Bencana tanah longsor melanda kawasan perbatasan di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Peristiwa yang dipicu oleh tingginya intensitas hujan pada struktur tanah labil tersebut meluas dan memutus total jalur darat utama, hingga menyebabkan 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa di 13 desa terisolasi.
Ketiga belas wilayah terdampak isolasi tersebut meliputi Desa Long Pa’sia, Liang Lunuk, Long Budung, Pa’ Dalan, Pa’ Urang, Pa’tera, Pa’ Sing, Long Pupung, Pa’ Upan, Long Birar, Pa’ Kaber, Pa’ Amai, dan Pa’ Ibang.
Merespons perluasan dampak kelangkaan pasokan kebutuhan dasar, Bupati Nunukan menerbitkan Keputusan Bupati Nomor 478 Tahun 2026 yang menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Tanah Longsor di Kecamatan Krayan Selatan. Masa tanggap darurat ini berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Juli 2026.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyatakan telah memerintahkan Kedeputian Penanganan Darurat untuk langsung menerjunkan tim taktis ke lokasi bencana guna mendampingi kendali operasi pemulihan di tingkat daerah.
“Kami terus memantau perkembangan hasil kaji cepat di lapangan dan dalam kesempatan pertama saya perintahkan tim untuk menuju ke sana,” tegas Suharyanto, Jumat, (17/7/2026).

Krisis Energi dan Hambatan Distribusi Logistik Perbatasan
Lumpuhnya konektivitas darat yang menghubungkan Kecamatan Krayan Barat dan Kecamatan Krayan Selatan turut menghancurkan jembatan penghubung utama antarkawasan. Dampak turunannya memicu kelumpuhan total pada armada truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi maupun subsidi dari Desa Long Bawan menuju Desa Long Kayu.
Imbas dari mandeknya pasokan BBM berujung pada krisis energi domestik. Pembangkit listrik setempat yang biasanya menyuplai daya selama 12 jam per hari, kini merosot tajam dan hanya mampu beroperasi selama empat jam, yakni mulai pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan merinci bahwa kebutuhan darurat yang mendesak bagi ribuan warga terisolasi saat ini meliputi pasokan BBM operasional turbin listrik, pemenuhan obat-obatan, pasokan khusus susu balita, serta komoditas pangan pokok seperti beras. BNPB bersama lintas instansi regional kini mengupayakan pembukaan akses alternatif guna menembus isolasi wilayah perbatasan tersebut.
(Dayank Ana)