Selepas hiruk-pikuk Kuching Waterfront , makan siang, dan menunaikan jamak taqdim Zuhur-Asar, rombongan kembali bergerak.
Arah berikutnya: Santubong .
Kalau pagi tadi kami berhadapan dengan Patung Kucing yang tidak pernah bergerak, sore itu kami bertemu penghuni Borneo yang sama sekali tidak mau diatur untuk berfoto.
Lutung.
Baca Juga Waspada Tanpa Panik: Membaca Karhutla Kalimantan Dengan Data
Begitu memasuki kawasan Santubong, papan besar bertuliskan Sarawak Delta Geopark segera menyambut. Pada papan interpretasi terlihat pula penanda CHS1 Kampung Budaya Sarawak sebagai salah satu cultural site di dalam bentang geopark.
Sarawak Delta Geopark memang bukan hanya soal batuan. Kawasan ini memadukan warisan geologi, biodiversitas, pesisir, hutan, dan kebudayaan.
Tetapi sebelum bicara geologi terlalu jauh, udara Santubong lebih dahulu memberi perintah.
Panas.
Baca Juga Harga TBS yang Adil, Kemitraan yang Sehat
Dan ketika cuaca panas bertemu rombongan yang sejak pagi berjalan, ilmu konservasi untuk beberapa menit harus bernegosiasi dengan kebutuhan paling konkret:
es krim dan minuman dingin.
Ada gerai ice cream tempatan.
Ada air jus.
Ada mee Jawa.
Ada beef noodle .
Baca Juga Desa Cendikia: Ketika Tambang Rakyat Menjadi Laboratorium Peradaban
Kalau dilihat dari papan menu, kawasan ini memang paham bahwa manusia yang sedang healing tetap memerlukan kalori.
Tidak perlu seminar panjang.
Cuaca panas, es krim dingin.
Itu hubungan sebab-akibat yang mudah disepakati.
LALU YANG DATANG BUKAN KUCING
Di tengah suasana santai itu, perhatian kami justru berpindah ke pepohonan.
“Ada monyet!”
Baca Juga ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Desa Cendekia hingga Isu Strategis Dibawa ke Muktamar VIII
Kamera segera terangkat.
Yang terlihat ternyata bukan sekadar monyet biasa.
Sekelompok silvered leaf monkey atau silvery langur , secara ilmiah dikenal sebagai Trachypithecus cristatus , sedang berada di sekitar pepohonan.
Lutung kelabu hinggap di dahan pohon tinggi kawasan hutan Santubong. (Dok. Gusti Hardiansyah)
Ada yang duduk bergerombol di tanah.
Ada yang naik ke cabang.
Ada pula yang terlihat seperti satu keluarga: induk, anak, dan anggota kelompok lainnya.
Kalau manusia datang ke Santubong untuk healing , tampaknya mereka sudah lebih dahulu menguasai tempat itu.
Lutung kelabu ini merupakan bagian dari Borneo biodiversity . Satwa ini dikenal sebagai primata pemakan daun yang banyak beraktivitas di tajuk pohon dan hidup dalam kelompok.
Baca Juga ICMI Kalimantan Barat Sampaikan Policy Note, Dorong Pergeseran dari Pemadaman Krisis ke Tata Kelola Kebakaran Adaptif
Jadi sore itu kami tidak sekadar mendapatkan objek foto.
Kami sedang melihat langsung satu bagian dari keanekaragaman hayati Borneo.
FOTO BOLEH, JANGAN MENGGANGGU
Ada satu pelajaran sederhana ketika bertemu satwa liar.
Manusia selalu ingin mendekat.
Kamera ingin lebih dekat lagi.
Satwa liar justru membutuhkan jarak.
Ini sering menjadi paradoks pariwisata alam.
Kita ingin melihat biodiversitas sedekat mungkin, tetapi biodiversitas dapat bertahan justru ketika manusia tahu kapan harus berhenti mendekat.
Baca Juga ICMI Kalbar Integrasikan IPTEK dan IMTAQ Membangun Daerah
Ecotourism tidak diuji dari seberapa dekat kita bisa membuat selfie bersama satwa.
Ia diuji dari apakah setelah kita pulang, satwa itu masih dapat berperilaku sebagaimana mestinya.
Untunglah lutung-lutung sore itu tampaknya lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri daripada memperhatikan rombongan kami.
Mereka duduk.
Bergerak.
Naik ke cabang.
Sesekali seperti memperhatikan manusia di bawah.
Entah apa komentar mereka.
Kalau boleh menerjemahkan ekspresinya, mungkin:
“Ini rombongan dari mana lagi?”
Baca Juga Gusti Hardiansyah Tawarkan Peta Jalan Pasar Karbon Kalbar
HEALING YANG TIDAK HARUS MEMBANGUN BETON
Di bawah pepohonan terdapat tempat-tempat sederhana untuk duduk, makan, minum, dan beristirahat.
