Jum, 10/07/26 · 08.41.30
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nusantara

Pakar Silvikultur Tropika Untan Paparkan Metode Pemulihan Tanah Kritis dan Pemilihan Vegetasi di IKN

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Jumat, 10 Juli 2026 · 14:153 menit baca
Pakar Silvikultur Tropika Untan Paparkan Metode Pemulihan Tanah Kritis dan Pemilihan Vegetasi di IKN
Hanna Artuti Ekamawanti dari Universitas Tanjungpura menjelaskan teknik restorasi tanah IKN menggunakan inokulum mikoriza dan legume cover crop. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Proses pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa dampak nyata terhadap ekosistem hutan tropis. Guna mengembalikan fungsi alam yang terganggu akibat pembukaan lahan tersebut, diperlukan intervensi teknologi silvikultur yang terstruktur agar pemulihan ekologis tidak memakan waktu hingga ratusan tahun.

Guru Besar Silvikultur Tropika Universitas Tanjungpura, Hanna Artuti Ekamawanti, menjelaskan bahwa kawasan IKN bisa sjaa memiliki variasi kondisi lahan, mulai dari area yang masih bervegetasi hingga lahan terbuka yang sepenuhnya rusak. Penanganan kedua kondisi ini menuntut pendekatan ilmiah yang berbeda melalui skema suksesi.

“Kalau yang dari sudah tidak ada vegetasi lagi untuk dikembalikan, kita harus ikuti proses suksesi primer. Kemudian, kalau yang dari hutan yang masih ada vegetasinya, itu namanya suksesi sekunder. Sekarang tinggal kita arahnya mau ke mana nih? Kalau ke restorasi, kita harus memilih jenisnya adalah harus jenis-jenis endemik yang asli setempat,” ujar Hanna Artuti Ekamawanti Kamis, (9/7/2026).

Hanna menegaskan, jika target pembangunan diarahkan pada restorasi total, pemerintah tidak boleh menanam komoditas non-endemic. Langkah restorasi harus menyerupai proses restore pada sistem komputer, yaitu mengembalikan seluruh fungsi dan vegetasi ke kondisi semula sebelum terjadi kerusakan.

Progres Signifikan Infrastruktur IKN, Konstruksi Tol Segmen 5B Tembus 96 Persen
Baca Juga

Progres Signifikan Infrastruktur IKN, Konstruksi Tol Segmen 5B Tembus 96 Persen

(Dok. Humas OIKN)

Rekayasa Fisik Tanah Menggunakan Bahan Organik dan Mikroorganisme
Dalam memulihkan tanah mineral Indonesia yang umumnya miskin bahan organik setelah lapisan atasnya (top soil) tercuci, Hanna mengingatkan agar pengelola lahan tidak langsung melakukan pemupukan kimia. Tanpa perbaikan struktur fisik, unsur hara pada pupuk akan langsung hilang terbawa aliran air permukaan.

“Kenapa penting perbaikan sifat fisik tanahnya? Karena kalau tanahnya tidak diperbaiki sifat fisiknya, dia tidak bisa menahan atau mengikat atau menjerap. Menjerap itu nempel, jadi unsur-unsur hara itu nempel di bahan organik supaya tidak mudah tercuci ketika hujan. Jadi kalau misalnya tanah-tanah yang sudah rusak itu dipupuk tapi bahan organiknya rendah, itu pupuknya hanya bisa ketahan di situ, nanti kalau hujan turun udah tercuci. Maksudnya pupuknya itu sia-sia,” paparnya.

Perbaikan tanah kritis dapat dipercepat dengan penambahan kompos, serasah hutan, maupun limbah pertanian seperti tandan kosong kelapa sawit yang telah dicacah secara mekanis. Untuk lahan terbuka yang sama sekali tidak memiliki vegetasi seperti bekas tambang, Hanna merekomendasikan penanaman tanaman penutup dari jenis kacang-kacangan (legume cover crop).

Tanaman legum merambat dipilih karena mampu bertahan hidup di media yang miskin hara. Selain itu, jenis ini memiliki bintil akar yang bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen dari udara, serta hidup bersama fungi mikoriza arbuskula (FMA) yang membantu mempercepat penyerapan nutrisi melalui jaringan hifa.

Tunggu Infrastruktur Rampung, Proyek Kota Terpadu Ciputra di WP 2 IKN Bersiap Konstruksi
Baca Juga

Tunggu Infrastruktur Rampung, Proyek Kota Terpadu Ciputra di WP 2 IKN Bersiap Konstruksi

“Ketika kita membuat bibit di persemaian, kita sudah sengaja kasih yang namanya inokulum. Inokulum ini kita kasih bakterinya sengaja di tanaman itu, di medianya kita sengaja kasih fungi. Supaya ketika bibit ini dipindahkan ke lapangan, bakteri dan fungi ini membantu mempercepat pertumbuhan tanaman. Kalau secara alami butuh ratusan tahun, dengan campur tangan manusia, misalnya 15 tahun sudah terbentuk hutan yang mampu menciptakan iklim mikro,” jelas Hanna.

Diferensiasi Fungsi Hutan Kota dan Hutan Alami
Lebih lanjut, Hanna menggarisbawahi parameter pemenuhan definisi hutan berdasarkan undang-undang kehutanan dan pendekatan ekologi. Menurutnya, sebuah kawasan sekumpulan pohon baru dapat dikategorikan sebagai hutan apabila bentang vegetasinya telah mampu menciptakan iklim mikro yang menurunkan suhu sekitar, berbeda dengan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit.

Khusus untuk area pusat pemerintahan, pengembangan hutan kota memiliki indikator capaian yang berbeda dengan hutan konservasi alami. Hutan kota wajib mengombinasikan fungsi estetika visual tajuk pohon dengan kemampuan ekologis spesifik.

“Kalau di hutan kota, selain estetika juga dia harus tanaman yang bisa menangkap polutan. Karena kalau di kota kan polusinya dari kendaraan bermotor. Nah, ada tanaman-tanaman pohon yang bisa menyerap polutan hasil buangan limbah, misalnya Pb (timbal), logam berat hasil pembuangan kendaraan bermotor. Kemudian dia harus bisa menangkap air biar nggak terjadi surface run-off (aliran permukaan) dan menahan erosi supaya tidak mudah longsor,” pungkasnya.

(Dayank Ana Sebalu)