2026).
Berdasarkan klasifikasi postur kredit, Skema Mikro memegang porsi dominan dengan serapan mencapai Rp1,64 triliun atau berkontribusi di atas 64 persen dari total alokasi dana. Ditinjau dari kluster lapangan usaha, sektor pertanian mencatatkan penyerapan tertinggi sebesar Rp889,49 miiliar atau sekitar 35 persen, linier dengan arah kebijakan mitigasi ketahanan pangan.

