Malam ini jadwal berubah. Podcast yang semula direncanakan Senin akhirnya dimajukan. Sekitar pukul 20.30 WIB, saya sudah duduk di Studio Podcast Satukata, Jalan Pak Benceng, Pontianak. Headphone terpasang, mikrofon persis di depan muka. Di meja ada telepon genggam dan secangkir kopi.
Nah, yang terakhir ini penting, wak. Diskusi gambut boleh berat. Kopi jangan ikut dibuat berat. Di dinding studio terpampang tulisan “Trending Topics, Deeper Talks”. Cocok. Sebab malam ini kami memang tidak ingin berhenti pada sesuatu yang sedang trending. Bersama host R. Rido Ibnu Syahrie, pembicaraan masuk lebih dalam: Karhutla dan Upaya Rehabilitasi Lahan Gambut di Kalimantan Barat.
Saya membuka satu persoalan sederhana. “Kalau bicara karhutla, jangan hanya melihat apinya.” Api adalah bagian yang paling gampang difoto. Ada hotspot, asap, mobil pemadam, helikopter, petugas berjibaku. Begitu hujan turun dan asap menghilang, perhatian publik ikut mereda. Padahal persoalannya belum selesai.
Di bawah api terdapat persoalan air, gambut, penggunaan lahan, mata pencaharian masyarakat, dan tata kelola. Cuaca kering memang meningkatkan bahaya kebakaran. Namun cuaca tidak otomatis menciptakan bencana. Risiko membesar ketika kemarau bertemu gambut yang mengering, bahan bakar tersedia, aktivitas manusia berlangsung, sementara sistem pencegahannya terlambat bekerja. Karena itu saya mengajak melihat gambut bukan sebagai tanah hitam biasa.
Baca Juga Zero Karhutla 2027: Jangan Tunggu Asap Datang
Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik dalam kondisi jenuh air. Ketika tata air terganggu, muka air turun dan bahan organiknya mengering, kerentanan terhadap kebakaran meningkat. Api bahkan dapat masuk ke lapisan organik sehingga pemadamannya lebih sulit.
Rumusnya sederhana: Jaga airnya, turunkan risikonya.
Di sinilah saya menawarkan pendekatan Adaptive Fire Governance (AFG). Kita perlu bergeser dari budaya emergency response menuju risk management. Jangan menunggu asap baru rapat. Jangan menunggu api membesar baru semua orang berlari.
Data cuaca, curah hujan, hotspot, tutupan lahan, kondisi vegetasi, hidrologi dan riwayat kebakaran seharusnya digunakan untuk menentukan lanskap prioritas sebelum kemarau mencapai kondisi kritis.
Baca Juga Karhutla Masuk ICU: Jangan Hanya Cabut Perda, Sembuhkan Akar Masalahnya
Namun jangan pula menganggap satelit sebagai dukun digital yang tahu semuanya.
Saya katakan di studio:
“Satelit memberi mata dari langit. Masyarakat memberi mata di lapangan,” ungkap saya.
Hotspot memerlukan interpretasi dan ground verification. Masyarakat mengetahui kanal yang mengering, akses menuju lokasi, perubahan penggunaan lahan dan sejarah kebakaran di kampungnya. Teknologi dan pengetahuan lokal bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan.
Begitu juga dengan rehabilitasi gambut.
Jangan keberhasilan hanya dihitung dari berapa ribu bibit ditanam. Restorasi memerlukan 3R: rewetting, revegetation, dan revitalization. Airnya dipulihkan, vegetasinya diperbaiki, ekonomi masyarakatnya ikut diperkuat.
Baca Juga Atasi Krisis Air Pemadaman Karhutla, Polda Kalbar Siapkan 98 Sumur Bor
Bagian terakhir justru menentukan.
Kita mudah mengatakan kepada masyarakat:
“Jangan membakar!”
Masyarakat boleh balik bertanya:
“Baik, Prof. Alternatif penghidupan kami apa?”
Nah, pemerintah harus mampu menjawab pertanyaan kedua.
Karhutla akhirnya bukan semata persoalan kehutanan. Ia bersentuhan langsung dengan SDG 3 tentang kesehatan, SDG 8 tentang pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi, SDG 13 tentang aksi iklim, SDG 15 tentang ekosistem daratan, serta SDG 17 tentang kemitraan.
Baca Juga Potensi Hujan Meningkat, Kepala BNPB Tambah Armada Modifikasi Cuaca di Kalbar
Api pun tidak pernah membawa peta administrasi. Ia tidak berhenti karena melihat plang batas desa, kabupaten, konsesi atau kawasan.
Maka tata kelolanya juga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Jika lima tahun ke depan Kalbar ingin membuat lompatan, saya menawarkan tiga agenda: bangun Satu Peta Risiko Karhutla Kalbar yang dinamis, pulihkan tata air dan fungsi gambut pada lanskap prioritas, lalu bangun kelembagaan Adaptive Fire Governance yang mempertemukan pemerintah, perusahaan, masyarakat, perguruan tinggi dan aktor lapangan.
Ukuran keberhasilan juga perlu kita balik. Jangan hanya bangga karena berhasil memadamkan seribu kebakaran. Jauh lebih hebat apabila seribu kebakaran tidak pernah terjadi karena risikonya sudah dikelola. Sekitar satu jam kemudian headphone saya lepas. Mikrofon Satukata dimatikan. Kopi di meja pun tinggal cerita.
Tetapi satu kalimat semoga tidak ikut mati bersama mikrofon malam ini. Ketika kemarau berikutnya datang, jangan tunggu asap mengetuk jendela Pontianak. Jaga airnya. Baca risikonya. Jangan menunggu apinya.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.