Puluhan hasil penelitian dipresentasikan dalam International Wood Research Symposium (IWORS) XVIII di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026). Presentasi berlangsung di tiga ruang paralel pukul 13.00–15.30 WIB, dengan peserta antara lain dari Papua Nugini.
Menurut catatan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Prof. Gusti Hardiansyah, setiap pemakalah mendapat waktu sekitar lima menit. Sesi paralel dimulai setelah lima narasumber utama menyampaikan paparan.
“Knowledge is not adoption,” kata Ryan Wirasasmita pada sesi pagi, sebagaimana dicatat oleh Prof. Gusti.
Pengetahuan, menurut catatan itu, belum otomatis menjadi teknologi yang dipakai masyarakat.
Baca Juga Delapan Orangutan Korban Karhutla Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu

Ruang pertama: pengawetan dan mutu kayu
Ruang pertama bertema Forest Product Chemistry and Wood Quality Improvement. Steven Wilfred Komut dari Papua Nugini meneliti ketahanan kayu Trema orientalis yang diawetkan terhadap rayap tanah, sedangkan Paul Marai menguji ketahanan kayu Papua Nugini yang dimodifikasi dan diawetkan. Musrizal Muin membahas prospek natural liquid nanoclay untuk pengawetan kayu.
Mohammad Rafli Ariyansyah dari IPB University membawa teknik Shou Sugi Ban pada kayu mahoni dan mindi, dan Denny Irawati dari UGM membahas biomassa Indigofera tinctoria sebagai bahan bakar padat.
“Teknik pembakaran permukaan ini kami uji pada mahoni dan mindi untuk melihat apakah mutu kayunya dapat ditingkatkan,” kata Rafli.
Baca Juga Peneliti Kayu Indonesia Berkumpul di Yogyakarta, Bahas Bioekonomi dan Bambu untuk Bangunan Modern
Dari Untan, Hikma Yanti meneliti briket arang dari campuran kayu akasia dan tempurung kelapa.
“Briket ini kami buat dari campuran kayu akasia dan tempurung kelapa, supaya bahan yang kurang bernilai dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar,” ujar Hikma.
Munadian, juga dari Untan, memaparkan profil kimia gaharu Aquilaria malaccensis setelah bioinduksi mikroorganisme.
“Kami meneliti perubahan kandungan kimia gaharu setelah diinduksi mikroorganisme, sebagai dasar untuk memahami kualitas hasilnya,” kata Munadian.
Silvia Uthari Nuzaverra Mayang Mangurai dari Untan membahas aktivitas antijamur ekstrak buah mangrove terhadap jamur pelapuk kayu.
“Ekstrak buah mangrove kami uji terhadap jamur pelapuk kayu untuk melihat kemampuannya menghambat pelapukan,” ujar Silvia.
Baca Juga Siklus Asap Dinilai Krisis Struktural, HMI se-Kalimantan Desak Kemenhut Rombak Total Penanganan Karhutla
Penelitian lain di ruang ini mencakup peningkatan mutu kayu jati muda lewat pemanasan dan kompresi (Kustin Bintani Meiganati), impregnasi jabon dengan cuka kayu (Efrida Basri), komposisi kimia tujuh klon hibrida akasia (Ganis Lukmandaru), bioprospeksi tumbuhan obat masyarakat adat Kajang (Syahidah), serta kualitas warna ecoprint eukaliptus (Rini Pujiarti).
Ruang kedua: kayu dan bambu sebagai material
Ruang kedua bertema Wood Characteristics, Biocomposite, Architecture, Timber and Bamboo Engineering. Imran Arra’d Sofianto dari BRIN memakai spektroskopi inframerah dekat untuk mengklasifikasikan asal dan mutu gaharu.
Ribka Febrianty Turnip meneliti aerogel kayu, dan Adik Bahanawan menguji sifat viskoelastis biokomposit kayu transparan.
Atmawi Darwis dari ITB mengkaji bambu laminasi, Sudarmanto meneliti serat batang sawit untuk papan semen penyerap suara, dan Deazy Rachmi Trisatya mengeksplorasi limbah kulit rotan sebagai biomaterial.
“Bambu laminasi punya peluang sebagai bahan konstruksi, tetapi sifat dan mutunya harus dipahami lebih dulu sebelum dipakai,” kata Atmawi.
Dari Untan, Sari Delviana Marbun membandingkan anatomi kayu Xylocarpus moluccensis dan Xylocarpus granatum.
“Perbandingan anatomi ini kami harapkan membantu identifikasi kayu, forensik kayu, dan konservasi spesies,” ujar Sari.
Baca Juga Badan Gambut dan Mangrove Nasional Diusulkan Jadi Orkestrator, Kalimantan Barat Wilayah Uji
Presenter lain membahas bambu yang dipadatkan dengan panas (Vania Kesyara Putri Lyandra), modifikasi permukaan papan bambu laminasi (Muhammad Navis Rofii), dan sifat bambu setelah terpapar air laut (Fikri Nur Apriansyah).
Ruang ketiga: hutan, karbon, dan masyarakat
Ruang ketiga bertema General Forestry. Makkarennu meneliti jejaring sosial usaha gula aren rakyat, Christine Pokana dari Papua Nugini mengkaji perubahan jangka panjang kupu-kupu sayap burung Ratu Alexandra beserta tumbuhan inangnya, dan Tomy Listyanto membahas pemanfaatan jati berdiameter kecil untuk kayu laminasi silang.
Prof. Gusti mempresentasikan penelitian estimasi stok karbon Avicennia marina dengan metode convolutional neural network di Kabupaten Mempawah.
Menurutnya, pertanyaan kuncinya adalah apakah teknologi pengenalan citra dapat membantu pemantauan karbon mangrove secara lebih efisien dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Teknologi pengenalan citra bukan sekadar komputer yang mampu membaca gambar. Pertanyaannya, mampukah ia membantu pemantauan karbon mangrove secara lebih efisien dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Gusti.
Peneliti Untan lainnya membawa topik beragam: Ratna Herawatiningsih tentang pertumbuhan bibit tengkawang pada tanah bekas tambang bauksit, Anggy Riskha Putri Setyadi tentang kelayakan finansial agroforestri di Hutan Desa Kubu Padi, Widia Sri Utami tentang citra drone untuk memperkirakan biomassa dan karbon di KHDTK Untan, Wardatutthoyyibah tentang kerawanan habitat terhadap ancaman manusia, Slamet Rifanjani tentang serangga penyerbuk pada bunga Rhizophora mucronata di Sungai Pinyuh, dan Messalina L. Salampessy tentang partisipasi perempuan dalam tata kelola karbon biru pulau kecil.
“Kami meneliti kelayakan finansial agroforestri di Hutan Desa Kubu Padi, agar manfaat bagi masyarakat desa dapat dihitung,” ujar Anggy.
“Tata kelola blue carbon perlu melibatkan perempuan, karena mereka juga bagian dari masyarakat yang bergantung pada pulau kecil,” kata Messalina.
Baca Juga Cegah Kebakaran Berulang, Kolaborasi Lintas Sektor Alirkan Air Sungai Pawan Basahi Gambut Ketapang
Prof. Gusti Hardiansyah menilai ketiga ruang menjawab persoalan yang sama: bagaimana hasil penelitian dapat dipakai.
“Indonesia tidak kekurangan bahan baku, keanekaragaman hayati, atau peneliti berbakat. Tantangannya adalah menghubungkan penelitian dengan kebutuhan nyata tanpa mengorbankan kelestarian,” tutupnya.
Program acara mencantumkan pengumuman presenter terbaik pada penghujung simposium.
(Roska)