Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Fahutan Untan dan Konsorsium Universitas Belanda Bersama Tropenbos Resmi Menutup Program Gambut ComPeat

Hendrawan
Hendrawan
Rabu, 9 September 2026 · 18:503 menit baca
Fahutan Untan dan Konsorsium Universitas Belanda Bersama Tropenbos Resmi Menutup Program Gambut ComPeat
Fakultas Kehutanan Untan bersama konsorsium perguruan tinggi Belanda dan Tropenbos tutup program ComPeat, kembangkan komoditas ramah gambut alternatif sawit di Ketapang. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) bersama Tropenbos Indonesia dan konsorsium perguruan tinggi serta lembaga penelitian Belanda resmi menutup Program Strengthening Community-Based Peat Forest Management in Indonesia (ComPeat) di Aula Bungur Fakultas Kehutanan Untan, Pontianak, Rabu (9/9/2026). Program dua tahun berbasis Living Lab di Kabupaten Ketapang ini ditujukan untuk memutus ketergantungan masyarakat pada monokultur kelapa sawit melalui pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan pencegahan kebakaran hutan gambut.

Diinisiasi sejak 2024 dengan pendanaan Pemerintah Belanda, program ini melibatkan kolaborasi intensif antara Untan, Van Hall Larenstein University of Applied Sciences, Aeres University, Inholland University, IUCN NL, serta Tropenbos International dan Tropenbos Indonesia. Intervensi dipusatkan pada empat pilar (working packages): riset dan pendidikan kolaboratif, dokumentasi pengetahuan ekologi lokal, pengembangan rantai nilai komoditas ramah gambut, hingga perumusan kebijakan perhutanan sosial.

Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Farah Diba, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat di sekitar hutan gambut Ketapang agar mampu mandiri secara ekonomi tanpa merusak ekosistem.

“Hari ini Fakultas Kehutanan melaksanakan acara penutupan program Compete atau Community Based on Peatland Forest. Jadi kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat supaya bisa memanfaatkan produk-produk terutama hasil hutan bukan kayu yang berasal dari hutan gambut. Dan lokus kegiatannya di Kabupaten Ketapang,” ujar Farah Diba.

Dari Reaktif ke Preventif: Kalbar Digagas Terapkan “Zero Karhutla” Mulai Musim Hujan Ini
Baca Juga

Dari Reaktif ke Preventif: Kalbar Digagas Terapkan “Zero Karhutla” Mulai Musim Hujan Ini

Farah menambahkan, keterlibatan sivitas akademika mencakup program magang dan penelitian bersama antara mahasiswa Indonesia dan Belanda, pelatihan pemberdayaan ekonomi warga, penguatan Hutan Desa di Sungai Pelang dan Sungai Besar, serta penyusunan policy brief bagi Pemerintah Kabupaten Ketapang.

Meski demikian, upaya transisi ekonomi di lahan gambut menghadapi benteng kekuasaan industri monokultur. Direktur Tropenbos Indonesia, Edi Purwanto, menyoroti hegemoni kelapa sawit yang telah mengakar kuat di Ketapang sehingga menyulitkan komoditas alternatif seperti asam payak, kayu gelam, kopi liberika, maupun sektor perikanan untuk masuk ke pasar utama.

“Masalahnya saat ini ini semuanya orang sudah gandrung dengan sawit. Jadi kita sulit sekali mencari alternatif yang menguntungkan selain sawit, ya. Jadi masalahnya itu. Jadi kita mencari alternatif-alternatif lain di luar sawit itu sangat sulit. Karena semua udah sawit, ya,” kata Edi.

Karhutla Jangan Menunggu Asap: Dari Mikrofon Satukata, Mari Menjaga Gambut
Baca Juga

Karhutla Jangan Menunggu Asap: Dari Mikrofon Satukata, Mari Menjaga Gambut

Edi menegaskan bahwa dominasi monokultur sawit sangat berisiko bagi kelestarian gambut. Melalui skema Living Lab, hasil riset S1 dan S2 mahasiswa Untan dan Belanda didorong agar dapat diadopsi langsung oleh masyarakat dan pemangku kepentingan. 

“Tidak semua harus sawit, tapi harus ada alternatif. Itu masalah kita untuk mencari alternatifnya itu,” tegasnya.

Di sisi lain, ancaman bencana kabut asap dan karhutla tahunan menjadi alasan mendasar pentingnya pengembalian fungsi kebasahan gambut (rewetting) serta peningkatan nilai ekonomi hutan. Perwakilan Van Hall Larenstein University, Peter van der Meer, menilai keterlibatan masyarakat dalam memanen hasil hutan seperti madu dan tanaman obat menjadi kunci utama menjaga kawasan dari api.

“Masalah yang lebih besar adalah bahwa kami ingin melihat bagaimana Anda dapat memanfaatkan hutan dengan cara yang lebih berkelanjutan, karena di sini hari ini kita juga melihat banyak kabut asap. Kebakaran adalah masalah besar, dan dengan meningkatkan pengelolaan hutan mungkin juga dengan membasahi kembali (rewetting) area tersebut dan memanfaatkan hutan secara lebih intensif kita mungkin dapat mengurangi jumlah kebakaran di kawasan hutan,” ungkap Peter.

Peter berharap pendekatan Living Lab yang menyatukan akademisi, warga lokal, pemerintah, dan sektor swasta dapat terus berlanjut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan langkah-langkah penelitian terapan berbasis masalah nyata di lapangan merupakan instrumen paling efektif untuk menjaga keberlanjutan lanskap gambut Kalimantan Barat secara jangka panjang.

(Hendrawan)