Sab, 08/08/26 · 13.10.17
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Desa Cendekia hingga Isu Strategis Dibawa ke Muktamar VIII

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Sabtu, 8 Agustus 2026 · 18:462 menit baca
ICMI Kalbar Evaluasi Kinerja, Desa Cendekia hingga Isu Strategis Dibawa ke Muktamar VIII
ICMI Orwil Kalbar gelar Rapat Pengurus Harian evaluasi kinerja, program Desa Cendekia Kapuas Hulu, dan persiapan rekomendasi Muktamar VIII ICMI Ambon. (Dok. Nusantara Post)

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Kalimantan Barat mengevaluasi kinerja tahun pertama kepengurusan sekaligus mempertajam arah program dan rekomendasi kebijakan daerah dalam Rapat Pengurus Harian di Pontianak, Sabtu (8/8/2026).

Rapat memusatkan pembahasan pada tiga agenda, yakni evaluasi kinerja dan program unggulan ICMI, persiapan SILAKDA/SILAKWIL dan Simposium Daerah, serta penyusunan rekomendasi ICMI Kalbar menuju Muktamar VIII ICMI di Ambon, Maluku, 4-6 Desember 2026.

Ketua ICMI Orwil Kalbar Gusti Hardiansyah menekankan bahwa evaluasi organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah manfaat program bagi masyarakat serta kejelasan tindak lanjutnya.

“Apa yang sudah kita kerjakan, apa yang belum selesai, mengapa belum selesai, dan setelah rapat ini siapa melakukan apa,” menjadi kerangka evaluasi yang ditekankan dalam forum.

ICMI Kalbar Integrasikan IPTEK dan IMTAQ Membangun Daerah
Baca Juga

ICMI Kalbar Integrasikan IPTEK dan IMTAQ Membangun Daerah

Salah satu perhatian utama ialah Desa Cendekia berbasis Pertambangan Rakyat di Desa Entibab, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Program tersebut dirancang mengintegrasikan IPTEK dan IMTAQ, antara lain melalui pengolahan emas tanpa merkuri, praktik pertambangan yang baik, reklamasi dengan tanaman lokal, pendidikan keselamatan kerja, serta penguatan kegiatan keagamaan.

Dokumen perkembangan program mencatat Desa Entibab berpenduduk 1.048 jiwa atau 313 keluarga dan berada dalam wilayah dengan 50 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Diskusi kemudian memperluas konsep Desa Cendekia. Peserta mengusulkan agar pengembangannya menyentuh air bersih, energi terbarukan, kesehatan, sanitasi, pendidikan, budaya, ekonomi masyarakat hingga pengelolaan lingkungan.

ICMI dipandang dapat mengambil posisi sebagai penghubung ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kolaborasi, bukan bekerja sendiri.

Desa Cendikia: Ketika Tambang Rakyat Menjadi Laboratorium Peradaban
Baca Juga

Desa Cendikia: Ketika Tambang Rakyat Menjadi Laboratorium Peradaban

Rapat juga membahas persiapan SILAKDA/SILAKWIL dan Simposium Daerah sebagai ruang konsolidasi organisasi sekaligus produksi gagasan kebijakan. Sejumlah isu mengemuka, mulai dari energi terbarukan, industri dan pariwisata halal, UMKM, kawasan perbatasan, pertambangan rakyat, karbon, lingkungan, hingga penguatan karakter dan generasi muda.

Menuju Muktamar VIII ICMI, Kalimantan Barat menyiapkan enam kelompok rekomendasi strategis, yaitu ketahanan pangan berbasis potensi lokal, transisi energi berkeadilan dan berkelanjutan, rekonsiliasi sosial dan penguatan etika publik, pemberdayaan ekonomi umat berbasis nilai Islam, penguatan ICMI sebagai think-tank kebijakan, serta pembangunan kawasan perbatasan Kalbar-Malaysia.

Forum tersebut sekaligus menegaskan arah kecendekiawanan yang ingin diperkuat ICMI Kalbar. Ilmu tidak boleh berhenti di ruang diskusi. Ia perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, kolaborasi dan solusi nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Dari evaluasi menuju aksi, ICMI Kalbar berupaya menempatkan kecendekiawanan bukan sekadar sebagai sumber gagasan, tetapi sebagai kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan bagi daerah, umat dan bangsa.

Penulis: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.