Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Ambil Air Bersih Saat Kemarau, Empat Warga Ketapang Tewas di Lubang Tambang Ilegal

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Senin, 7 September 2026 · 10:312 menit baca
Ambil Air Bersih Saat Kemarau, Empat Warga Ketapang Tewas di Lubang Tambang Ilegal
Empat warga Nanga Tayap Ketapang tewas kehabisan oksigen di dalam lubang bekas tambang ilegal saat berupaya menyedot air bersih di tengah kemarau. (Dok. Polres Ketapang)

Empat warga Kecamatan Nanga Tayap tewas di dalam lubang bekas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Rawangan Kecil, Desa Persiapan Bayangan, Kabupaten Ketapang, saat berupaya menyedot air bersih di tengah krisis kemarau, Minggu, (6/9/2026).

Para korban yang teridentifikasi berinisial SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21) merupakan warga Dusun Bayangan, Desa Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap.

Kepastian mengenai keberadaan korban di lokasi murni untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian dan bukan melakukan kegiatan penambangan emas ditegaskan oleh Kapolsek Nanga Tayap, Martin Nababan.

“Peristiwa bermula saat para korban bersama seorang saksi bernama Parida (istri SAH) mendatangi lubang bekas PETI. Mereka bermaksud mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi kemarau membuat sumber air di wilayah tersebut semakin sulit diperoleh,” ucap Martin Nababan, Minggu, (6/9/2026).

Dampak Kemarau, Brimob Salurkan Air Bersih bagi Warga Ketapang
Baca Juga

Dampak Kemarau, Brimob Salurkan Air Bersih bagi Warga Ketapang

Langkah korban memasang mesin pompa air ke bagian dasar lubang akibat keterbatasan panjang selang dijelaskan lebih lanjut dalam keterangannya.

“Setelah mesin berhasil diturunkan, air mulai mengalir dan ditampung menggunakan terpal,” jelas Martin Nababan.

Kondisi kritis bermula saat operator mesin di dasar lubang tiba-tiba kehilangan kesadaran yang diduga kuat akibat kekurangan suplai oksigen. Tiga rekan lainnya yang berniat memberikan pertolongan justru ikut terjebak dan mengalami kondisi serupa satu per satu hingga seluruhnya tak berdaya di dasar lubang galian. Upaya pencarian bantuan darurat oleh pihak keluarga saksi di permukaan diuraikan dalam pemaparan polisi.

“Saksi yang berada di atas kemudian meminta bantuan warga,” jelas Martin Nababan.

Tim gabungan BKSDA Kalbar, YIARI dan PT HKI Evakuasi Orangutan Terluka Parah Yang Tersesat di Area Perkebunan
Baca Juga

Tim gabungan BKSDA Kalbar, YIARI dan PT HKI Evakuasi Orangutan Terluka Parah Yang Tersesat di Area Perkebunan

Seluruh jenazah berhasil dievakuasi warga sekitar pukul 16.00 WIB. Satu korban sempat dilarikan menuju fasilitas kesehatan terdekat namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan, sementara tiga korban lainnya telah meninggal di lokasi kejadian. Faktor pemicu masyarakat terpaksa mendekati area berbahaya tersebut kembali dipaparkan oleh aparat kepolisian.

“Kondisi musim kemarau menyebabkan sumber air di wilayah tersebut cukup sulit diperoleh sehingga warga berupaya memanfaatkan sumber air yang masih tersedia,” ujarnya.

Bahaya gas beracun dan minimnya sirkulasi udara di dalam rongga lubang galian lama diperingatkan secara tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

“Karena kondisi lubang dapat membahayakan keselamatan dan berpotensi memiliki kadar oksigen yang rendah,” kata Martin Nababan.

Pihak keluarga menyatakan menerima peristiwa ini sebagai musibah serta menolak prosedur visum maupun autopsi jenazah.

Larangan keras bagi masyarakat untuk mendekati kawah dan sumur bekas tambang kembali ditekankan sebagai penutup imbauan kepolisian.

Unit Penyelenggara Pelabuhan Kendawangan Gelar Puncak Harhubnas 2026, Serahkan Bantuan kepada Nelayan
Baca Juga

Unit Penyelenggara Pelabuhan Kendawangan Gelar Puncak Harhubnas 2026, Serahkan Bantuan kepada Nelayan

“Kami kembali mengimbau warga agar tidak mengambil risiko dengan memasuki lubang-lubang bekas tambang. Terlebih di tengah kemarau, ketika kebutuhan air meningkat, lubang bekas tambang tetap bukan tempat yang aman untuk mencari sumber air,” imbaunya.

(Dayank Ana)