Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Tengah

Titik Panas di Kalteng Melonjak 93 Persen, Lahan Terbakar Naik 147 Persen

Memei
Memei
Jumat, 6 November 2026 · 05:301 menit baca
Titik Panas di Kalteng Melonjak 93 Persen, Lahan Terbakar Naik 147 Persen
BNPB mencatat 821 titik panas di Kalimantan Tengah hingga Kamis (5/11/2026), naik 93 persen dibanding hari sebelumnya. Lahan yang ditangani mencapai 1.641 hektare. (Dok. Auliya)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lonjakan titik panas dan luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Hingga Kamis (5/11/2026), terdeteksi 821 titik panas di provinsi tersebut, naik 93 persen dibanding hari sebelumnya.

Data itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta Timur, yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB.

“Kalimantan Tengah adalah kasus yang paling menonjol, dan provinsi ini mencatat ada 821 titik panas atau naik sebesar 93 persen dari hari kemarin,” kata Berton.

Menurut Berton, lahan di Kalimantan Tengah yang sedang dalam penanganan seluas 1.641 hektare. Angka tersebut meningkat 147 persen. Ia menjelaskan, peningkatan luas lahan juga terjadi di Kalimantan Timur sebesar 53 persen. Sementara itu, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah mencatat penurunan dalam kisaran 20 hingga 50 persen.

Polres Kobar Naikkan Dua Kasus Karhutla ke Penyidikan, 15 Perkara Masih Diselidiki
Baca Juga

Polres Kobar Naikkan Dua Kasus Karhutla ke Penyidikan, 15 Perkara Masih Diselidiki

Berton menyebutkan, karhutla juga terjadi di sejumlah provinsi lain, yakni Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku.

Untuk mendukung pemadaman, BNPB mengerahkan 46 unit armada udara di 12 provinsi. Armada itu terdiri atas 18 pesawat untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca, serta 28 helikopter untuk pengeboman air.

“Terdiri dari 18 pesawat untuk patroli maupun untuk digunakan OMC dan 28 helikopter untuk water bombing,” ujar Berton.

Dari total armada tersebut, 32 unit berasal dari BNPB dan 10 unit dari TNI. Empat unit lainnya berasal dari Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, PT Sinarmas, dan PT LNG.

(Memei)