Kam, 06/08/26 · 17.37.54
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Dari Limbah Menjadi Tanggung Jawab: Pelajaran IPAL Sawit dari Kampong Malikin

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Kamis, 6 Agustus 2026 · 22:563 menit baca
Dari Limbah Menjadi Tanggung Jawab: Pelajaran IPAL Sawit dari Kampong Malikin
Pembelajaran pengolahan limbah cair sawit (POME) dari Kampong Malikin Sarawak menggunakan teknologi Covered Anaerobic Lagoon bagi keberlanjutan lingkungan Kalbar. (Dok. Nusantara Post)

Hari ketiga kunjungan di Sarawak membawa kami pada persoalan yang sangat dekat dengan Kalimantan Barat: bagaimana industri kelapa sawit mengolah limbahnya tanpa memindahkan biaya produksi kepada lingkungan. Bersama Adiyani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Barat, serta Osmar, staf bidang lingkungan hidup, saya berkunjung ke Wisma TEK, kantor BM TEK Sdn. Bhd., yang sebelumnya bernama Teknologi Enviro-Kimia (M) Sdn. Bhd.

Di ruang pertemuan itu, Liu Chuan Yew, Direktur Eksekutif TEK, menjelaskan teknologi pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang telah diterapkan di Kampong Malikin, Sarawak. Berdasarkan pemaparan lapangan, teknologi tersebut melayani pabrik berkapasitas 90 ton tandan buah segar per jam, yang terhubung dengan kebun sawit sekitar 8.000 hektare. Kawasan pengolahan limbahnya memerlukan lahan kurang lebih 20 hektare.

Percakapan berlangsung hangat. Saya menyeruput Kopi O kosong, kemudian menambahkan sedikit gula apong buatan Tamburat. Rasanya sederhana, tetapi diskusi yang mengiringinya menyentuh persoalan besar: keberlanjutan industri sawit tidak cukup dibuktikan melalui sertifikat, laporan tahunan, atau slogan hijau. Ukurannya terletak pada kemampuan perusahaan mengendalikan dampak yang benar-benar keluar dari proses produksinya.

Teknologi yang diperkenalkan menggunakan Covered Anaerobic Lagoon, yakni kolam anaerob yang ditutup geomembran HDPE atau High-Density Polyethylene. Limbah cair pabrik kelapa sawit, yang dikenal sebagai POME atau Palm Oil Mill Effluent, mula-mula masuk ke cooling pond untuk menurunkan suhu. Limbah kemudian melewati tahap pengasaman, kolam anaerob tertutup, aerasi, pengendapan, kolam indikator, pengujian akhir, lalu discharge atau digunakan kembali apabila mutunya memungkinkan.

Fokus Hilirisasi, Pemprov Kaltim Dorong Modernisasi Tata Kelola Industri Kelapa Sawit
Baca Juga

Fokus Hilirisasi, Pemprov Kaltim Dorong Modernisasi Tata Kelola Industri Kelapa Sawit

Penutupan kolam menciptakan kondisi yang lebih terkendali bagi mikroorganisme anaerob untuk menguraikan bahan organik. Proses biologis inilah yang menurunkan Biochemical Oxygen Demand atau BOD dan Chemical Oxygen Demand atau COD. HDPE bukan alat penyaring BOD and COD. Membran tersebut berfungsi menutup kolam, menahan bau, mengurangi pelepasan gas secara langsung, serta menangkap metana agar dapat dibakar melalui flare atau dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Dalam rekaman percakapan lapangan, Adiyani menegaskan:

“Dengan teknologi ini, beban BOD dan COD makin berkurang sehingga pencemaran dari limbah CPO dapat dikendalikan.”

Pernyataan tersebut tepat dalam kerangka pengelolaan lingkungan. Semakin rendah beban organik efluen, semakin kecil kebutuhan oksigen untuk menguraikannya ketika air memasuki badan penerima. Namun, hubungan itu hanya berlaku apabila seluruh rangkaian IPAL bekerja, operator menjaga waktu tinggal, aerator berfungsi, lumpur dikuras, dan hasil laboratorium memenuhi baku mutu sebelum pembuangan.

Dari Gambut ke Pasar Dunia: Pelajaran Nanas Sarawak untuk Kubu Raya
Baca Juga

Dari Gambut ke Pasar Dunia: Pelajaran Nanas Sarawak untuk Kubu Raya

Karena itu, memasang HDPE tidak boleh dianggap sebagai penyelesaian tunggal. Membran yang tertutup rapi dapat memberi kesan teknologi maju, tetapi kinerja lingkungan tetap ditentukan oleh data BOD, COD, TSS, minyak dan lemak, pH, suhu, debit, serta kualitas air pada titik keluar. Keterangan operator bahwa membran diganti setiap lima tahun juga merupakan praktik di lokasi ini, bukan ketentuan universal. Umur teknisnya dipengaruhi mutu material, kualitas pengelasan, suhu, sinar ultraviolet, tekanan biogas, genangan hujan, dan pemeliharaan.

Pelajaran ini penting bagi Kalimantan Barat. Daerah penghasil sawit tidak seharusnya hanya menghitung tonase CPO, nilai ekspor, dan penerimaan ekonomi. Pemerintah perlu menghitung pula beban pencemaran, emisi metana, risiko kebocoran, serta daya dukung sungai di sekitar pabrik. Pengawasan harus bergeser dari pemeriksaan administratif menuju pemantauan berbasis kinerja. Perusahaan wajib menunjukkan tren mutu efluen dari waktu ke waktu, bukan hanya satu hasil pengujian ketika inspeksi berlangsung.

Teknologi ini berhubungan langsung dengan SDG 6, terutama Target 6.3 mengenai peningkatan kualitas air dan pengurangan pembuangan air limbah yang tidak aman. Penangkapan serta pemanfaatan biogas mendukung SDG 7 tentang energi bersih. Pengendalian metana berkaitan dengan SDG 13 mengenai aksi iklim, sedangkan produksi yang memasukkan biaya lingkungan ke dalam keputusan investasi memperkuat SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan pengolahan air limbah dan peningkatan kualitas air sebagai bagian utama Target 6.3:

https://sdgs.un.org/goals/goal6

Dari Gula Apong, Nanas Gambut hingga Pandan Wangi: Belajar Nilai Tambah dari Samarahan
Baca Juga

Dari Gula Apong, Nanas Gambut hingga Pandan Wangi: Belajar Nilai Tambah dari Samarahan

Kunjungan ke TEK akhirnya mengajarkan satu hal mendasar: keberlanjutan bukan ditentukan oleh keberadaan teknologi, melainkan oleh konsistensi mengoperasikan, mengukur, mengaudit, dan memperbaikinya.

Kalimantan Barat perlu menguji penerapan teknologi ini melalui proyek percontohan pada pabrik dengan karakteristik yang terukur. Hasilnya kemudian dibandingkan berdasarkan penurunan beban BOD dan COD, emisi metana yang berhasil ditangkap, biaya selama umur proyek, serta mutu badan air penerima. Dari sanalah kebijakan dapat dibangun, bukan dari klaim, melainkan dari bukti.

Penulis: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
POKJA REDD+ Kalbar

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.