Proses pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa dampak nyata terhadap ekosistem hutan tropis. Guna mengembalikan fungsi alam yang terganggu akibat pembukaan lahan tersebut, diperlukan intervensi teknologi silvikultur yang terstruktur agar pemulihan ekologis tidak memakan waktu hingga ratusan tahun.
Guru Besar Silvikultur Tropika Universitas Tanjungpura, Hanna Artuti Ekamawanti, menjelaskan bahwa kawasan IKN bisa saja memiliki variasi kondisi lahan, mulai dari area yang masih bervegetasi hingga lahan terbuka yang sepenuhnya rusak. Penanganan kedua kondisi ini menuntut pendekatan ilmiah yang berbeda melalui skema suksesi.
“Kalau yang dari sudah tidak ada vegetasi lagi untuk dikembalikan, kita harus ikuti proses suksesi primer (pemulihan dari lahan yang benar-benar kosong, tanpa sisa vegetasi). Kemudian, kalau yang dari hutan yang masih ada vegetasinya, itu namanya suksesi sekunder (pemulihan pada lahan yang masih menyisakan sebagian vegetasi). Sekarang tinggal kita arahnya mau ke mana nih? Kalau ke restorasi, kita harus memilih jenisnya adalah harus jenis-jenis endemik yang asli setempat,” ujar Hanna Artuti Ekamawanti Kamis, (9/7/2026).
Hanna menegaskan, jika target pemulihan hutan yang rusak diarahkan pada restorasi jangan pilih jenis pohon non-endemic. Langkah restorasi harus menyerupai proses restore pada sistem komputer, yang dikembalikan bukan hanya jenis pohonnya, tapi juga komposisi dan fungsi ekosistem asli secara menyeluruh mendekati kondisi semula.

