Kam, 16/07/26 · 19.22.19
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Idul Adha di Wonosobo: Ketika Takbir Bertemu Sindoro-Sumbing

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Rabu, 27 Mei 2026 · 22:463 menit baca
Idul Adha di Wonosobo: Ketika Takbir Bertemu Sindoro-Sumbing
Guru Besar Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah berbagi pengalaman merayakan Idul Adha 1447 H di Lapangan Garung, Wonosobo, kaki Gunung Sindoro-Sumbing. (Dok. Ig/rifsus_)

Pagi itu, Idul Adha 1447 H/2026 M tidak kami rayakan di Pontianak tercinta. Kami sekeluarga bergerak dari Kota Khatulistiwa, terbang dengan Super Air Jet menuju Yogyakarta via Kulon Progo, lalu menyusuri jalan menuju Wonosobo dengan Reborn solar.

Perjalanan itu bukan sekadar pindah tempat shalat Id, melainkan perjalanan batin: dari dataran Sungai Kapuas menuju kaki Gunung Sindoro-Sumbing, dari hiruk kota menuju kesunyian sejuk yang dipenuhi gema takbir.

Sekitar pukul 03.40 WIB, kami tiba di Lapangan Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar.

Subhanallah, khalayak telah memadati lokasi sejak pagi buta. Ribuan jamaah duduk rapi, sebagian meluber hingga teras rumah dan ruang UMKM masyarakat lokal. Di udara dingin Wonosobo, kalimat Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah terasa lebih dalam.

SRUK: Ketika Perang Karbon Indonesia Berhenti Jadi Trailer dan Akhirnya Masuk Layar Lebar
Baca Juga

SRUK: Ketika Perang Karbon Indonesia Berhenti Jadi Trailer dan Akhirnya Masuk Layar Lebar

Takbir tidak hanya terdengar, tetapi meresap ke dada. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan: kampung, gunung, jamaah, subuh berjemaah, dan rasa healing ruhani menyatu dalam satu hamparan lapangan.

Setelah fajar, kami tetap duduk, i’tikaf, bertakbir, bertahmid, menunggu shalat Idul Adha. Di titik itu, waktu terasa melambat. Hidup seperti dikembalikan kepada makna paling sederhana: duduk bersama keluarga, bersama umat, bersama alam, di bawah langit Allah.

Idul Adha memang selalu mengajarkan pengorbanan. Nabi Ibrahim alaihissalam memberi teladan bahwa cinta tertinggi bukan kepada harta, jabatan, atau bahkan keluarga, melainkan kepada Allah SWT.

Namun pagi di Wonosobo ini memberi lapisan makna tambahan: bahwa pengorbanan juga berarti kesediaan meninggalkan kenyamanan, menempuh perjalanan jauh, bangun dini hari, dan melebur dalam kebersamaan yang tulus.

Aroma Liberika dan Komitmen CSR untuk Kalimantan Barat
Baca Juga

Aroma Liberika dan Komitmen CSR untuk Kalimantan Barat

Setelah khatib menyelesaikan khutbah, kami menikmati kopi arabika, panganan lokal, dan bekal kue lapis legit Legita dari Pontianak. Rasanya sederhana, tetapi penuh kenangan.

Di sela silaturahim, maaf-maafan, dan obrolan ringan, saya melihat bagaimana ekonomi lokal bergerak secara alami. UMKM hidup, makanan khas tersaji, warga menjadi tuan rumah, dan tamu merasa diterima. Inilah wajah wisata religi yang tidak sekadar menjual panorama, tetapi merawat adab, keramahan, dan keberkahan.

Ketika mentari naik, jamaah mulai berfoto dengan latar Sindoro dan Sumbing. Drone pun diterbangkan. Galeri ponsel penuh dengan pose keluarga, lanskap gunung, dan senyum syukur.

Tetapi foto terbaik sesungguhnya bukan yang tersimpan di HP, melainkan yang tertanam di hati: wajah-wajah teduh setelah shalat, anak-anak yang belajar makna raya, dan keluarga yang merasakan nikmat Allah secara langsung.

Dari vila terdekat, kami melakukan video call dengan sanak keluarga di Pontianak. Pada saat yang sama, penyembelihan hewan qurban keluarga dari Fahutan Untan disiarkan langsung ke Wonosobo. Jarak Pontianak-Wonosobo seakan hilang.

Teknologi menjadi jembatan silaturahim. Qurban menjadi pengikat batin. Di situlah terasa bahwa keluarga, kampus, masyarakat, dan ibadah dapat menyatu dalam satu orbit keberkahan.

Guru Besar, Produk Lokal, dan Drama Nasional yang Sering Salah Panggung
Baca Juga

Guru Besar, Produk Lokal, dan Drama Nasional yang Sering Salah Panggung

Lapangan Garung hari itu bukan hanya lokasi shalat. Ia menjadi ruang kebangsaan kecil: ada warga lokal, wisatawan, keluarga perantau, pedagang, panitia, pemimpin daerah, dan ribuan jamaah yang tertib.

Semua hadir bukan karena komando kekuasaan, tetapi karena panggilan iman dan magnet alam. Indonesia seperti ini yang indah: religius, ramah, gotong royong, dan berakar pada kampung.

Maka Idul Adha di Wonosobo mengingatkan kita bahwa pembangunan daerah tidak boleh hanya mengejar beton dan angka statistik. Yang perlu dirawat adalah ruang spiritual, ekonomi rakyat, alam yang lestari, dan komunitas yang hangat.

Sindoro-Sumbing bukan sekadar latar foto; ia adalah pengingat bahwa manusia kecil di hadapan ciptaan Allah. Lapangan Garung bukan sekadar destinasi; ia adalah madrasah kebersamaan.

Saya pulang membawa rasa syukur. Dari Pontianak ke Wonosobo, dari Kapuas ke kaki gunung, dari takbir subuh ke kopi arabika, dari lapis legit ke qurban keluarga, semuanya menjadi satu kalimat batin: Barakallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.