Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi bencana kembar berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kelumpuhan total akses logistik di wilayah perbatasan per 18 Juli 2026. Di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, kebakaran lahan hak guna usaha (HGU) swasta di Gampong Alue Kuyun, Kecamatan Darul Makmur, meluas hingga mencakup area seluas 40 hektare dan belum berhasil dikendalikan akibat embusan angin kencang di tengah cuaca kering.
Sementara itu, krisis kemanusiaan terjadi di Provinsi Kalimantan Utara akibat longsor yang memutus total jalan penghubung lintas batas di Kabupaten Nunukan. Otoritas setempat resmi menetapkan status tanggap darurat sejak 15 hingga 28 Juli 2026 setelah 1.507 jiwa dari 460 kepala keluarga terisolasi di 13 desa di wilayah Krayan.
Dampak isolasi geografi ini diperparah oleh pembatasan pasokan listrik PLN di wilayah terdampak yang kini hanya mampu beroperasi selama empat jam per hari, mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WITA.
Krisis Air Bersih di Bima dan Pemetaan Risiko BMKG
Pada koridor wilayah lain, fenomena kekeringan mulai menghantam Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 592 jiwa mengalami kelangkaan pasokan air bersih, yang memicu distorsi distribusi logistik harian dari pemerintah daerah. Di Sumatra Utara, anomali hidrometeorologi berupa banjir dilaporkan merendam 200 unit rumah warga di Desa Sipange, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, meski kondisi air kini dilaporkan mulai surut secara bertahap.
