Jum, 26/06/26 · 17.00.20
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Gara-gara Whoosh, Duit KAI ‘Menguap’ Rp4,4 Triliun dalam 2 Tahun

Editor
Editor
Jumat, 26 Juni 2026 · 22:442 menit baca
Gara-gara Whoosh, Duit KAI ‘Menguap’ Rp4,4 Triliun dalam 2 Tahun
Laporan keuangan KAI per akhir 2025 catat penurunan nilai investasi hingga Rp4,48 triliun akibat beban utang China dan selisih kurs proyek Whoosh. (Dok. KCIC)

Beban berat megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kian nyata menekan isi dompet PT Kereta Api Indonesia (KAI). Berdasarkan laporan keuangan KAI per akhir 2025, perusahaan pelat merah tersebut harus rela melihat nilai investasinya menyusut drastis hingga lebih dari Rp4 triliun akibat performa keuangan konsorsium yang masih berdarah-darah.

KAI tercatat menanggung kerugian investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) konsorsium pengendali Whoosh masing-masing sebesar Rp2,22 triliun pada tahun 2024 dan membengkak menjadi Rp2,92 triliun pada tahun 2025.

Imbas dari rentetan kerugian ini, saldo investasi KAI di PSBI yang sempat menyentuh angka Rp7,72 triliun (setelah mendapat tambahan setoran modal Rp2,7 triliun pada 2024), kini hanya tersisa Rp3,24 triliun pada akhir tahun 2025. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun saja, nilai investasi KAI telah ‘menguap’ sebesar Rp4,48 triliun.

Penyusutan nilai yang masif ini merupakan refleksi langsung dari porsi kepemilikan saham KAI sebesar 58,53% di PSBI. Diketahui, PSBI merupakan kendaraan investasi Danantara yang bertugas menyalurkan pinjaman ke operator utama Whoosh, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Merespons situasi ini, manajemen KAI bahkan telah membentuk cadangan penurunan nilai investasi (impairment) sekitar Rp1,55 triliun.

Profil AKBP Supriyanto, Kapolres Pertama IKN
Baca Juga

Profil AKBP Supriyanto, Kapolres Pertama IKN

Ambruknya pos investasi KAI tidak lepas dari rapor merah PSBI yang mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp4,98 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini naik 18,89% dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,19 triliun.

Biang kerok utama dari membengkaknya kerugian ini adalah beban bunga utang jumbo dari China Development Bank (CDB) serta hantaman selisih kurs. Utang tersebut ditarik KAI untuk menutup pembengkakan biaya (cost overrun) proyek kereta cepat.

Sebagai informasi, KAI terikat kontrak pinjaman dengan CDB melalui dua fasilitas:

  • Fasilitas A (Dolar AS): Sebesar US$325,62 juta dengan suku bunga 3,2% per tahun.

  • Fasilitas B (Renminbi/RMB): Setara US$217,08 juta dengan suku bunga 3,1% per tahun.

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional
Baca Juga

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional

Kondisi keuangan PSBI saat ini terbilang cukup mengkhawatirkan. Per akhir 2025, posisi ekuitas PSBI tersisa Rp5,1 triliun, anjlok 64,2% dari posisi tahun 2023 yang masih berada di angka Rp14,26 triliun.

Di sisi lain, rasio liabilitas terhadap aset (leverage) PSBI melonjak hingga 79,8%. Angka ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh aset konsorsium dibiayai oleh utang, dengan bantalan ekuitas yang kian menipis.

Dampak domino ini akhirnya menjalar ke neraca keuangan KAI dalam bentuk piutang. Hingga akhir 2025, KAI mencatat total piutang sebesar Rp10,41 triliun di PSBI, yang menyumbang sekitar 10% dari total aset KAI. Dari jumlah tersebut, porsi piutang tidak lancar mendominasi dengan nilai mencapai Rp9,16 triliun.

Kondisi ini menempatkan KAI dalam posisi yang kian terjepit, mengingat likuiditas perusahaan kini sangat bergantung pada bagaimana struktur utang dan kinerja operasional Whoosh dibenahi ke depan.

(Red)