Tidak semuanya harus dibuat megah.
Ini menarik.
Kita sering mempunyai kecenderungan mengukur kemajuan destinasi wisata dari banyaknya beton, bangunan, lampu, dan fasilitas baru.
Padahal pada kawasan seperti Santubong, justru pohon, satwa liar, udara pantai, dan lanskap alami itulah modal utamanya.
Kalau semuanya dibangun, dibersihkan, diterangi, dan dibuat terlalu rapi, jangan-jangan yang hilang justru alasan orang datang.
Seekor lutung yang bebas bergerak di pohon mempunyai nilai pengalaman yang tidak dapat digantikan patung lutung sebesar apa pun.
Itulah kritik kecil bagi pembangunan wisata alam.
Jangan sampai demi menjual alam, kita justru menghilangkan alam yang hendak dijual.
GEOPARK BUKAN HANYA BATU
Baca Juga Polresta Pontianak Pikirkan Penyelundupan 593 Kg Sisik dan Kuku Trenggiling
Istilah geopark kadang membuat orang membayangkan batu.
Padahal bentang alam tidak pernah bekerja sendirian.
Batuan membentuk tanah.
Tanah menopang vegetasi.
Vegetasi menyediakan habitat.
Habitat menopang satwa.
Manusia kemudian membangun kebudayaan dan ekonomi di atas seluruh sistem itu.
Itulah mengapa Sarawak Delta Geopark menarik.
Ia mempertemukan geodiversity , biodiversity , dan cultural diversity dalam satu lanskap.
Bagi seorang rimbawan, hubungan itu terasa sangat dekat.
Hutan bukan kumpulan pohon.
Biodiversitas bukan daftar spesies.
Baca Juga A Forest Cannot Be Saved By Applause Alone
Konservasi bukan sekadar pagar kawasan.
Semuanya merupakan sistem kehidupan.
Putus satu bagian, bagian lain ikut merasakan akibatnya.
SILVERED LEAF MONKEY ITU
Saya kembali memperhatikan lutung kelabu yang bertengger di antara cabang-cabang pohon.
Tubuhnya abu-abu gelap.
Ekornya panjang.
Beberapa bergerombol seperti sedang rapat keluarga.
Bedanya dengan rapat manusia, tidak ada yang membawa PowerPoint.
Tidak ada moderator.
Tidak ada notulen.
Tetapi barangkali mereka jauh lebih konsisten menjalankan agenda:
makan, menjaga kelompok, berpindah, lalu bertahan hidup.
Baca Juga Hutan yang Tidak Cuku Diselamatkan dengan Tepuk Tangan
Di bawahnya manusia sibuk memotret.
Tidak jauh dari situ orang menikmati es krim.
Dari kejauhan lanskap Santubong tetap tenang.
Sore itu terasa seperti healing .
Tetapi bagi saya, ada sedikit lebih dari sekadar refreshing .
Kita datang dari kota untuk mencari ketenangan di alam.
Padahal setiap hari alam bekerja keras mempertahankan dirinya dari tekanan kota yang terus melebar.
Mungkin itu ironi manusia modern.
Ketika stres, kita mencari hutan.
Setelah tenang, kita pulang dan kadang lupa mengapa hutan tadi membuat kita tenang.
Karena itu healing seharusnya menghasilkan sedikit kesadaran.
Bukan hanya foto baru di galeri.
ES KRIM DAN LUTUNG
Menjelang perjalanan dilanjutkan, saya kembali melihat dua pemandangan sore itu.
Baca Juga Karhutla Jangan Menunggu Asap: Dari Mikrofon Satukata, Mari Menjaga Gambut
Di bawah, orang menikmati ice cream tempatan.
Di atas, lutung menikmati pohonnya.
Dua penghuni Santubong.
Satu hanya singgah.
Satu lagi bergantung pada lanskap itu untuk hidup.
Kami bisa pulang ketika cuaca terlalu panas.
Lutung tidak mempunyai pilihan semudah itu.
Barangkali karena itulah tugas manusia sebenarnya sederhana:
datanglah, nikmati, belajar, tetapi sisakan ruang agar penghuni aslinya tetap mempunyai rumah.
Gerai es krim tempatan berwarna merah muda dan biru di kawasan wisata Santubong. (Dok. Gusti Hardiansyah)
Es krim akhirnya habis.
Foto tersimpan di telepon.
Rombongan kembali bergerak.
Tetapi di atas cabang pohon Santubong, keluarga silvered leaf monkey itu tetap tinggal.
Dan mungkin justru merekalah yang paling tepat mengingatkan kita tentang arti sebuah geopark:
bukan tempat yang sekadar indah untuk dikunjungi, tetapi rumah yang harus tetap layak dihuni.
Baca Juga Zero Karhutla 2027: Jangan Tunggu Asap Datang
Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.