Pagi ini Pontianak terasa sedikit berbeda. Kabut asap yang beberapa hari terakhir membuat langit seperti kehilangan warna mulai menurun kepekatannya. Hujan sporadis turun di sejumlah titik. Belum cukup untuk membuat kita menyatakan persoalan selesai, tetapi cukup untuk memberi paru-paru sedikit ruang dan mata sedikit jarak pandang.
Di meja saya, secangkir kopi liberika tanpa gula, saya menyebutnya koptagul, masih mengepulkan aroma khasnya. Saya menyeruput perlahan.
“Hujan datang juga,” ucap saya.
Tetapi hujan, sebagaimana kopi, tidak menyelesaikan semuanya.
Baca Juga Zero Karhutla 2027: Jangan Tunggu Asap Datang
Dalam kajian kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, hujan sesaat dapat membantu menekan api permukaan dan memperbaiki kualitas udara. Namun pada lanskap tertentu, terutama gambut, pekerjaan lapangan tidak otomatis berakhir ketika asap di kota mulai menipis. Pendinginan, patroli, pemeriksaan lapangan dan pengawasan kemungkinan api menyala kembali tetap diperlukan.
Itulah sebabnya perhatian saya justru tertuju pada apa yang berlangsung jauh dari meja kopi ini.
Di wilayah kerja PT Mayawana Persada dan kawasan sekitarnya, penanganan karhutla sedang bergerak dari pemadaman darat menuju penguatan respons yang lebih besar. Personel telah dikerahkan. Patroli dan pemantauan dilakukan. Ada pemadaman langsung, pendinginan, suplai air, penggunaan alat berat, bahkan operasi yang berlangsung hingga malam.
Namun satu pelajaran paling penting justru sederhana:
Karhutla tidak bisa ditangani sendiri.
Baca Juga Karhutla Jangan Menunggu Asap: Dari Mikrofon Satukata, Mari Menjaga Gambut
Api tidak pernah meminta izin sebelum melintasi batas konsesi. Ia juga tidak berhenti karena melihat plang batas desa. Apalagi bertanya kepada petugas, “Maaf Pak, ini kewenangan siapa?” Kalau api bisa berbicara begitu, barangkali urusan karhutla Kalimantan jauh lebih mudah. Karena itulah kolaborasi menjadi penting.
Dokumentasi lapangan Mayawana memperlihatkan personel perusahaan bersama Brigade UPT KPH Wilayah Kayong dan Masyarakat Peduli Api (MPA) melakukan briefing sebelum pemadaman. Ada alat berat, truk tangki, patroli malam dan pemadaman hingga malam hari. Menurut informasi lapangan perusahaan, kolaborasi penanganan di Desa Batu Barat juga melibatkan masyarakat, MPA, KPH Kayong, BPBD Kayong Utara serta unsur TNI.
Bagi saya, ini bukan sekadar soal siapa memakai seragam apa.
Masyarakat mengetahui medan. MPA mengenali lingkungan terdekatnya. KPH memahami kawasan. BPBD membawa fungsi penanggulangan bencana. TNI memperkuat mobilisasi lapangan. Perusahaan mempunyai personel, peralatan dan sumber daya operasional. Ketika semuanya bertemu pada satu titik api, sekat kelembagaan seharusnya ikut mencair. Sebab yang dibutuhkan selang pemadam bukan kartu nama. Yang dibutuhkannya air.
Ada pula cerita tentang sebuah embung di Desa Padu Banjar. Mayawana mendukung alat berat untuk pembangunan sumber air penanggulangan kebakaran di kawasan Hutan Lindung Gunung Palung melalui koordinasi dengan pemerintah desa, Yayasan Palung dan UPT KPH Kayong. Embung memang kalah gagah dibanding helikopter. Tidak ada baling-baling. Tidak ada suara mesin menggelegar.
