Sel, 04/08/26 · 12.09.04
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Lahirnya Generasi TENGKAWANG: PKKMB Fakultas Kehutanan Untan 2026 Dobrak Orientasi Kaku, Siapkan Mahasiswa Berkarakter dan Unggul

Hendrawan
Hendrawan
Selasa, 4 Agustus 2026 · 17:064 menit baca
Lahirnya Generasi TENGKAWANG: PKKMB Fakultas Kehutanan Untan 2026 Dobrak Orientasi Kaku, Siapkan Mahasiswa Berkarakter dan Unggul
Fakultas Kehutanan Untan menggelar PKKMB 2026 dan melahirkan Generasi TENGKAWANG yang berkarakter, unggul, serta siap menjaga kelestarian hutan Borneo. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Memasuki hari kedua pelaksanaannya pada Selasa (4/8/2026), Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (Untan) 2026 mencetak generasi baru. Sebanyak lebih dari 485 mahasiswa baru tak sekadar disodori materi akademik konvensional, melainkan diajak menyelami secara kronologis realitas keras dunia kampus mulai dari persiapan kerja global, krisis kesehatan mental, hingga darurat kekerasan seksual.

Rangkaian orientasi progresif yang berlangsung sejak 3 hingga 5 Agustus 2026 ini dirancang sebagai alur naratif yang membekali mahasiswa secara bertahap, mulai dari pijakan awal hingga visi masa depan mereka sebagai rimbawan.

Pijakan Awal dan Lahirnya Generasi “TENGKAWANG” 

Langkah awal mahasiswa baru sebelumnya diresmikan pada Senin (3/8/2026). Rangkaian kegiatan dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Farah Diba. Dalam momentum krusial tersebut, Farah Diba menyematkan identitas visioner bagi angkatan 2026, yakni Generasi TENGKAWANG.

Inflasi Kalbar Tembus 3,18 Persen Tertinggi Di Kalimantan, BPS Catat Sektor Ekspor dan Nilai Tukar Petani Sukses Tahan Guncangan Ekonomi
Baca Juga

Inflasi Kalbar Tembus 3,18 Persen Tertinggi Di Kalimantan, BPS Catat Sektor Ekspor dan Nilai Tukar Petani Sukses Tahan Guncangan Ekonomi

Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Secara filosofis, Tengkawang merupakan pohon endemik kebanggaan Kalimantan Barat yang menjadi simbol kearifan lokal dengan nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Namun lebih dari itu, identitas ini diusung sebagai akronim dari Transforming Education Mutually Green Knowledge and Worldwide Action for Nature Growth.

Melalui penyematan nama tersebut, Dekan Fahutan meletakkan standar baru. TENGKAWANG merepresentasikan transformasi pendidikan yang mensinergikan pengetahuan lingkungan berkelanjutan (green knowledge) dengan orientasi aksi nyata berskala global (worldwide action). Farah Diba secara tegas menuntut angkatan ini agar tidak hanya terkurung menjadi cendekiawan di ruang kelas. Generasi Tengkawang diproyeksikan lahir sebagai rimbawan berkarakter yang mampu menorehkan prestasi di kancah nasional hingga internasional, serta menjadi motor penggerak utama dalam pembangunan kehutanan masa depan yang lestari.

Pada hari perdana ini, orientasi langsung menyoroti dunia eksternal. Panitia menggandeng praktisi dari PRCF Indonesia dan Yayasan Planet Indonesia untuk membedah dinamika kerasnya dunia kerja sektor kehutanan di era digital. Sebagai penguatan fondasi kebangsaan, Resimen Mahasiswa (Menwa) Untan turut diterjunkan untuk menanamkan wawasan bela negara guna menangkal radikalisme sejak dini.

Mendobrak Ruang Kelas yang Kaku dan Budaya Bungkam 

Polnep Dampingi Kelurahan Terusan Terapkan Teknologi Sumur Resapan
Baca Juga

Polnep Dampingi Kelurahan Terusan Terapkan Teknologi Sumur Resapan

Memasuki hari kedua pelaksanaannya pada Selasa (4/8/2026), rombakan format orientasi semakin terlihat tajam. Pola monolog satu arah yang biasa menjadi tradisi, kini dirombak total. Ketua Panitia PKKMB Fahutan Untan 2026, Marwanto, menegaskan bahwa perubahan struktural ini adalah strategi psikologis untuk memantik daya kritis mahasiswa baru sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di kampus.

“Kalau yang membedakan dari tahun lalu, mungkin kita sedikit mengombinasi. Kemarin itu full materi, sekarang materi diberikan dengan adegan khusus untuk melihat bagaimana partisipasi mahasiswa dalam kegiatan PKKMB ini,” ujar Marwanto.

