Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Ketersediaan Air Baku Menipis, RSU YARSI Pontianak Terima Bantuan Pasokan Air Bersih

Roska Putra
Roska Putra
Minggu, 20 September 2026 · 18:502 menit baca
Ketersediaan Air Baku Menipis, RSU YARSI Pontianak Terima Bantuan Pasokan Air Bersih
Mobil tangki Damkar Pontianak Timur mengangkut pasokan air bersih untuk RSU YARSI Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)

Menipisnya ketersediaan air bersih akibat kemarau panjang dan fenomena El Niño di Kalimantan Barat mulai berdampak serius terhadap pelayanan fasilitas kesehatan di Kota Pontianak, Sabtu (19/9/26).

Rumah Sakit Umum (RSU) YARSI Pontianak menerima bantuan pengagihan air bersih melalui kerja sama jaringan kemanusiaan demi memastikan pelayanan medis, khususnya perawatan hemodialisis atau cuci darah, tetap beroperasi secara optimal.

Kebutuhan harian air bersih di RSU YARSI Pontianak mencapai sekitar 8.000 liter per hari.

Sebelum bantuan bergerak, pihak rumah sakit terpaksa mengeluarkan biaya hingga Rp2,5 juta per hari dengan akumulasi pengeluaran mencapai Rp52 juta untuk membeli air bersih.

Krisis Ganda Pasokan Listrik-Air Mencekik RSUD dr. Agoesdjam, Manajemen Desak Status Prioritas PLN
Baca Juga

Krisis Ganda Pasokan Listrik-Air Mencekik RSUD dr. Agoesdjam, Manajemen Desak Status Prioritas PLN

Ketua YARSI, Suhadi, bergerak cepat menggalang komunikasi dengan pelbagai pihak setelah stok air di rumah sakit mulai terancam habis.

Ketua YARSI Suhadi yang menginisiasi kolaborasi penanganan krisis air bersih RSU YARSI Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)
Ketua YARSI Suhadi yang menginisiasi kolaborasi penanganan krisis air bersih RSU YARSI Pontianak. (Dok. HO/Nusantara Post)

“Kami dari Rumah Sakit YARSI memerlukan air bersih karena stok sudah menipis,” ujar Suhadi saat menyampaikan permohonan darurat untuk kebutuhan para pasien.

Menurutnya, ketersediaan air bersih di rumah sakit merupakan hal yang tidak dapat ditangguhkan, terutama untuk fasilitas pengolahan reverse osmosis (RO) bagi pasien cuci darah.

Setiap pasien hemodialisis membutuhkan sedikitnya 300 liter air RO dalam satu kali proses perawatan.

Menyingkap Kisah Negeri Bertuah: Daya Juang Perempuan Pesisir di Tengah Ketimpangan Infrastruktur
Baca Juga

Menyingkap Kisah Negeri Bertuah: Daya Juang Perempuan Pesisir di Tengah Ketimpangan Infrastruktur

Dampak krisis air baku ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh fasilitas kesehatan, tetapi juga masyarakat luas.

Perwakilan Palang Merah Indonesia (PMI), Abu, mengungkapkan bahwa gangguan pasokan air tawar mulai merambah ke kawasan permukiman warga.

“Bukan hanya rumah sakit, rumah-rumah warga juga mulai membutuhkan pasokan air bersih,” kata Abu.

Menanggapi situasi darurat tersebut, kolaborasi lintas pihak langsung dibentuk.

Bantuan sumber air dibuka melalui koordinasi dengan Bupati Kubu Raya, Sujiwo, serta dukungan Alas Kusuma untuk mengoptimalkan potensi air waduk.

Guna mengangkut air dari sumber menuju rumah sakit, Pemadam Kebakaran (Damkar) Pontianak Timur mengerahkan armada mobil tangki ke lokasi.

Dampak Kemarau Meluas di Jawa Tengah: Belasan Ribu Jiwa Krisis Air Bersih dan 4,5 Hektare Lahan Terbakar
Baca Juga

Dampak Kemarau Meluas di Jawa Tengah: Belasan Ribu Jiwa Krisis Air Bersih dan 4,5 Hektare Lahan Terbakar

Perwakilan Damkar Pontianak Timur, Arief Suryono, menegaskan kesiapan armadanya dalam mendistribusikan air bersih secara langsung demi mendukung operasional rumah sakit.

“Armada tangki disiapkan dan langsung bergerak membawa air bersih untuk memastikan kebutuhan RSU YARSI Pontianak terpenuhi tanpa menunda pelayanan pasien,” tegas Arief Suryono.

Sementara itu, Ketua ICMI Orwil Kalbar, Gusti Hardiansyah, menilai aksi tanggap darurat ini sebagai bentuk tata kelola adaptif (adaptive governance) dan kepedulian sosial yang nyata di tengah ancaman bencana kekeringan.

“Bencana tidak pernah membaca struktur organisasi kita. El Niño, kemarau, karhutla, dan gangguan air baku bertemu pada satu titik yang sama: manusia yang membutuhkan air,” tegas Gusti Hardiansyah.

Gusti Hardiansyah menambahkan, pengalaman krisis air di RSU YARSI harus menjadi momentum untuk memetakan kebutuhan air bersih bagi kelompok rentan, seperti pasien rumah sakit, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas di seluruh wilayah Kalimantan Barat.

(Roska)