Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengantisipasi potensi ancaman bencana lanjutan berupa banjir bandang pascagempa bumi bermagnitudo 6,7 di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Berdasarkan hasil pemantauan udara pemerintah daerah menggunakan drone, terdeteksi sedikitnya 24 titik longsoran baru di area perbukitan pascaguncangan tektonik tersebut.
Dari total puluhan titik longsoran tersebut, empat titik di antaranya terpantau mengalami penyumbatan material yang menahan laju air. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya banjir bandang jika wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Kepala BNPB Suharyanto menginstruksikan jajaran kedaruratan dan personil di lapangan untuk segera melakukan penjebolan material sumbatan secara taktis menggunakan pompa alkon sebagai langkah penanganan sementara.
“Akibat hujan airnya tertahan, dikhawatirkan apabila curah hujan semakin tinggi akan berpotensi risiko terjadinya banjir bandang, tadi sudah sepakat akan dijebol dengan menggunakan pompa alkon pada bagian yang tersumbat,” kata Suharyanto saat memimpin rapat koordinasi di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.
Baca Juga Korban Meninggal Gempa Sigi Bertambah Jadi Tiga Orang, 1.652 Rumah Rusak
Penyaluran Bantuan Stimulan Rumah dan Fasilitas Ibadah
Selain mitigasi risiko geologis di area perbukitan, Suharyanto menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan fisik bangunan yang rusak akibat gempa. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan dipastikan akan menerima skema dana stimulan perbaikan senilai Rp15 juta untuk kategori rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk kategori rusak berat.
Bagi keluarga dengan tingkat kerusakan rumah berkategori berat, BNPB menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH). Fasilitas dana ini dialokasikan untuk membantu biaya sewa tempat tinggal sementara atau menumpang di rumah kerabat selama proses pembangunan hunian tetap (Huntap) berjalan.
Suharyanto juga menyetujui penyediaan fasilitas ibadah darurat berupa 10 unit tenda berukuran besar untuk menggantikan sementara fungsi gereja dan masjid yang mengalami kerusakan struktural berat di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki.
“Gereja yang rusak, karena Minggu besok sudah ibadah minta Gereja sementara, kami sudah menyanggupi, besok akan kita bangunkan tenda dulu yang lebih besar lalu selanjutnya akan dibuat Gereja sementara. Hal ini juga berlaku untuk tempat ibadah Masjid, tadi kita melakukan shalat jumat di Masjid, nah perlakuannya pun akan sama kita bangunkan Masjid sementara,” jelas Suharyanto.
Baca Juga Cornelis Dukung Penguatan Anggaran Kementerian Investasi demi Target Rp2.041 Triliun
Merespons penanganan cepat ini, Yansen, salah seorang warga Desa Kamarora B menyatakan bantuan tenda pengungsian tersebut sangat membantu perlindungan warga dari cuaca ekstrem.
“Alhamdulillah, saya bersyukur pak ada tenda BNPB, kalau kemarin ada angin masuk dingin sampai ke dalam, sekarang sudah lebih nyaman,” ungkap Yansen.

Fase Tanggap Darurat dan Ratusan Gempa Susulan
Berdasarkan data kaji cepat berkala, dampak guncangan yang berpusat di darat kawasan Parigi Moutong pada Selasa (16/6/2026) lalu telah menyebabkan tiga orang warga Sigi meninggal dunia akibat trauma fisik dan serangan jantung.
Hingga Kamis (18/6/2026), BMKG mengonfirmasi adanya 703 kali aktivitas gempa bumi susulan. Rentetan getaran sekunder ini memicu sebagian besar warga memilih untuk tetap bertahan di area pengungsian terbuka.
Guna melegalisasi percepatan penanganan dampak kebencanaan serta mobilisasi logistik lintas sektor, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberlakukan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 17 hingga 23 Juni 2026.
Baca Juga BNPB Rilis Data Bencana: 3 Tewas Akibat Gempa Sulteng, Banjir dan Kekeringan Melanda Sejumlah Daerah
BNPB bersama jajaran TNI, Polri, dan relawan lokal terus bersiaga di lapangan untuk mendistribusikan ratusan paket logistik permakanan, matras, selimut, kasur lipat, hingga perlengkapan anak (kids ware) ke seluruh titik penampungan warga.
(Hendrawan)