Populasi pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) di Kalimantan Timur berada dalam kondisi kritis akibat ancaman krisis ekologi dan degradasi habitat perairan sungai.
Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat jumlah mamalia air tawar endemik tersebut kini hanya tersisa 62 ekor di sepanjang perairan Sungai Mahakam.
Tingginya angka kematian mamalia langka ini dipicu oleh aktivitas penangkapan ikan menggunakan jaring rengge, lalu lintas kapal ponton batu bara, hingga pencemaran perairan akibat aktivitas industri.
“Masyarakat Kutai percaya dengan kisah dulu, memang mamalia ini dianggap keramat. Jadi warga di Hulu Sungai Mahakam juga menjaga mereka,” ujar mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar Trigunajasa, Rabu, (29/7/2026).

