Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia untuk periode 24 hingga 25 Juni 2026. Berdasarkan data mutakhir, bencana kekeringan yang memicu krisis air bersih mulai mendominasi di berbagai daerah seiring meluasnya wilayah yang memasuki musim kemarau. Selain kekeringan, otoritas kebencanaan juga tengah memantau penanganan tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir rob, serta pemulihan pascagempa.
Di Pulau Jawa, kekeringan baru tercatat melanda Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang berdampak pada 42 kepala keluarga (KK) atau 125 jiwa di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro. BPBD Kabupaten Boyolali dilaporkan telah menyalurkan bantuan air bersih secara merata, aman, dan tertib kepada seluruh warga yang membutuhkan.
Sementara di Jawa Barat, siaga darurat kekeringan telah ditetapkan di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor hingga 30 September 2026. Dampak di Bekasi mencapai 2.172 KK atau 5.425 jiwa, dengan akumulasi distribusi air bersih dari BPBD mencapai 130.000 liter. Adapun di Kabupaten Bogor, kekeringan berdampak pada 1.141 KK atau 4.092 jiwa, di mana pasokan air bersih terus dipasok ke wilayah Kecamatan Nanggung.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Jawa Tengah lainnya seperti Banjarnegara (siaga darurat hingga 19 September) yang berdampak pada 339 KK atau 2.069 jiwa, serta Klaten dengan dampak mencapai 2.161 KK atau 6.859 jiwa. Di Klaten, akumulasi distribusi air bersih telah menembus 121 tangki atau setara 605.000 liter air. Sedangkan di Cilacap, kekeringan berdampak pada 667 KK atau 2.386 jiwa, dengan penyaluran bantuan menyasar Kecamatan Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan Gandrungmangu.
Baca Juga Korban Meninggal Gempa Sigi Bertambah Jadi Tiga Orang, 1.652 Rumah Rusak
Di luar Pulau Jawa, krisis air bersih akibat kemarau menghantam Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan total dampak mencapai 4.245 KK atau 12.008 jiwa. Pasokan air bersih sebanyak 450.000 liter dialokasikan untuk menjangkau empat desa dan sembilan dusun di wilayah tersebut.
Penanganan Karhutla, Longsor, dan Rob
Selain kekeringan, laporan BNPB juga menyoroti peristiwa karhutla baru di Kampung Mekar Sari, Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang menghanguskan sekitar 50 hektare lahan. Api berhasil dikendalikan oleh tim gabungan dan kondisi lapangan kini dilaporkan kondusif.
Sementara di Kalimantan Tengah, total akumulasi luasan karhutla sejak 1 Januari hingga 24 Juni 2026 telah mencapai 457,22 hektare, atau bertambah 0,44 hektare dari laporan sebelumnya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status siaga darurat karhutla yang berlaku sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.
Untuk bencana geologi, tanah longsor dilaporkan memicu pengungsian di Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 10 KK atau 39 jiwa terpaksa mengungsi ke tenda darurat dan 25 KK atau 87 jiwa lainnya berada dalam zona risiko tinggi terdampak amblesan tanah. Otoritas setempat telah memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dari Puskesmas Kie serta menyalurkan sembako bagi para pengungsi.
Baca Juga BNPB Rampungkan Perbaikan 72 Huntara Terdampak Puting Beliung di Aceh Utara
Di sisi lain, banjir rob yang melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berangsur surut. Bencana ini berdampak pada 127 KK dengan 73 unit rumah terdampak, namun kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih, pendidikan, dan layanan kesehatan dipastikan masih terpenuhi dengan baik.
Percepatan Pemulihan Pascagempa Sulawesi Tengah
Mengenai penanganan pascabencana, pemulihan dampak gempa bumi yang melanda empat kabupaten dan satu kota di Sulawesi Tengah sejak Selasa, 16 Juni lalu, terus diakselerasi. Bencana tersebut tercatat merenggut tiga korban jiwa di Kabupaten Sigi, mengakibatkan 14 jiwa luka berat, 81 jiwa luka ringan, serta berdampak total pada 3.671 KK atau 9.827 jiwa.
Perkembangan mutakhir menunjukkan logistik bantuan tahap III dari BNPB telah tiba di lokasi. Otoritas terkait juga telah melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan hunian sementara (huntara) di Kabupaten Sigi sebagai bagian dari target percepatan pemulihan fisik para pengungsi.
Menyikapi meluasnya dampak musim kemarau, BNPB secara resmi mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi struktural. Pemda diharapkan memastikan keandalan cadangan air bersih, sementara masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, serta proaktif melaporkan potensi karhutla maupun kondisi darurat lainnya kepada pihak berwenang.
(Dayank Ana)