Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat 19 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) pada pemantauan Senin (2/11/2026) pukul 21.00 WIB.
Jumlah itu terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menurut data SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Pada pemantauan 31 Oktober, hotspot di provinsi ini tercatat 15 titik.
Di enam provinsi prioritas, Kalteng disusul Jambi dengan 9 titik dan Kalimantan Selatan 3 titik, sedangkan Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau nihil.
Secara nasional hotspot naik menjadi 189 titik dari 100 titik sehari sebelumnya, tetapi jumlah di enam provinsi prioritas turun dari 34 menjadi 31.
Baca Juga Sekat Bakar 3,2 Kilometer Dibangun di Barito Utara untuk Lindungi Habitat Orangutan dari Karhutla
Kemenhut mengingatkan hotspot adalah indikasi anomali suhu permukaan, bukan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar, sehingga setiap indikasi diverifikasi lewat patroli dan pengecekan lapangan.
Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut tertanggal 2 November menunjukkan operasi di Kalteng masih berlangsung.
Di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, masih banyak kepulan asap dari lahan gambut sehingga pemadaman dilanjutkan. Kondisi serupa terjadi di Jabiren yang belum sepenuhnya padam, serta di sejumlah lokasi di Kota Palangka Raya yang masih menyisakan api atau asap.
Kemenhut menyebut karakter gambut memungkinkan api dan bara bertahan di bawah permukaan walau nyala tidak terlihat, sehingga pembasahan dan penyisiran bara terus dilakukan.
Baca Juga Hotspot Nasional Naik Jadi 160 Titik, Api di Gambut Sebangau dan Tanjung Puting Belum Padam
Sejumlah titik menunjukkan perkembangan positif. Api di Pematang Kambat, Kabupaten Seruyan, dan Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat, telah dipadamkan.
Di Pasir Putih, Kabupaten Kotawaringin Timur, tim masih memadamkan sekat batas dan mendinginkan titik yang berasap.
Kemenhut menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) terpadu sejak 18 Oktober 2026 menunjukkan hasil positif berdasarkan rapat evaluasi.
Hujan mulai merata di sejumlah wilayah, khususnya Kalteng dan Sumatera Selatan, dan jarak pandang serta konsentrasi polutan PM2.5 membaik.
Seluruh bandara yang sebelumnya terganggu karena rendahnya jarak pandang beroperasi kembali. Di Kalteng, OMC dilakukan lewat operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan serta operasi lain di Kalteng.
Pemerintah memutuskan OMC dilanjutkan sesuai kebutuhan lapangan, dan akan diarahkan juga ke Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.
Baca Juga Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon, Terekam Camera Trap
Kemenhut menyatakan OMC tidak menggantikan operasi darat. Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, badan penanggulangan bencana daerah, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan relawan tetap menjalankan patroli, pemadaman langsung, pembasahan, penyisiran bara, dan pendinginan.
(Ajau)