Sen, 31/08/26 · 08.01.52
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Kadisdik Kalteng Tolak Liburkan Sekolah Saat Kabut Asap Imbas Dapur MBG

Hendrawan
Hendrawan
Senin, 31 Agustus 2026 · 12:022 menit baca
Kadisdik Kalteng Tolak Liburkan Sekolah Saat Kabut Asap Imbas Dapur MBG
Kadisdik Kalteng tolak liburkan sekolah saat kabut asap demi dapur MBG dan kantin, warganet mengecam keras dan menuntut prioritas keselamatan nyawa anak. (Dok. Adpim Kalteng)

Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menolak meliburkan aktivitas kegiatan belajar mengajar di tengah pekatnya kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan dengan alasan menjaga keberlangsungan operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kantin sekolah.

Kebijakan tersebut menuai gelombang kemarahan publik dan warganet di media sosial lantaran dinilai mengorbankan keselamatan organ pernapasan anak demi menjaga target distribusi program konsumsi.

Kekhawatiran lumpuhnya operasional dapur penyedia makanan gratis apabila kegiatan tatap muka dihentikan diuraikan secara lugas oleh Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo.

“Ketika sekolah libur dikarenakan asap, akan mengakibatkan dapur dapur MBG mati, kantin kantin mati,” ujarnya.

Udara Berbahaya, Edi Rusdi Kamtono Sidak Kesiapan Fasilitas Kesehatan di Pontianak
Baca Juga

Udara Berbahaya, Edi Rusdi Kamtono Sidak Kesiapan Fasilitas Kesehatan di Pontianak

Aspek kerentanan mobilitas siswa saat dipulangkan ke rumah turut dijadikan dasar bagi institusi pendidikan untuk tetap mewajibkan murid hadir di sekolah.

Kekhawatiran perihal potensi aktivitas pelajar di luar pengawasan dipaparkan lebih lanjut dalam keterangannya.

“Anak – anak yang harusnya di rumah malah ke kafe kafe dan membuat masalah ketika dipulangkan,” katanya.

Beban teknis yang akan dihadapi instansi pemerintah kembali ditegaskan sebagai penutup keterangannya.

Fasilitas Medis IKN Berkembang, Kaltim Dituntut Mandiri Cetak Dokter Spesialis
Baca Juga

Fasilitas Medis IKN Berkembang, Kaltim Dituntut Mandiri Cetak Dokter Spesialis

“Nanti kita yang pusing Bu…,” tuturnya.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras warganet di platform media sosial X, salah satunya dilontarkan oleh akun Bang Lucky (@chwaaaann) yang menyoroti pengabaian hak perlindungan dasar bagi anak-anak.

Kritik tajam mengenai pergeseran prioritas perlindungan bencana disampaikan dalam unggahannya.

“Kalau mengorbankan kesehatan anak-anak demi mengisi saku orang dewasa, sudah tidak ada harapan lagi bagi anak-anak Indonesia. Istilah “wanita dan anak-anak duluan” ketika ada bencana, tidak berlaku di negara serakah ini,” tulis akun @chwaaaann.

Kecaman senada disuarakan oleh akun Call Me Bulan (@sabitnyabulan_) yang mempertanyakan empati pembuat kebijakan dalam memaksakan aktivitas fisik siswa di bawah paparan polusi udara ekstrem.

Sindiran tajam terhadap kewajiban makan di tengah kepungan polusi diutarakan dalam cuitannya.

Dampak Asap Karhutla Meluas, RSU YARSI Siagakan Puluhan Tenaga Medis di Kubu Raya
Baca Juga

Dampak Asap Karhutla Meluas, RSU YARSI Siagakan Puluhan Tenaga Medis di Kubu Raya

“Coba yg bikin aturan simulasiin dulu deh gimana sekolah seharian dgn kabut asap+makan mbg. Cobain seminggu, jadi berkualitas ga hidupnya? Klo anak org yg mati gapapa kan ya? Toh nyawa cuma angka. Klo mbg yg mati, bisa kiamat kan Indonesia?” cecar akun @sabitnyabulan_.

Sorotan publik yang kian meluas ini mendorong desakan agar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera menghentikan kegiatan tatap muka dengan beralih ke skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), serta mengevaluasi mekanisme pengantaran paket MBG secara mandiri ke rumah warga demi menjamin keselamatan siswa.

(Hendrawan)