Dua lulusan baru (fresh graduate) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Muhammad Febriansyah Prasetya, resmi dinyatakan lolos seleksi beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sedangkan Angga masuk melalui jalur LPDP.
Keduanya dijadwalkan bertolak ke Bogor untuk menempuh program percepatan studi magister hingga doktoral dengan memfokuskan riset akademik pada penyelesaian persoalan lingkungan hidup di Kalimantan Barat (Kalbar).
Tahapan panjang dan proses kurasi gagasan riset dipaparkan oleh Angga, lulusan program studi Teknologi Hasil Hutan yang kini melanjutkan studi pada program Magister Ilmu Lingkungan dan Kehutanan IPB, saat diwawancarai via zoom meeting, Jumat, (14/8/2026).
“Perasaannya senang banget lulus apalagi mengejar LPDP dari semester akhir 2024. Mendapatkan LPDP bukan hal yang mudah, pastinya kerja keras usaha mencari perlombaan agar bisa dicantumkan di CV, kemudian doa serta dukungan doa orang tua. Perjalanan mendapatkan LPDP dimulai pada bulan Januari 2026 di mana menulis esai dan personal statement. Esai diangkat pastinya mengenai permasalahan tambang emas di Kalbar kemudian mengangkat isu itu dengan menciptakan BIOMA. BIOMA ini merupakan produk hasil hutan yang dapat dikembangkan menjadi isu tren mengatasi merkuri. Produk ini saya kembangkan menjadi sebuah esai kemudian saya cantumkan di esai LPDP,” ujar Angga.
Persiapan teknis sebelum menghadapi seleksi ketat dijelaskan mencakup penyempurnaan naskah gagasan serta simulasi wawancara secara berulang.
“Sebelumnya mendapatkan LPDP pastinya belajar dan tetap berusaha memperbaiki esai serta mock up sana sini,” tambahnya.
Tingkat persaingan nasional yang ketat diakui menjadi tantangan tersendiri dalam menembus skema beasiswa akselerasi tersebut.
“Tantangannya pastinya banyak dengan pendaftar 30 ribuan yang diterima 2 ribuan, pastinya perlu perjuangan, doa, serta dukungan orang tua,” ucap Angga.
Pentingnya pemahaman arah studi dan kontribusi nyata bagi negara turut ditekankan sebagai pesan bagi para mahasiswa yang hendak mengikuti jejak studi lanjut.
“Harapannya pastinya tetap semangat, banyak-banyak belajar, banyak-banyak cari wawasan. Paling penting pastinya harus diterapkan kenapa mau S2 dan programnya juga apa yang bakalan dilakukan buat Indonesia,” tutup Angga.

Sementara itu, Muhammad Febriansyah Prasetya yang berfokus pada topik riset Silvikultur Tropika menempuh strategi penyesuaian rancangan usulan penelitian secara terstruktur dengan calon promotor di kampus tujuan.
Langkah persiapan berkas dan penyelarasan tema riset sarjana dengan program doktoral diuraikan secara rinci.
“Persiapan saya sebelum mendapatkan beasiswa yaitu mencari informasi terkait program yang ingin saya daftarkan dikarenakan program ini hanya dibuka dua tahun sekali yang di mana untuk peminat beasiswa ini cukup banyak. Kemudian saya mencari dan menyesuaikan topik riset atau penelitian saya dengan calon promotor/dosen pembimbing saya dalam empat tahun ke depan. Kemudian, menyiapkan proposal yang sesuai dengan topik riset yang dipilih, karena saya memilih topik riset Silvikultur Tropika jadi saya menyesuaikan dengan topik yang diinginkan calon promotor saya. Selain itu, untuk topik yang saya pilih sangat linear dengan riset yang saya lakukan di sarjana. Persiapan selanjutnya menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan seperti ijazah, surat keterangan dokter, surat kesehatan jasmani dan rohani, surat rekomendasi dan beberapa dokumen lainnya,” papar Febriansyah.
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang menahun di Kalimantan Barat disikapi melalui kacamata analisis ilmiah komprehensif.
Pendekatan riset berbasis data lapangan ditegaskan guna mengurai faktor kompleks pemicu degradasi lingkungan daerah.
“Isu karhutla dan PETI memang sudah menjadi persoalan yang cukup lama dan berulang, bahkan sudah saya kenal sejak kecil. Namun, dalam melihat persoalan tersebut, saya berusaha untuk tidak menyalahkan pihak tertentu, karena kondisi di lapangan biasanya merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik faktor alam, aktivitas manusia, maupun pengelolaan lingkungan,” jelas Febriansyah.
Tanggung jawab moral sebagai penerima beasiswa unggulan diwujudkan melalui komitmen penyediaan data riset bagi para pengambil kebijakan.
“Melalui studi ini, saya berharap dapat memberikan kontribusi bagi negara, khususnya bagi daerah asal saya. Sebagai awardee PMDSU, saya melihat kesempatan ini sebagai bagian dari tanggung jawab untuk berkontribusi melalui pendekatan akademik yang berbasis data dan temuan di lapangan,” tuturnya.
Penyediaan rekomendasi pengelolaan lingkungan yang tepat sasaran diharapkan dapat lahir dari hasil kajian akademiknya di masa mendatang.
“Harapannya, hasil penelitian ini tidak hanya menjadi kontribusi secara ilmiah, tetapi juga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pemangku kepentingan dalam memahami persoalan dan menentukan langkah pengelolaan lingkungan yang lebih tepat,” pungkas Febriansyah.
(Dayank Ana)