Tetapi ketika kemarau panjang datang, saya kira kita akan sepakat bahwa air yang diam di sebuah embung dapat mempunyai nilai ekologis yang jauh lebih penting daripada banyak pidato tentang kepedulian lingkungan. Kini Mayawana memasuki tahapan berikutnya.
Perusahaan merencanakan penyediaan atau penyewaan helikopter dengan pembiayaan perusahaan untuk memperkuat pemadaman melalui water bombing. Sasaran utamanya ialah lokasi yang sulit dijangkau dari darat, mempunyai potensi penjalaran tinggi, atau membawa risiko serius terhadap masyarakat, lingkungan dan aset penting.
Baca Juga Ketika Kabut Menipis, Kebijakan Jangan Ikut Mengabur
Tetapi helikopter jangan dijadikan panggung. Ia adalah alat. Water bombing pun bukan obat segala penyakit karhutla. Pemadaman udara harus bekerja bersama tim darat. Sasaran perlu ditentukan melalui ground check, bukan semata-mata berdasarkan hotspot. Arah penjalaran api, kondisi gambut atau tanah mineral, angin, sumber air, akses tim darat dan keselamatan penerbangan harus diperhitungkan.
Lebih penting lagi, operasi tersebut harus berada dalam koordinasi pemerintah dan komando penanganan karhutla. Jadi jangan sampai helikopter terbang tinggi, tetapi koordinasi justru terbang ke mana-mana. Di situlah saya melihat persoalan yang lebih besar daripada Mayawana.
Selama ini perdebatan karhutla sering berubah menjadi perlombaan narasi. Perusahaan merasa diserang. NGO merasa temuannya diabaikan. Pemerintah berada di tengah. Masyarakat kebagian asapnya. Kita perlu mengubah arena perdebatan. Bukan siapa paling keras berbicara, melainkan siapa mempunyai bukti paling dapat diperiksa.
Jika perusahaan mengatakan telah memadamkan api, tunjukkan koordinatnya. Berapa personelnya? Berapa jam operasinya? Berapa pompa yang bekerja? Berapa luas yang sudah diverifikasi?
Jika helikopter mulai beroperasi, catat jumlah sortie, volume air, koordinat sasaran, waktu penerbangan dan hasil ground verification setelah water bombing. Sebaliknya, jika masyarakat sipil menemukan masalah, buka pula data, metode dan koordinat temuannya.
Lalu duduk bersama. Cocokkan. Kalau perusahaan salah, koreksi. Kalau kritik keliru, luruskan. Tidak perlu saling berteriak. Karena PBPH yang kredibel bukan PBPH yang tidak pernah dikritik. PBPH yang kredibel adalah pemegang izin yang bersedia membuka kinerjanya untuk diperiksa dan mempertanggungjawabkannya dengan data.
Saya kembali menyeruput koptagul. Di luar, hujan sporadis telah membantu menyapu sebagian pekat yang menggantung di udara Pontianak. Langit perlahan memperoleh warnanya kembali. Syukurlah. Tetapi kita tidak boleh menyerahkan tata kelola karhutla kepada hujan.
Baca Juga Tangani Karhutla, Kotawaringin Barat Dapat Tambahan Hibah Pusat Rp15 Miliar
Hujan adalah pertolongan alam. Pencegahan, kesiapsiagaan, kolaborasi dan akuntabilitas tetap pekerjaan manusia. Besok matahari akan kembali. Embung harus tetap berisi. MPA harus tetap siap. KPH, BPBD, TNI, masyarakat dan perusahaan harus tetap terhubung. Jika diperlukan, helikopter boleh terbang.
Dan di meja publik, satu hal harus selalu tersedia seperti secangkir koptagul pagi ini:
data yang pahit sekalipun, tetapi disajikan apa adanya. Sebab kopi tanpa gula tidak perlu berpura-pura manis. Begitu pula PBPH yang bertanggung jawab.
Penulis: GH
#Satupena
#JYM Jurnalis Yang Menyapa
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.