Melalui pendekatan simulasi berbasis kasus ini, mahasiswa tidak lagi diposisikan sebagai objek pasif yang hanya menelan instruksi. Mereka dihadapkan pada skenario khusus yang menuntut ketajaman analisis, keberanian berpendapat, serta kepekaan sosial. Kendaraan metodologis yang disiapkan kepanitiaan ini menjadi landasan sempurna untuk menyalurkan substansi berat yang disuntikkan pada sesi berikutnya.

Ruang kritis yang telah dibangun oleh panitia itu kemudian diisi dengan materi menohok dari Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Untan. Menitikberatkan pada isu Growth Mindset dan Mental Health, Satgas PPKPT berani menguliti realitas bahwa perguruan tinggi rentan menjadi lokus kekerasan fisik, psikis, intoleransi, hingga pelecehan seksual.

Sekretaris Satgas PPKPT Untan, Inayah, membeberkan bahwa rantai kekerasan di kampus sering kali terpelihara oleh ketimpangan relasi kuasa. Mahasiswa baru kerap menjadi pihak paling inferior, terintimidasi oleh pelaku yang bersembunyi di balik hierarki kekuasaan yang lebih tinggi baik itu senior, tenaga kependidikan, maupun dosen. Kondisi ini melahirkan fenomena bungkam yang sistemik.

“Kenapa materi ini penting? Karena banyak terjadi kekerasan di lingkungan kampus. Di Fakultas Kehutanan sendiri pernah ada kasus kekerasan, misalnya pelecehan. Kadang mereka tidak lapor karena malu, menganggap itu aib keluarga,” tegas Inayah, menyoroti stigma yang kerap menyudutkan korban.

Kelurahan Sungai Jawi Sabet Juara Pertama Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Kalbar
Baca Juga

Kelurahan Sungai Jawi Sabet Juara Pertama Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Kalbar

Untuk menghancurkan tembok kebisuan tersebut, Satgas PPKPT tidak sekadar memberikan imbauan moral, melainkan membangun infrastruktur perlindungan yang nyata. Kanal pelaporan nir-risiko telah disiapkan secara khusus. Strategi paling progresifnya adalah dengan menerjunkan ‘Duta Satgas’ dari kalangan mahasiswa itu sendiri. Melalui pendekatan antar teman sebaya (peer-to-peer), diharapkan korban tidak lagi merasa terintimidasi oleh hierarki formal birokrasi kampus ketika hendak mencari keadilan.

“Kami mengarahkan mahasiswa agar jangan khawatir, jangan takut, segera lapor. Kampus ini adalah ruang aman untuk mereka. Mereka berhak untuk kuliah dan belajar dengan aman disini,” tambahnya dengan lugas.

Seperti filosofi pohon Tengkawang endemik Kalimantan yang memiliki ketahanan ekologis dan nilai manfaat luar biasa mahasiswa Fahutan Untan 2026 ditempa untuk tidak hanya mahir secara akademis dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Lebih dari itu, PKKMB yang akan mencapai puncaknya pada esok hari ini tengah mencetak rimbawan sejati: intelektual yang berkarakter, peka terhadap kesehatan mental, serta memiliki nyali untuk berdiri menentang segala bentuk kekerasan di lingkungan sekitarnya.

Menempa Rimbawan yang Utuh dan Berintegritas 

Orientasi ini akan memuncak pada esok hari, Rabu (5/8/2026), yang berfokus pada kesiapan mahasiswa menghadapi kompleksitas dunia luar. Mahasiswa akan dipersenjatai dengan literasi keuangan, etika siber, serta norma kehidupan kampus yang mencakup penjagaan dari bahaya korupsi, plagiarisme, dan penyalahgunaan narkoba. Marwanto juga menyebutkan adanya penyisipan materi spesifik terkait kebijakan anti-LGBT dan strategi peningkatan karier pasca-lulus, melengkapi tema kewirausahaan berbasis kearifan lokal.

Mengusung tema besar “Learning Today, Innovation for Sustainable Forest Tomorrow“, PKKMB tahun ini tidak didesain untuk sekadar menjadi acara seremonial tiga hari, melainkan sebagai fondasi cetak biru masa depan mahasiswa.

“Kami berharap mahasiswa kami tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam hal integritas, kepedulian sosial, kreativitas, dan kemampuan menghasilkan karya yang memberikan dampak nyata untuk Indonesia,” pungkas Marwanto menutup visi ke depan dari PKKMB tahun ini.

(Hendrawan)