Sab, 20/06/26 · 18.20.36
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Sabtu, 20 Juni 2026 · 22:345 menit baca
Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar
Catatan perjalanan ekologis Gusti Hardiansyah ke Batu Ampar, meninjau model Community Based Ecotourism berbasis komoditas lokal dan perlindungan mangrove Delta Kapuas. (Dok. Gusti Hardiansyah)

Subuh baru bergerak ketika longboat 200 PK yang didukung PBPH Wana Subur Lestari meluncur dari Dermaga Sei Kelabau menuju Batu Ampar, Kubu Raya. Rombongan terdiri atas Kepala Dinas LHK Kalbar, tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Kepala BPPEGM, serta para pihak yang sejak fajar membawa satu semangat: melihat langsung denyut pembangunan ekonomi dan wisata berkelanjutan di Desa Batu Ampar.

Di dalam tumbler, kopi liberika sudah disiapkan sebagai bekal perjalanan. Aromanya menjadi penanda awal bahwa Batu Ampar tidak hanya menyimpan mangrove dan bentang pesisir, tetapi juga cita rasa lokal yang dapat tumbuh menjadi identitas ekonomi desa.

Setibanya di Dermaga Batu Ampar, rombongan berhenti di warung kopi dermaga. Tempat sederhana itu kelak dapat disulap menjadi simpul wisata desa. Sambil menunggu Bupati Kubu Raya, Sujiwo, dan jajaran SKPD, kami menikmati kopi liberika sambil menyaksikan Piala Dunia Brasil melawan Haiti. Saat itu, tim Samba sudah unggul 3-0. Suasana pagi terasa santai, tetapi agenda hari itu serius.

Gerakan pagi Bupati dimulai dengan CUAN atau Clean Up Action. Bupati menyapa masyarakat Batu Ampar di lorong-lorong desa yang sibuk. Bersama warga, perangkat desa, camat, BPD, SKPD, akademisi, swasta, media, dan komunitas, gerakan membersihkan jalan, pasar, serta lorong dari sampah plastik, organik, dan anorganik dilakukan sebagai pendidikan publik. CUAN bukan hanya aksi bersih-bersih, tetapi cara membangun kesadaran kolektif.

WSL, Gambut, dan Pelajaran Pembangunan yang Bernapas
Baca Juga

WSL, Gambut, dan Pelajaran Pembangunan yang Bernapas

Sebelum rangkaian agenda berikutnya, rombongan melakukan penanaman pohon di titik strategis pusat Taman Desa Batu Ampar. Di tempat itu juga dilakukan penyerahan bibit dan 21 unit bak sampah yang sudah terbagi untuk sampah organik, anorganik, dan plastik. Desa wisata tidak cukup hanya indah secara lanskap. Desa wisata harus bersih, tertata, sehat, dan memiliki sistem pengelolaan sampah yang mudah dipahami masyarakat.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan pelatihan UMKM di balai desa. Inilah titik penting dalam pembangunan wisata berbasis masyarakat. Wisata tanpa UMKM hanya menghasilkan kunjungan, tetapi belum tentu menghasilkan nilai tambah ekonomi lokal. Melalui pelatihan ini, masyarakat disiapkan agar mampu mengolah produk, memperbaiki kemasan, meningkatkan layanan, dan menangkap peluang ekonomi dari tumbuhnya arus wisata.

Baru setelah itu, rombongan melanjutkan agenda gowes sepeda menyusuri ruang hidup masyarakat Batu Ampar. Gowes menjadi simbol bahwa pembangunan desa perlu bergerak, melihat langsung, menyapa warga, dan membaca potensi dari dekat. Dari kayuhan sepeda, terlihat bahwa Batu Ampar bukan hanya ruang administratif, tetapi ruang hidup yang sedang menata masa depan.

Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global
Baca Juga

Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global

Agenda berikutnya adalah penanaman kopi liberika. Kopi ini dapat menjadi komoditas khas yang menghubungkan ekowisata, agroforestri, budaya minum kopi, dan ekonomi rumah tangga. Setelah itu, rombongan meninjau kegiatan pembesaran kepiting. Di wilayah mangrove, kepiting bukan sekadar komoditas perikanan. Ia menjadi indikator bahwa ekosistem pesisir masih memiliki fungsi ekologis dan ekonomi.

Menjelang siang, rombongan meninjau Bukit Ilalang sekaligus makan siang di kawasan tersebut. Dari titik ini, Batu Ampar memperlihatkan wajah lain. Hamparan Imperata cylindrica yang menutupi perbukitan menghadirkan panorama yang unik dan menenangkan. Dari ketinggian, mata dimanjakan oleh bentangan laut, gugusan mangrove alami, serta lanskap pesisir Delta Kapuas yang masih hijau.

