Sen, 24/08/26 · 11.54.31
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nusantara

Pakar Silvikultur Tropika Untan Paparkan Metode Pemulihan Tanah Kritis dan Pemilihan Vegetasi di IKN

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Jumat, 10 Juli 2026 · 14:153 menit baca
Pakar Silvikultur Tropika Untan Paparkan Metode Pemulihan Tanah Kritis dan Pemilihan Vegetasi di IKN
Hanna Artuti Ekamawanti dari Universitas Tanjungpura menjelaskan teknik restorasi tanah IKN menggunakan inokulum mikoriza dan legume cover crop. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Proses pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa dampak nyata terhadap ekosistem hutan tropis. Guna mengembalikan fungsi alam yang terganggu akibat pembukaan lahan tersebut, diperlukan intervensi teknologi silvikultur yang terstruktur agar pemulihan ekologis tidak memakan waktu hingga ratusan tahun.

Guru Besar Silvikultur Tropika Universitas Tanjungpura, Hanna Artuti Ekamawanti, menjelaskan bahwa kawasan IKN bisa saja memiliki variasi kondisi lahan, mulai dari area yang masih bervegetasi hingga lahan terbuka yang sepenuhnya rusak. Penanganan kedua kondisi ini menuntut pendekatan ilmiah yang berbeda melalui skema suksesi.

“Kalau yang dari sudah tidak ada vegetasi lagi untuk dikembalikan, kita harus ikuti proses suksesi primer (pemulihan dari lahan yang benar-benar kosong, tanpa sisa vegetasi). Kemudian, kalau yang dari hutan yang masih ada vegetasinya, itu namanya suksesi sekunder (pemulihan pada lahan yang masih menyisakan sebagian vegetasi). Sekarang tinggal kita arahnya mau ke mana nih? Kalau ke restorasi, kita harus memilih jenisnya adalah harus jenis-jenis endemik yang asli setempat,” ujar Hanna Artuti Ekamawanti Kamis, (9/7/2026).

Hanna menegaskan, jika target pemulihan hutan yang rusak diarahkan pada restorasi jangan pilih jenis pohon non-endemic. Langkah restorasi harus menyerupai proses restore pada sistem komputer, yang dikembalikan bukan hanya jenis pohonnya, tapi juga komposisi dan fungsi ekosistem asli secara menyeluruh mendekati kondisi semula.

UGM Gandeng Universitas Balikpapan Perkuat Riset Iklim dan Pendidikan IKN
Baca Juga

UGM Gandeng Universitas Balikpapan Perkuat Riset Iklim dan Pendidikan IKN

(Dok. Humas OIKN)

Rekayasa Fisik Tanah Menggunakan Bahan Organik dan Mikroorganisme
Dalam memulihkan tanah mineral Indonesia yang umumnya miskin bahan organik setelah lapisan atasnya (top soil) tercuci, Hanna mengingatkan agar dalam pemulihan lahan tidak langsung melakukan pemupukan kimia.

“Pupuk kimia yang ditaburkan pada tanah kritis tanpa bahan organik akan mudah tersapu air hujan sebelum sempat diserap akar, karena tanah tak memiliki daya mengikat unsur hara yang cukup,” paparnya.

Perbaikan tanah kritis dapat dipercepat dengan penambahan kompos, serasah hutan, maupun limbah pertanian seperti tandan kosong kelapa sawit yang telah dicacah secara mekanis dan selanjutnya dijadikan kompos. Untuk lahan terbuka yang sama sekali tidak memiliki vegetasi seperti bekas tambang, Hanna merekomendasikan penanaman tanaman penutup dari jenis kacang-kacangan (legume cover crop).

Tanaman legum merambat dipilih karena mampu bertahan hidup di media yang miskin hara. Selain itu, jenis ini memiliki bintil akar yang bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen dari udara, serta hidup bersama fungi mikoriza arbuskula (FMA) yang membantu mempercepat penyerapan nutrisi melalui jaringan hifa (jaringan halus mirip akar rambut yang membantu tanaman menyerap air dan hara dari tanah).

Puluhan Ahli Tata Kota Asia Pasifik Kunjungi IKN Bahas Desain Berkelanjutan
Baca Juga

Puluhan Ahli Tata Kota Asia Pasifik Kunjungi IKN Bahas Desain Berkelanjutan

“Ketika kita membuat bibit di persemaian, kita sudah sengaja kasih yang namanya pupuk hayati mikoriza dan atau bakteri penambat nitrogen. Pupuk hayati ini kita berikan saat pengecambahan benih tanaman hutan dan saat penyapihan bibit agar ketika bibit dipindahkan ke lapangan, bakteri dan fungi ini membantu mempercepat pertumbuhan tanaman. Kalau secara alami butuh ratusan tahun untuk kembali menjadi hutan klimaks, dengan campur tangan manusia waktunya dipersingkat. Persisnya butuh berapa tahun?  Tidak dapat ditentukan, karena banyak faktor yang turut berpengaruh sampai terbentuk hutan yang mampu menciptakan iklim mikro,” jelas Hanna.

Diferensiasi Fungsi Hutan Kota dan Hutan Alami
Lebih lanjut, Hanna menggarisbawahi parameter pemenuhan definisi hutan berdasarkan undang-undang kehutanan dan pendekatan ekologi. Menurutnya, sebuah kawasan yang cukup luas dengan sekumpulan pohon baru dapat dikategorikan sebagai hutan apabila bentang vegetasinya telah mampu menciptakan iklim mikro yang kondisi lingkungannya khas serta berbeda dengan areal luarnya.

Khusus untuk area pusat pemerintahan, pengembangan hutan kota memiliki indikator capaian yang berbeda dengan hutan konservasi alami. Hutan kota wajib mengombinasikan fungsi estetika visual tajuk pohon dengan kemampuan ekologis spesifik.

“Kalau di hutan kota, selain estetika juga dia harus tanaman yang bisa menangkap polutan. Karena kalau di kota kan polusinya dari kendaraan bermotor. Nah, ada tanaman-tanaman pohon yang bisa menyerap polutan hasil buangan limbah, misalnya Pb (timbal), logam berat hasil pembuangan kendaraan bermotor. Kemudian dia harus bisa menangkap air biar nggak terjadi surface run-off (aliran permukaan) dan menahan erosi supaya tidak mudah longsor,” pungkasnya.

(Dayank Ana Sebalu)