Potensi ekologis Perhutanan Sosial di Kalimantan Barat dinilai memerlukan pembuktian ilmiah agar dapat dikonversi menjadi kinerja mitigasi karbon yang kredibel dan diakui dalam sistem tata kelola nasional. Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) sekaligus Anggota Pokja REDD+ Kalbar, Prof. Gusti Hardiansyah, menegaskan bahwa persoalan utama daerah bukan terletak pada ketersediaan stok karbon.
“Masalah Kalimantan Barat bukan semata kekurangan karbon. Mata rantai dari aksi masyarakat, data, baseline, MRV, safeguards, registrasi, pembiayaan hingga benefit sharing belum sepenuhnya tersambung,” tegas Gusti Hardiansyah, Jumat (7/8).
Gusti menyoroti peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang berada paling dekat dengan tapak dan masyarakat Perhutanan Sosial. Menurutnya, KPH belum dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai garda terdepan karena informasi dan peta jalan operasional pasar karbon masih diterima secara terbatas.
“KPH berada paling dekat dengan tapak dan kelompok Perhutanan Sosial, sementara informasi tentang karbon masih diterima sepotong-sepotong. Jika KPH sendiri belum memperoleh peta jalan operasional yang jelas, sulit meminta masyarakat memahami baseline, additionality, leakage, permanence, developer, offtaker, atau registri karbon,” ungkapnya.