Bukit Ilalang dan bukit-bukit lainnya menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata pendakian, healing, dan refreshing. Tidak perlu mendaki gunung tinggi untuk menikmati keindahan alam. Cukup berjalan santai di bukit berilalang, menghirup udara segar, menikmati angin pesisir, lalu melihat hamparan laut berhutan mangrove dari atas ketinggian. Batu Ampar punya ruang jeda yang dibutuhkan banyak orang kota.

Pada sore hari, agenda berlanjut dengan penanaman kelapa genjah di Sungai Amoy. Komoditas ini dapat memperkuat ekonomi pekarangan, pangan lokal, dan lanskap produktif desa. Dari kopi liberika, kepiting, kelapa genjah, mangrove, bukit, hingga warung kopi dermaga, Batu Ampar punya bahan dasar yang cukup untuk membangun Community Based Ecotourism.

Pesan Bupati Sujiwo sejalan dengan konsep Community Based Ecotourism. Masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku utama pembangunan. Dalam pendekatan ini, keberhasilan destinasi wisata ditentukan oleh empat komponen utama atau 4A: Attraction, Accessibility, Amenities, dan Ancillary Services.

Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Global di WOC Bangkok, Harga Capai Rp595 Ribu per Kilogram
Baca Juga

Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Global di WOC Bangkok, Harga Capai Rp595 Ribu per Kilogram

Pertama, Attraction. Batu Ampar memiliki daya tarik lengkap, mulai dari hutan mangrove Delta Kapuas, wisata bahari, budidaya kepiting, kopi liberika, Bukit Ilalang, Bukit Batu Ampar, hingga panorama laut dari puncak bukit berilalang Imperata cylindrica.

Kedua, Accessibility. Bupati bersama para pihak mendorong peningkatan akses melalui penataan dermaga, jalan lingkar Batu Ampar, jalur sepeda, penerangan jalan umum, serta pengaturan longboat yang lebih nyaman dan terjadwal.

Ketiga, Amenities. Kehadiran UMKM, warung kopi dermaga, ruang publik desa, bak sampah terpilah, listrik desa, pelatihan masyarakat, serta fasilitas pendukung lainnya menjadi dasar kenyamanan wisatawan dan warga lokal.

Keempat, Ancillary Services. Kolaborasi Pemkab Kubu Raya, Pemprov Kalbar, BPPEGM, KPH, PBPH, BUMD, Bank Kalbar, DPRD, akademisi Untan, SAMPAN Kalimantan, PT Belantara Sejahtera Mandiri, media, dan masyarakat menjadi dukungan kelembagaan yang sangat menentukan.

Di titik ini, dukungan politik dan kelembagaan menjadi penting. Bang Agus Sudarmansyah dari Fraksi PDIP dan Bang Arifin dari Fraksi Nasdem tampak sangat antusias memberi dukungan agar rencana ini tidak berhenti sebagai seremoni. Keduanya melihat bahwa Batu Ampar membutuhkan langkah solutif dan nyata: lingkungan terjaga, ekonomi bergerak, UMKM hidup, wisata tumbuh, dan masyarakat memperoleh manfaat langsung.

Peran para pihak juga tidak kalah penting. Joni, Direktur PT Belantara Sejahtera Mandiri atau BSM, hadir sebagai salah satu kontributor strategis bersama SAMPAN Kalimantan dalam mendorong Delta Kapuas Project. Kolaborasi ini penting karena pembangunan hijau tidak dapat hanya bertumpu pada APBD. Ia memerlukan green financing, dukungan swasta, jejaring komunitas, pendampingan akademik, dan kebijakan pemerintah yang konsisten.

Batu Ampar perlu berdaulat dan bermartabat. Berdaulat karena masyarakatnya mampu mengelola potensi sendiri. Bermartabat karena pembangunan tidak merusak mangrove, tidak menciptakan zona kumuh, dan tidak mengorbankan identitas lokal.

Menutup Kebocoran Devisa, Jangan Membocorkan Kesejahteraan Petani
Baca Juga

Menutup Kebocoran Devisa, Jangan Membocorkan Kesejahteraan Petani

Pagi itu, kopi liberika bukan sekadar minuman. Ia menjadi simbol bahwa pembangunan besar sering dimulai dari hal sederhana: sapaan kepada warga, pohon yang ditanam, sampah yang dipilah, UMKM yang dilatih, bukit yang dijaga, dan desa yang percaya pada masa depannya sendiri.

Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Untan dan Tim RPPEM Kalbar

*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.