Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Pelajari Layanan Pendidikan Inklusif, KACA Brunei Kunjungi LDAC Pontianak

Achmad Fatoni
Achmad Fatoni
Kamis, 24 September 2026 · 14:331 menit baca
Pelajari Layanan Pendidikan Inklusif, KACA Brunei Kunjungi LDAC Pontianak
Delegasi KACA Brunei Darussalam kunjungi UPT LDAC Pontianak guna pelajari sistem asesmen terapi dan tata kelola pendidikan inklusif bagi anak disabilitas. (Dok. HO/TNP)

Unit Pelaksana Teknis Layanan Disabilitas dan Asesmen Center (UPT LDAC) Kota Pontianak menerima kunjungan kerja delegasi Persatuan Kanak-Kanak Cacat (KACA) Brunei Darussalam guna meninjau tata kelola penanganan disabilitas dan sistem sekolah ramah anak, Kamis, (24/9/2026). Rombongan delegasi asal Brunei Darussalam tersebut berjumlah 12 orang dan dipimpin langsung oleh Awang Abdul Alim bin Awang Abdul Othman.

Kunjungan bilateral ini difokuskan untuk melihat dari dekat praktik penyelenggaraan layanan asesmen diagnostik, terapi intervensi dini, hingga penyediaan sistem dukungan pendidikan inklusif bagi peserta didik di wilayah Kota Pontianak.

Penerimaan delegasi negara tetangga tersebut dihadiri oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak bersama Kepala Bidang Kebudayaan serta jajaran pimpinan UPT LDAC. Dalam pemaparan teknis kelembagaan, UPT LDAC Kota Pontianak dijelaskan menjalankan dua pilar mandat pelayanan utama, yakni Layanan Disabilitas terpadu dan Layanan Penguatan Pendidikan Inklusif.

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis
Baca Juga

Pastikan Layanan Tanpa Diskriminasi, Pemkot Pontianak Perkuat Kapasitas HAM Tenaga Medis

Cakupan pada divisi penanganan disabilitas meliputi pelaksanaan observasi, penapisan (screening), terapi intervensi terpadu, konsultasi psikologi anak, pemantauan tumbuh kembang, pendampingan gizi klinis, hingga pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala.

Sementara pada pilar pendidikan inklusif, unit pelaksana teknis ini bertugas menyokong operasional sekolah umum melalui asesmen kemampuan belajar siswa, pelatihan penguatan kapasitas Guru Pendamping Khusus (GPK), serta penyediaan asistensi teknis kurikulum yang adaptif.

Pertemuan lintas batas ini dimanfaatkan oleh kedua pihak untuk saling bertukar data, metode intervensi medis, serta praktik terbaik (best practice) penanganan anak berkebutuhan khusus guna memperluas jejaring perlindungan hak anak di tingkat regional Asia Tenggara.

Penguatan sinergi antarkelembagaan ini diharapkan mampu memperluas inovasi metodologi terapi sekaligus mewujudkan ekosistem lingkungan belajar yang ramah, setara, dan berkelanjutan bagi seluruh anak penyandang disabilitas.

(Tony)