Jum, 24/07/26 · 20.32.06
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Karhutla 29 Hektar Teror Pusat Orangutan YIARI Ketapang, Satgas Karhutla Lakukan Operasi Pemadaman Udara

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 25 Juli 2026 · 01:062 menit baca
Karhutla 29 Hektar Teror Pusat Orangutan YIARI Ketapang, Satgas Karhutla Lakukan Operasi Pemadaman Udara
Karhutla seluas 29 hektare di Ketapang mendekati pusat rehabilitasi orangutan YIARI. Tim gabungan dan helikopter water bombing dikerahkan memadamkan api. (Dok. YIARI)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengamuk di wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kali ini, kobaran api berjarak hanya satu kilometer dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, memaksa tim gabungan berjibaku melakukan pemadaman darat dan udara untuk mencegah bencana ekologis darurat.

Api pertama kali terdeteksi pada Rabu (22/7/2026) di Jalan Ketapang-Tanjungpura Km 5. Kondisi cuaca kering yang disertai hembusan angin kencang membuat api berekspansi dengan cepat. Berdasarkan pemetaan sementara, luas area yang hangus terbakar diperkirakan telah mencapai 29 hektare.

Merespons kedekatan titik api dengan fasilitas satwa dilindungi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung mengerahkan helikopter water bombing. Manuver udara ini difokuskan untuk menggempur titik-titik api yang sulit ditembus oleh Satgas Karhutla jalur darat yang terdiri dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, KPH Ketapang Selatan, serta unsur swasta. Bagi YIARI, eskalasi api ini memicu status siaga satu. Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, menyatakan pihaknya langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat secara penuh.

“Keselamatan satwa yang sedang menjalani rehabilitasi menjadi prioritas utama kami. Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orang utan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan,” tegas Argitoe.

Antisipasi El Nino, Kementerian Kehutanan Patroli 24 Desa Rawan Karhutla Kalbar
Baca Juga

Antisipasi El Nino, Kementerian Kehutanan Patroli 24 Desa Rawan Karhutla Kalbar

Hingga saat ini, YIARI memastikan seluruh orangutan berada dalam kondisi aman di bawah pemantauan ketat tim dokter hewan dan animal keeper.

Selain mengancam nyawa satwa liar dan merusak ekosistem hutan, kepungan asap karhutla ini turut membawa krisis kesehatan langsung bagi masyarakat Ketapang.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Ketapang, Simon Yosonegoro Liem, memperingatkan bahwa kualitas udara yang memburuk tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menyoroti kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita asma sebagai pihak yang paling dirugikan.

Musim Kemarau, BNPB Catat Maraknya Karhutla di Papua Barat Daya dan Jawa
Baca Juga

Musim Kemarau, BNPB Catat Maraknya Karhutla di Papua Barat Daya dan Jawa

“Selain mengancam kelestarian hutan dan satwa liar, asap akibat kebakaran hutan dan lahan juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memperburuk gangguan pernapasan, serta meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),” jelas Simon.

Di garis depan pemadaman, Plt. Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, menekankan bahwa operasi penanggulangan ini bukan sekadar memadamkan api, melainkan benteng pertahanan untuk melindungi masyarakat dan habitat satwa. Efendi dengan tegas memberikan peringatan keras terkait kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar, yang sering kali menjadi pemicu utama bencana musiman ini.

“Penanganan karhutla ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam melindungi hutan, satwa liar, dan keselamatan masyarakat. Kami menghimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun, serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin,” tegas Efendi.

Hingga berita ini diturunkan, Satgas Karhutla gabungan masih bersiaga di lokasi. Pemantauan dan patroli intensif terus dilakukan mengingat tingginya risiko api kembali menyala (flare up) di tengah puncak musim kemarau. Masyarakat diminta untuk segera melapor kepada pihak berwajib jika melihat titik api sekecil apapun, demi memutus rantai penyebaran sebelum api kembali tidak terkendali.

(Hendrawan)