Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat serangkaian insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda empat provinsi di Indonesia dalam rentang waktu Jumat (7/8/2026) hingga Sabtu, (8/8/2026) pukul 07.00 WIB.
Peristiwa karhutla pertama terdeteksi di Hutan Baru Marandor Nagori Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat, (7/8/2026) sekira pukul 18.45 WIB.
Lahan pertanian warga seluas satu hektare dilaporkan terbakar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan secara menyeluruh oleh tim gabungan BPBD Simalungun bersama petugas pemadam kebakaran.
Insiden beruntun juga melanda Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, di mana kobaran api menghanguskan satu hektare lahan di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, pada pukul 11.15 WIB.
Baca Juga BNPB Catat Karhutla Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia
Tim pemadam kebakaran setempat berhasil memadamkan api pada hari yang sama, sementara penyebab pasti kebakaran masih berada dalam tahap penyelidikan kepolisian.
Di wilayah Sulawesi Selatan, kebakaran lahan seluas 1,5 hektare melanda Desa Sakti di Kecamatan Bua serta Desa Padang Kalua di Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu.
Penanganan darurat dilakukan secara sigap oleh BPBD Kabupaten Luwu bersama Damkarmat Sektor Walenrang dan Ponrang hingga seluruh titik api dipastikan padam total.
Sementara itu, kebakaran hutan turut meluas hingga ke kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang melingkupi wilayah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Baca Juga Karhutla, Kekeringan, dan KLB DBD Melanda Berbagai Daerah di Indonesia
Api yang membakar lahan seluas satu hektare berhasil dipadamkan oleh tim gabungan Resort PTN Gunung Putri, Masyarakat Mitra Polhut, serta jajaran relawan.
Guna menjamin keselamatan publik dan mempermudah penanganan pascakebakaran, pihak Balai Besar TNGGP resmi menghentikan sementara seluruh aktivitas pendakian.
Langkah tegas tersebut dituangkan melalui penerbitan Surat Edaran Nomor SE.18 Tahun 2026 tentang penutupan kegiatan pendakian di Alun-Alun Suryakencana TNGGP.
Merespons maraknya ancaman bahaya hidrometeorologi kering, BNPB merilis peringatan khusus bagi masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana.
Warga dilarang keras membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, serta diimbau segera melapor ke petugas terdekat apabila menemukan munculnya titik api baru.
Antisipasi atas risiko krisis kekeringan yang berpotensi meluas juga ditekankan melalui imbauan penghematan penggunaan air bersih secara bijak.
Baca Juga Karhutla Meluas di Kubu Raya, TNI dan Polri Perkuat Sinergi Pemadaman
Langkah pendistribusian air bersih menggunakan armada mobil tangki disiagakan sebagai opsi darurat jangka pendek, di samping dorongan memanen air hujan selagi potensi pembentukan awan masih terjadi.
(Roska)