Ancaman kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbukti mengunci ruang napas publik di Kalimantan Barat, membawa kualitas udara Kota Pontianak sore ini ke titik terburuk dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Memasuki fase kritis, penurunan ketebalan kabut asap pada sore hari tidak serta-merta menjadikan udara kembali steril, melainkan masih menjebak warga dalam kepungan partikel beracun.
Kepala Laboratorium Geofisika serta Sistem Informasi Geografis Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura (Untan), Joko Sampurno, memaparkan bahwa eskalasi pencemaran udara tahun ini melonjak sangat drastis dan membahayakan kesehatan. Berdasarkan data instrumen IQAir yang dioperasikan Lab Geofisika Untan sejak 2024, tren kualitas udara menunjukkan lonjakan pencemaran ekstrem yang bermula sejak Juli dan meroket tanpa kendali sepanjang bulan ini.
Secara faktual, Joko membeberkan bahwa angka pencemaran bahkan pernah menembus rekor fatal melampaui indeks 1.000, jauh di atas ambang batas bahaya yang berada di angka 300. Puncak teror udara beracun ini terekam jelas pada pagi hari, di mana Indeks Kualitas Udara (AQI) menyentuh level 935 di antara pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
Meski langit sore ini sekilas tampak sedikit lebih terang, angka instrumen pemantau dengan tegas membantah ilusi visual tersebut. Menjelang pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, kualitas udara rupanya hanya turun sedikit.

