Pemantauan terbaru menunjukkan penurunan drastis pada jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional.
Kendati demikian, Kementerian Kehutanan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Senin (21/9) pukul 21.10 WIB, jumlah hotspot high confidence secara nasional tercatat sebanyak 688 titik.
Angka ini mengalami penurunan sebanyak 844 titik jika dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 1.532 titik.
Baca Juga Kemenhut Cabut Izin 5 Perusahaan Penyebab Karhutla di Kalimantan, Total Konsesi Puluhan Ribu Hektare Melayang
Di enam provinsi prioritas, sebaran *hotspot high confidence* tercatat sebagai berikut:
- Kalimantan Tengah: 228 titik, turun dari sebelumnya 968 titik.
- Kalimantan Selatan: 71 titik, mengalami peningkatan dari 39 titik.
- Kalimantan Barat: 36 titik, turun dari 98 titik.
- Sumatera Selatan: 23 titik, turun dari 285 titik.
- Jambi: 2 titik, turun dari 26 titik.
- Riau: 0 titik, turun dari 1 titik.
Secara keseluruhan, hotspot di enam provinsi prioritas tersebut merosot tajam dari 1.417 titik menjadi 360 titik atau berkurang sekitar 74,6 persen dalam kurun waktu satu hari.
Meskipun Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan mencatatkan penurunan terbesar secara jumlah, Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi, sementara Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang mengalami kenaikan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa *hotspot* merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit dan tidak bisa langsung disamakan begitu saja dengan kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar tanpa verifikasi groundcheck di lapangan.
Baca Juga Karhutla Kepung 5 Wilayah RI, Terparah 60 Hektare di Minahasa Utara
Pada Senin (21/9), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meninjau langsung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.
Meskipun sempat terkendala kabut asap yang mengalihkan pendaratan pesawat ke Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, rombongan tetap melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.
Di Camp Peat Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Menhut dan Kepala BNPB memimpin rapat evaluasi bersama lintas instansi. Kepala BNPB memaparkan bahwa dari sekitar 180 hektare area yang sebelumnya terbakar, satgas darat telah berhasil memadamkan sekitar 150 hektare, sementara 30 hektare sisanya masih dalam penanganan intensif mengingat karakteristik lahan gambut yang membuat bara api dapat bertahan di bawah permukaan.
Pemerintah sendiri mengerahkan 64 unit armada udara termasuk helikopter patroli, pesawat Modifikasi Cuaca (OMC) CASA, dan helikopter water bombing untuk mendukung operasi di Sumatera dan Kalimantan.
Operasi udara di Kalteng turut disesuaikan melalui Pangkalan Bun dan Bandara Syamsudin Noor menyusul terbatasnya jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut.
Di lini darat, Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, masyarakat, dunia usaha, dan relawan terus berjibaku melakukan patroli, pemadaman langsung, penyekatan api, pembasahan, hingga pendinginan (mopping up).
Baca Juga Warga Gunung Mas Mengadu, Kebun Karet Digusur Paksa PT Tewah Bahana Lestari
Selain memperkuat operasi pemadaman, Kementerian Kehutanan mengambil langkah hukum yang sangat tegas. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengumumkan pencabutan izin usaha lima perusahaan pemegang PBPH di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah yang wilayah konsesinya terbukti mengalami kebakaran dan pembiaran.
Kelima perusahaan tersebut mencakup total luas konsesi sekitar 92.464 hektare dengan total area yang terbakar mencapai 1.169,13 hektare.
Langkah ini merupakan wujud nyata instruksi Presiden Prabowo Subianto agar penegakan hukum lingkungan dilakukan secara adil dan tegas kepada korporasi besar.
“Ini bagian dari perintah Bapak Presiden, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, tidak hanya kepada yang kecil, tapi juga tajam ke atas,” tegas Menhut Raja Juli Antoni.
Kendati jumlah titik panas telah berkurang, kualitas udara di sejumlah wilayah masih bervariasi dari kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Kabut asap di Kalimantan Tengah sempat membatasi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut hingga sekitar 400 meter pada pagi hari, yang memicu penundaan penerbangan.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker, serta memberikan perhatian ekstra kepada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau asap kepada petugas.
(Tony)