Temanggung memberi pelajaran lain: rezeki tidak hanya turun dari langit, tetapi tumbuh dari tanah, keringat, jejaring, dan keberanian membaca zaman. Setelah takbir menggema di kaki Sindoro-Sumbing, perjalanan kami berlanjut ke Sigandul View, salah satu best nature tourism yang kini viral di Jawa Tengah.
Di sana, sambil menyeruput kopi Arabica berasa wine hasil fermentasi lokal, saya mendengar kisah kewirausahaan yang sangat membumi. Hariyanto, owner Sigandul View, bukan lahir dari ruang seminar bisnis berpendingin udara. Ia bertumbuh dari dunia petani pribumi pekerja keras: tembakau, hortikultura, kopi, lalu melompat ke cuci mobil, wisata alam Taman Posong, camping ground, vila, hingga jasa eco-tourism yang hidup bersama lanskap pegunungan. Inilah wajah entrepreneurship desa yang sering luput dari panggung teori. Ia tidak mulai dari jargon, tetapi dari ketekunan.
Tidak mulai dari modal besar, tetapi dari kepekaan melihat peluang. Tidak mulai dari gaya hidup, tetapi dari kesediaan bangun lebih pagi, jatuh lebih sering, dan mencoba lagi ketika orang lain sudah berhenti. Sigandul View menarik bukan semata karena jembatan kaca, spot foto, taman kelinci, kolam ikan, vila, atau pemandangan Sindoro-Sumbing. Daya tarik terdalamnya adalah narasi perubahan: bagaimana seorang petani dapat naik kelas menjadi penggerak ekonomi jasa berbasis alam. Dari kebun lahir pengalaman. Dari kopi lahir cerita. Dari gunung lahir destinasi. Dari kampung lahir kebanggaan. Bagi Gen Z, pesan ini penting. Dunia hari ini semakin kompetitif.
Gelar akademik penting, tetapi tidak cukup. Koneksi digital penting, tetapi tidak menggantikan daya juang. Kreativitas penting, tetapi harus bertemu dengan disiplin eksekusi. Banyak anak muda ingin cepat viral, tetapi lupa bahwa sesuatu yang tahan lama selalu dibangun dari akar yang kuat. Sigandul View mengajarkan bahwa desa bukan halaman belakang pembangunan. Desa dapat menjadi laboratorium masa depan. Di sana ada alam, pangan, kopi, hortikultura, budaya, keramahan, dan pengalaman otentik yang dicari masyarakat kota.
Potensi Kontribusi Calon Cagar Biosfer MATA PANDAWA terhadap Peningkatan IPM Kalimantan Barat
Ketika semua itu dikemas dengan baik, lahirlah nilai tambah. Petani tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi menjual pengalaman, cerita, dan keberlanjutan. Namun, ekowisata tidak boleh sekadar menjadi mesin selfie. Ia harus menjaga daya dukung lingkungan, tata kelola sampah, air bersih, keselamatan pengunjung, pemberdayaan warga lokal, dan keberlanjutan lanskap. Jika alam rusak, pariwisata runtuh. Jika warga hanya menjadi penonton, destinasi kehilangan ruh. Jika keuntungan hanya berputar di elite kecil, maka wisata kehilangan makna sosialnya. Karena itu, kisah Sigandul View layak dibaca sebagai pelajaran ekonomi hijau rakyat.
Bukan ekonomi hijau yang jauh di dokumen, tetapi yang tumbuh dari kopi fermentasi, kebun sayur, jalan desa, vila kecil, UMKM lokal, dan keluarga yang bekerja bersama. Di sana ada modal sosial, modal alam, dan modal spiritual yang bertemu dalam satu lanskap. Iduladha mengajarkan qurban. Sigandul View mengajarkan ikhtiar. Keduanya bertemu dalam satu pesan: hidup yang bernilai selalu menuntut sesuatu untuk dikorbankan—waktu, tenaga, ego, rasa takut, dan zona nyaman. Nabi Ibrahim alaihissalam mengajarkan kepatuhan total kepada Allah. Para petani pekerja keras mengajarkan kepatuhan kepada proses. Maka, dari Wonosobo ke Temanggung, saya melihat Indonesia yang optimistis. Indonesia yang tidak hanya menunggu investor besar, tetapi membangun dari tangan-tangan lokal. Indonesia yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi merawatnya. Indonesia yang tidak hanya bicara bonus demografi, tetapi menyiapkan Gen Z menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.
Di tengah udara sejuk Sigandul View, secangkir Arabica winey terasa seperti metafora: rasa terbaik lahir dari proses panjang, fermentasi sabar, dan pengolahan yang tepat. Begitu pula manusia, usaha, dan bangsa. Tidak ada kematangan tanpa proses. Tidak ada keberkahan tanpa kerja. Tidak ada masa depan tanpa keberanian memulai. Barakallah untuk para petani, pelaku UMKM, pemilik usaha lokal, dan generasi muda yang mau belajar dari tanahnya sendiri. Dari kaki Sindoro-Sumbing, kita menangkap pesan sederhana tetapi kuat: bertani boleh sederhana, tetapi berpikir harus mendunia; tinggal di desa boleh, tetapi visi harus melampaui gunung; menjadi anak muda boleh kreatif, tetapi akar akhlak dan kerja keras jangan pernah tercerabut.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
