Provinsi Kalimantan Selatan mencatatkan 18 temuan kasus influenza A(H3N2) subclade K atau yang kerap dijuluki super flu sejak awal Januari 2026, menempatkan wilayah ini sebagai daerah dengan sebaran kasus tertinggi di Indonesia bersama Jawa Timur, Kamis, (24/9/2026).
Secara nasional, mutasi virus influenza tersebut telah teridentifikasi menjangkiti pasien di 13 provinsi berdasarkan data kumulatif yang dihimpun dalam Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 Kementerian Kesehatan per 19 September 2026 atau pekan ke-37.
Nomenklatur medis serta rentang waktu pencatatan data epidemiologi tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.
“Yang digunakan istilahnya Influenza tipe A(H3N2) subclade K. Data tersebut merupakan data kumulatif dari Januari 2026,” ucap Aji Muhawarman, Rabu, (23/9/2026).
Berdasarkan rekapitulasi data Kementerian Kesehatan, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur memimpin sebaran kasus dengan masing-masing 18 kasus, disusul Jawa Barat (12 kasus), DKI Jakarta (11 kasus), Sumatera Selatan (5 kasus), Sumatera Utara (3 kasus), Bali (2 kasus), serta Nusa Tenggara Timur (2 kasus). Sementara NTB, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan DI Yogyakarta masing-masing melaporkan 1 kasus.
Tingginya potensi keparahan gejala infeksi pada kelompok rentan dianalisis oleh Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Nastiti Kaswandani. Faktor batas usia yang rentan mengalami perburukan kondisi klinis diterangkan dalam pemaparannya.
“Kelompok risiko tinggi kalau dari segi usia, kelompok risiko tinggi ada dua, yang pertama adalah balita, kemudian lansia, itu adalah kelompok risiko tinggi kalau terkena infeksi influenza, dia bisa menimbulkan keparahan yang lebih tinggi daripada kelompok pasien yang lain,” ujar Nastiti Kaswandani.
Kerentanan ekstra juga mengintai individu dengan riwayat penyakit penyerta (komorbid) seperti penyakit jantung, kanker, infeksi HIV, hingga pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem kekebalan tubuh akibat gangguan autoimun.
Efektivitas vaksinasi influenza tahunan dalam memberikan perlindungan terhadap varian baru ditekankan sebagai penutup keterangannya.
“Imunisasi influenza masih bisa menurunkan penularan dan keparahan, jadi belum ada bukti bahwa, Subclade K ini kebal atau tidak mempan atau tetap menginfeksi pada orang-orang yang sudah diimunisasi,” tandasnya.
Masyarakat diimbau tetap menjalankan pola hidup bersih dan sehat, membatasi kontak saat mengalami gejala demam dan flu, serta melengkapi imunisasi influenza guna mengantisipasi penularan subclade K yang kian meluas.
(Roska)