Guyuran hujan lebat yang membasahi Kota Pontianak pada Rabu (7/10/2026) malam berhasil meredam kepekatan kabut asap, meski kualitas udara di ibu kota Kalimantan Barat ini terpantau belum sepenuhnya terbebas dari ancaman polutan beracun.
Berdasarkan pemutakhiran data instrumen pemantau IQAir pada pukul 21.00 WIB, Indeks Kualitas Udara di Pontianak tercatat berada di angka 199 dengan status ‘Tidak Sehat’. Parameter pencemar utama masih didominasi oleh konsentrasi partikel debu halus Particulate Matter 2.5 sebesar 124 µg/m³. Kondisi ini berlangsung di tengah suhu udara 25 derajat Celcius, kelembapan tinggi mencapai 86 persen, dan kecepatan angin lambat 4 km/jam.

Anjloknya indeks polusi dari kategori ekstrem ‘Berbahaya’ pada malam sebelumnya ke zona ‘Tidak Sehat’ malam ini bukanlah penanda bahwa ekosistem lahan gambut telah pulih total dari kebakaran, melainkan murni dampak pembilasan partikulat oleh presipitasi air hujan di lapisan atmosfer. Meskipun grafik prakiraan per jam menunjukkan kecenderungan angka polusi melandai bertahap hingga esok pagi, konsentrasi PM2.5 di level 124 µg/m³ tetap berada jauh di atas ambang batas aman bagi kesehatan paru-paru.

