Sen, 31/08/26 · 05.54.57
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Bendungan Susut dan Pertanian Terancam, Samarinda Tetapkan Status Darurat Kekeringan

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Senin, 31 Agustus 2026 · 10:503 menit baca
Bendungan Susut dan Pertanian Terancam, Samarinda Tetapkan Status Darurat Kekeringan
Pemkot Samarinda tetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari menyusul surutnya Bendungan Lempake, krisis air baku PDAM, dan ancaman gagal panen petani. (Dok. Ist)

Pemerintah Kota Samarinda menetapkan status tanggap darurat kekeringan selama 14 hari terhitung sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026 menyusul krisis air baku, ancaman gagal panen, serta eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu, (30/8/2026). Peningkatan status kewaspadaan bencana di ibu kota Kalimantan Timur tersebut disampaikan oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun.

“Kita di Kota Samarinda khususnya, telah menetapkan situasi darurat kekeringan selama 14 hari. Nanti 14 hari ke depan kita akan evaluasi lagi,” ujar Andi Harun, Sabtu, (29/8/2026).

Eskalasi tingkat kerentanan wilayah diuraikan lebih lanjut dalam penjelasannya.

“Jadi ada empat level, normal, waspada, siaga dan kritis. Sekarang kita sudah melewati normal, waspada menuju siaga, bahkan sudah masuk fase siaga,” katanya.

Antisipasi Dampak Kekeringan, Realisasi Luas Tanam Pangan di Kaltim Capai 80 Persen
Baca Juga

Antisipasi Dampak Kekeringan, Realisasi Luas Tanam Pangan di Kaltim Capai 80 Persen

Menyusutnya debit air Sungai Mahakam memicu intrusi air laut hingga kadar klorida pada sejumlah titik instalasi pengolahan (intake) Perumdam Tirta Kencana melampaui ambang batas 250 PPM. Dampak intrusi air laut pada fasilitas penyedia air bersih dipaparkan dalam keterangannya.

“Yang sudah terdampak itu intake kita yang berada di daerah Palaran dan sekitarnya, Pulau Atas, Bukuan, Bantuas,” ungkap Andi Harun.

Standar operasional penghentian distribusi demi menjaga mutu kesehatan air konsumsi ditegaskan olehnya.

“Kalau sudah melewati batas 250 PPM kita harus stop. Karena ini menyangkut tentang kesehatan air bersih kita,” jelasnya.

Puluhan Hektare Terbakar di Berbagai Daerah, BNPB Perketat Penanganan Karhutla
Baca Juga

Puluhan Hektare Terbakar di Berbagai Daerah, BNPB Perketat Penanganan Karhutla

Penyesuaian jam operasional pompa air baku dijelaskan dalam keterangannya.

“Biasanya kalau surut, itu PPM turun lagi. Jadi bersyukurnya kita enggak ada off 24 jam. Biasanya di sore hari saat sudah mulai surut, PPM juga ikut surut,” tuturnya.

Krisis air baku diperparah oleh penurunan muka air Bendungan Lempake ke level 7,10 meter dari batas normal 7,20 meter, yang memaksa penghentian pasokan irigasi dan memicu retaknya tanah persawahan padi di sekitarnya. Keluhan ketiadaan pasokan air irigasi disampaikan oleh seorang petani kawasan Lempake, Paniyem (59).

“Tanamnya sudah ada sebulan, ikut teman-teman yang menanam. Tapi sebulan ini enggak ada hujan, parit juga tidak bisa disedot,” ujar Paniyem.

Selain memukul pasokan air dan pangan, kemarau panjang memicu lonjakan kasus karhutla yang diduga kuat bersumber dari pembukaan lahan secara ilegal. Dugaan unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan ditekankan oleh Wali Kota Samarinda.

“Mayoritas lahan yang terbakar itu tidak terbakar secara alami, tapi mayoritas dilakukan oleh oknum-oknum yang secara sengaja melakukan perbuatan itu,” tegasnya.

Imbas Asap Kalsel, Dua Penerbangan di Bandara Sepinggan Tertunda
Baca Juga

Imbas Asap Kalsel, Dua Penerbangan di Bandara Sepinggan Tertunda

Pemanfaatan rekaman kamera pengawas lingkungan guna melacak pelaku pembakaran dipaparkan dalam penjelasannya.

“Bersyukurnya melalui program Probebaya, karena di kampung-kampung ada CCTV. Kita bisa menangkap melalui tangkapan kamera kita, termasuk jaringan CCTV yang hampir 200 unit yang tersebar di Kota Samarinda,” ungkapnya.

Rencana intervensi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bersama BNPB dan TNI AU untuk memicu hujan buatan belum dapat dieksekusi akibat ketiadaan tutupan awan potensial di langit Samarinda. Kendala teknis pelaksanaan operasi penyemaian garam diuraikan dalam keterangannya.

“Sebenarnya upaya kita juga kemarin dua hari terakhir kami melakukan kontak secara sangat intens, baik melalui BNPB maupun Angkatan Udara untuk kita lihat kemungkinan bisa dilakukannya modifikasi cuaca di Kota Samarinda,” ujar Andi Harun.

Ketiadaan pertumbuhan awan hujan di atas wilayah kota dipaparkan sebagai penutup keterangannya.

“Gumpalan awan kita tidak cukup, sehingga tidak cukup untuk dilakukan penyemaian garam. Sehingga kita belum bisa melakukannya. Padahal anggaran kita sudah siap,” katanya.

(Rudi)