Kebakaran hebat yang melanda lahan utama Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin seluas kurang lebih 15 hektare di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, dinyatakan telah berhasil dipadamkan 100 persen. Otoritas penanggulangan bencana kini memfokuskan operasi darurat pada fase pendinginan intensif di bawah permukaan tumpukan sampah guna meminimalkan munculnya titik api baru.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari memastikan, seluruh rangkaian kabut asap maupun manuver operasi pemadaman udara yang berlangsung di lokasi kejadian tidak memberikan dampak negatif terhadap objek vital nasional di sekitar wilayah Tangerang.
“BNPB bersama otoritas terkait memastikan bahwa seluruh rangkaian kabut asap maupun aktivitas pemadaman udara di TPA Jatiwaringin sama sekali tidak mengganggu atau menghambat aktivitas lalu lintas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/7/2026).
Meskipun blok utama TPA telah terkendali dan seluruh warga terdampak telah difasilitasi untuk kembali ke rumah masing-masing sehingga jumlah pengungsi nihil, tim gabungan masih bersiaga. Petugas di lapangan mendeteksi adanya kepulan asap tipis dan titik panas yang muncul di luar kawasan perimeter TPA, tepatnya di area pembuangan sampah yang berdekatan dengan situ atau danau.
Baca Juga TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB Kirim Helikopter dari Jambi
Secara legalitas hukum, percepatan penanganan ini berjalan di bawah payung Keputusan Bupati Kabupaten Tangerang Nomor 609 Tahun 2026 mengenai Status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran TPA Jatiwaringin, serta Keputusan Nomor 613 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Penanganan Darurat.
Pengerahan Helikopter Water Bombing dan Hambatan Cuaca
Dalam mempercepat pemadaman, BNPB mengerahkan dukungan penuh berupa empat unit helikopter Water Bombing (WB). Berdasarkan catatan capaian harian per 9 Juli 2026, tiga helikopter beroperasi memuntahkan ratusan ribu liter air, sementara satu unit mengalami gangguan teknis.
Helikopter Mi-8AMT melaksanakan 1 sortie dengan jam terbang 3 jam 58 menit dan melakukan 45 kali water bombing (180.000 liter). Helikopter Sikorsky UH60A mencatatkan 2 sortie selama 5 jam 43 menit dengan 54 kali pemboman air (216.000 liter), meskipun sempat melakukan prosedur Return to Base (RTB) akibat kendala pada bucket. Selanjutnya, Sikorsky UH60L melaksanakan 2 sortie dengan jam terbang 8 jam 4 menit dan melakukan 88 kali water bombing (352.000 liter).
“Mi-8 MSBT hari ini dilaporkan unserviceable atau perbaikan teknis,” ungkap Abdul Muhari terkait armada udara keempat.
Baca Juga BNPB Petakan Sebaran Bencana Kekeringan, Karhutla, dan Angin Kencang di Daerah

Selain logistik udara, BNPB menyalurkan 500 liter Enviro Class A Foam (cairan racun api), 60 unit PT 5000, 25 rol selang, 3 unit pompa mini striker, serta dukungan peralatan darat lainnya untuk memperkuat taktik pemadaman.
Di sektor darat, kekuatan penuh digerakkan dengan melibatkan 50 unit armada pemadam kebakaran gabungan dari wilayah Banten, Tangerang, perwakilan swasta, serta TNI dan Polri. Tim turut mengerahkan 19 unit alat berat ekskavator untuk mengurai gunung sampah guna membuka akses jalan. Sebanyak 38 personel Manggala Agni diterjunkan melakukan penyisiran dengan cairan kimia langsung dari jalur pipa air baru.
Kendati api di atas permukaan dinyatakan nihil, pembasahan sisa asap terhambat oleh faktor alam. Rencana pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan buatan belum dapat dieksekusi oleh tim gabungan.
“Rencana Operasi Modifikasi Cuaca belum dapat dieksekusi dikarenakan faktor alam, yakni belum tersedianya pertumbuhan awan potensial di atas area TPA,” pungkas Abdul Muhari.
(Rudi)